Serba Serbi Shogakko (1) [Bergantinya Rute Berangkat Sekolah]

Standard

Sepekan menjelang masuk sekolah, saya mendapatkan beberapa lembar surat mengenai rute berangkat sekolah lengkap dengan pos-pos pertemuan per grup. Jadi setiap anak akan berangkat bersama dengan teman-teman segrupnya yang memang dikelompokkan berdasarkan jarak rumah masing-masing. Tahun ini saya lihat ada 26 grup. Tentu pembagian grup ini hanya berlaku untuk murid yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah. Sehingga masih memungkinkan dijangkau dengan berjalan kaki. Untuk yang tinggal agak jauh, bisa dengan berkendaraan, baik kendaraan pribadi maupun umum.

Jarak dari apato ke sekolah sebetulnya bisa ditempuh dengan waktu 15 menit bila berjalan kaki melewati taman. Tapi, menyisir taman jelas bukan jalan yang aman. Rute setiap grup itu mengutamakan jalan utama demi keamanan. Jadi rute si sulung bersama 5 orang teman grupnya (terdiri dari murid kelas 3,4,5 dan 6) ditempuh dalam hitungan 25-30 menit menyusuri jalan utama yang ramai kendaraan. Dan merujuk ke rute yang didapat, apato kami menjadi paling jauh, dengan arti lain, si sulung yang terakhir sampai di rumah bila pulang sekolah

Sepekan awal jelas saya sangat khawatir. Jarak dan waktu tempuh ke sekolah yang cukup lama dengan barang bawaan yang beneran banyak kadang membuat saya gak tega melihatnya. Tapi ini lah proses pembelajaran yang harus dilaluinya. Yang harus saya dukung dengan terus menyemangatinya, terlebih di hari kelima ia sudah mengeluh pegal dan sakit kaki.

Saat saya sudah merasa mulai terbiasa dengan rutinitas pagi melepas si sulung bersama grupnya, tiba-tiba Sabtu malam, beberapa orang tua teman segrupnya si sulung datang ke rumah untuk menyampaikan suatu kabar yang menyalakan kembali kekhawatiran saya. Ada seorang ibu yang melihat gerak-gerik yang mencurigakan dari seorang laki-laki di sekitar rute pemberangkatan grup anak-anak kami. Laki-laki itu memperlihatkan suatu tindakan yang tidak senonoh dan kerap mengamati anak-anak saat berkumpul di pos pemberangkatan. Kebetulan grup si sulung ini terdiri dari 5 siswi dan 1 siswa. Terang saja para ibunya jadi khawatir. Salah seorang dari kami yang memang melihat langsung gerak gerik laki-laki itu langsung menghubungi polisi. Sabtu malam itu juga para orang tua mengubah rute pemberangkatan khusus untuk grup kami.

Kemarin, Senin pagi, anak-anak satu grup ini berjalan masing-masing menuju pos pertemuan baru yang lebih aman, lebih ramai. Beberapa ibu menemani sampai ke pos pemberangkatan termasuk saya. Salutnya, hal seperti ini akan cepat ditangani semua pihak melalui jalur komunikasi yang telah disusun. Pagi itu, tidak hanya kami yang menemani anak-anak di pos barunya. Ada anggota PTA yang memang bertanggungjawab dalam pendistribusian grup dan rute masing-masing grup untuk wilayah Inarimae, ada polisi yang setia berpatroli, dan tentunya ada bapak kepala sekolah yang menghampiri kami dan meminta maaf untuk ketidakamanan dan ketidaknyaman ini padahal jelas bukan salahnya beliau. Awalnya saya berpikir hal semacam ini hanya akan tembus sampai PTA. Tak disangka, kepala sekolah langsung datang pagi hari di pos kami sambil memastikan anak-anak berangkat dengan aman. Dan hari ini kami mendapat kabar, langsung dari kepala sekolah bahwa pihak polisi sudah menemui laki-laki itu dan menegurnya. Menurut info dari pihak polisi, orang itu sudah menyesali dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Namun kami tetap berhati-hati dan tentu tetap dengan rute baru kami.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s