Serba Serbi Shogakko (2) [Berangkat dan Pulang Sekolah]

Standard

Tiga hari berturut-turut sejak kejadian itu, setiap pagi di pos pemberangkatan yang baru selalu ada perwakilan dari pihak sekolah. Hari pertama, langsung Bapak Kepala Sekolah yang mendampingi anak-anak. Hari ke dua dan ke tiga berturut-turut, Ibu Guru dan Bapak Guru ikut jalan kaki menuju sekolah menemani anak-anak. Pihak sekolah ingin memastikan anak-anak selamat sampai di kelas masing-masing.

Mengenai orang yang tindakannya meresahkan kami para orang tua, dan membuat kami mengganti rute berangkat sekolah, rupanya bukan sekadar orang yang lewat. Namun penghuni salah satu apato dekat pos berangkat sebelumnya. Meski sudah ditegur langsung pihak polisi dan yang bersangkutan menyesali juga berjanji tidak akan mengulanginya, kami sebisa mungkin tetap menghindari jalanan itu.

Baru beberapa hari merasa sedikit lebih lega tiap mengantarkan si sulung ke pos grupnya, enam hari lalu pukul tujuh pagi, kami semua mendapat email yang memberitahukan adanya tindakan penembakan di sekitar Sasagi. Tidak begitu jauh dari Higashi yang merupakan lokasi sekolah. Pihak sekolah meminta kerjasama orang tua untuk mengawasi anak-anak selama berangkat dan pulang sekolah. Tentu pihak sekolah pun terjun langsung. Ada beberapa guru yang patroli di setiap rute. Ada perwakilan orang tua yang menemani anak-anak sampai ke sekolah. Suasana pagi kembali ramai. Demikian juga dengan suasana sore saat anak-anak pulang. Di beberapa titik sepanjang rute, ada orang tua yang berjaga-jaga. Dan anak-anak pulang didampingi guru. Untuk jalur komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua murid, juga kerjasama keduanya memang terbilang hebat. Semua pihak bertindak cepat dengan komando yang jelas. Salut untuk hal ini.

Lebih jelasnya mengenai berangkat dan pulang sekolah yang menjadi pengalaman si sulung di sekolahnya, berikut poin-poinnya:

Berangkat sekolah,
1) Anak-anak yang tinggal tidak begitu jauh dari sekolah akan berangkat dengan berjalan kaki dengan rute menyisir jalan utama demi keamanan.
2) Anak-anak dibagi ke dalam beberapa grup berdasarkan tempat tinggal. Jadi anak-anak yang berdekatan rumahnya akan berangkat bersama. Teknisnya mereka berkumpul di satu titik dalam waktu yang telah ditentukan. Dan bila sampai batas waktu tersebut belum sampai di pos, maka grup tetap akan berangkat tanpa menunggu lagi.
3) Setiap grup terdiri dari beberapa murid yang beragam tingkatan kelasnya. Karena yang utama adalah dekatnya tempat tinggal satu sama lain. Setiap grup akan dipimpin oleh ketua grup yang merupakan murid dari kelas paling tinggi yang ada di grup tersebut. Misal, satu grup terdiri dari murid kelas 1,3,5. Maka yang jadi ketua grup adalah murid kelas 5. Bila ada anggota grup yang tidak bisa sekolah karena alasan sakit atau lainnya, maka orang tua murid akan menitipkan surat ijin tidak masuk sekolah dan buku penghubung ke ketua grup untuk disampaikan ke wali kelas yang bersangkutan. Nanti, saat pulangnya, ketua grup ini akan kembali membawa buku penghubung dari wali kelas tersebut dan diserahkan kembali ke orang tua anak yang tidak masuk sekolah tadi. Jadi bila ada tugas atau info dari sekolah tetap tersampaikan.
4. Khusus untuk murid kelas satu, mereka dibekali beberapa kelengkapan untuk keselamatan dan juga untuk memudahkan pendistribusian grup saat pulang sekolah.
-黄色帽子 (kiiro boushi). Topi kuning khusus kelas satu. Di bagian atas topi kuning ini, dipasang pita dengan warna yang berbeda untuk murid yang berjalan kaki, yang berkendaraan ke sekolah, juga yang masuk jidoukan saat pulang sekolah.
-ランドセルカバー yaitu cover untuk randoseru (tas khusus anak SD) yang berwarna terang dan mencolok. Sengaja dipakai menandakan mereka adalah anak kelas satu yang baru belajar berangkat ke sekolah sendiri. Berjalan menyebrang dan melewati beberapa perempatan jalan. Sehingga para pengemudi kendaraan pun bisa mudah mengenali mereka dan bisa lebih berhati-hati.
-防犯ブザー (bouhan buzaa), crime prevention buzzer, yaitu salah satu alat keamanan, yang bila ditarik akan menghasilkan bunyi yang lumayan keras. Tujuannya bila dalam keadaan bahaya, bunyi alat tersebut bisa terdengar orang-orang disekitar untuk datang membantu. Alat ini dipasang di randoseru masing-masing dan harus dibawa setiap hari.
5) Setiap hari secara bergantian beberapa orang tua murid berjaga di satu pos dalam rute berangkat anak-anak. Pos ini terletak di tengah rute dan tepat di perempatan tempat anak-anak menyebrang di tengah ramainya kendaraan yang berangkat bekerja. Orang tua yang mendapat giliran tugas ini akan menuliskan hasil pantauan masing-masing terhadap keamanan dan ketertiban semua grup selama perjalanan ke sekolah. Intinya memastikan semua grup sampai dengan baik dan selamat ke sekolah.

Pulang sekolah,
1) Dua pekan di awal masuk sekolah, kami mendapatkan tugas bergiliran sebagai ‘omukaeri touban’ yaitu bertugas menjemput anak di sekolah. Jadi selama dua pekan tersebut ada perwakilan orang tua dari berbagai wilayah untuk menjemput anak-anak dan memastikan semuanya sampai di rumah masing-masing dan disambut orang tuanya. Orang tua yang mendapat giliran tugas ini harus sudah siap di depan kelas, lima menit sebelum jam belajar berakhir. Dan harus memakai name tag PTA biar mudah dikenali pihak sekolah.
2) Bila ada murid yang sampai di depan rumahnya namun orang tua atau keluarganya belum terlihat, maka semuanya tetap menunggu sampai anak tersebut sampai di tangan keluarganya dengan aman. Tidak boleh ditinggal sendirian.
3) Omukaeri touban hanya dilakukan selama dua pekan awal. Setelahnya anak-anak pulang bersama grup wilayah masing-masing yang ditandai dengan warna pita di atas topi kuning yang mereka kenakan. Jadi grup pulang sekolah ini berbeda dengan grup berangkat. Grup pulang hanya terdiri dari anak-anak kelas 1.
4) Dua pekan awal bulan ini (Mei) masih ada beberapa orang tua yang menunggu anaknya di sekitar rute pulang. Namun, mulai pekan ketiga anak-anak pulang sendiri sampai rumah masing-masing. Untuk saya pribadi, meski jadwal pulang TK dan SD sama-sama pukul tiga, saya tetap mengusahakan untuk tiba di tempat biasa saya menunggu si sulung pulang. Jadi dari TK langsung jalan menuju rute pulang anak-anak SD atau seringnya berbagi tugas dengan suami. Sampai titik tertentu si sulung masih jalan bersama tiga temannya. Setelahnya ia jalan sendirian karena tempat tinggal kami yang paling jauh.

Ya, kemandirian memang terlihat jelas menjadi salah satu pembelajaran penting di sekolah-sekolah di sini. Tak hanya soal belajar berangkat sendiri ke sekolah, anak-anak pun dilatih untuk bertanggung jawab membawa barang-barangnya sendiri seberat apapun itu. Misal saja kamis lalu, si sulung dan teman-temannya membawa kursi lipat dari sekolah. Di rumah hanya diminta dinamai sembari diperlihatkan pada orang tuanya dan besoknya kembali dibawa ke sekolah. Tidak terlalu berat memang, tapi dengan dimensinya yang cukup besar, dan melihat mereka membawanya bolak balik ke sekolah dengan berjalan kaki kadang rasa kasihan itu ada. Belum lagi dengan bawaan penuh di randoserunya, botol minuman dan bentou. Tapi salutnya, anak-anak ceria saja sepanjang jalan. Kadang berlarian dengan penuh tawa, sambil tetap menjaga satu grupnya jalan bersamaan.

13245429_1410040045673974_8078679562104684910_n

Saat omukaeri touban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s