Belajar Mencintai Al-Quran (2)

Standard

Kita lanjut ya, Kak, obrolan hangat kita. Pagi ini, Ummi mau berbagi sedikit info yang Ummi dapatkan saat Ummi membaca beberapa link mengenai keutamaan mempelajari al-Quran. Sebetulnya, dalam mempelajari ilmu agama terlebih al-Quran kita tidak bisa otodidak atau berguru pada internet. Kita harus menjadi bagian dari majelis ilmu yang langsung dipimpin oleh seorang guru (Ustadz/Ustadzah). Nanti kalau Kakak dan adik-adik sudah menemukan seorang guru dan mempelajari banyak hal tentang Dinul Islam, share ilmunya ke Ummi yaa🙂

Baiklah, untuk sementara kita mencoba memetik ilmu dari beberapa keterangan yang sudah disarikan ini ya. Tentu kita mulai setiap ikhtiyar dengan basmalah dulu, Yuk!

Bismillahirrohmaanirrohiiim

Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Hajjaj bin Minhal dari Syu’bah dari Alqamah bin Martsad dari Sa’ad bin Ubaidah dari Abu Abdirrahman As-Sulami dari Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” [1]

Masih dalam hadits riwayat Al-Bukhari dari Utsman bin Affan, tetapi dalam redaksi yang agak berbeda, disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

            “Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”  [2]

Dalam dua hadits di atas, terdapat dua amalan yang dapat membuat seorang muslim menjadi yang terbaik di antara saudara-saudaranya sesama muslim lainnya, yaitu belajar Al-Qur`an dan mengajarkan Al-Qur`an. Tentu, baik belajar ataupun mengajar yang dapat membuat seseorang menjadi yang terbaik di sini, tidak bisa lepas dari keutamaan Al-Qur`an itu sendiri.

Maksud dari belajar Al-Qur`an di sini, yaitu mempelajari cara membaca Al-Qur`an. Bukan mempelajari tafsir Al-Qur`an, asbabun nuzulnya, nasikh mansukhnya, balaghahnya, atau ilmu-ilmu lain dalam ulumul Qur`an. Meskipun ilmu-ilmu Al-Qur`an ini juga penting dipelajari, namun hadits ini menyebutkan bahwa mempelajari Al-Qur`an adalah lebih utama. Mempelajari Al-Qur`an adalah belajar membaca Al-Qur`an dengan disertai hukum tajwidnya, agar dapat membaca Al-Qur`an secara tartil dan benar seperti ketika Al-Qur`an diturunkan. Karena Allah dan Rasul-Nya sangat menyukai seorang muslim yang pandai membaca Al-Qur`an. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

 الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ . (متفق عليه)

            “Orang yang pandai membaca Al-Qur`an, dia bersama para malaikat yang mulia dan patuh. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur`an dengan terbata-bata dan berat melafalkannya, maka dia mendapat dua pahala.” (Muttafaq ‘Alaih) [3]

            Dan dalam Al-Qur`an disebutkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membaca Al-Qur`an dengan tartil,

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا . (المزمل : 4)

            “Dan bacalah Al-Qur`an dengan tartil.” (Al-Muzzammil: 4)

            Adapun maksud dari mengajarkan Al-Qur`an, yaitu mengajari orang lain cara membaca Al-Qur`an yang benar berdasarkan hukum tajwid. Sekiranya mengajarkan ilmu-ilmu lain secara umum atau menyampaikan sebagian ilmu yang dimiliki kepada orang lain adalah perbuatan mulia dan mendapatkan pahala dari Allah, tentu mengajarkan Al-Qur`an lebih utama.

***
[1] Shahih Al-Bukhari/Kitab Fadha`il Al-Qur`an/Bab Khairukum Man Ta’allama Al-Qur`an wa ‘Allamah/hadits nomor 5027.

[2] Ibid, 5028.

[3] Shahih Al-Bukhari/Kitab Tafsir Al-Qur`an/Bab ‘Abasa wa Tawalla/4556, dan Shahih Muslim/Kitab Al-Musafirin/Bab Fadhl Al-Mahir fi Al-Qur`an/1329, dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

Kak, Athifa, Haifa, salah satu kesempurnaan iman kita kepada al-Quran adalah senantiasa membacanya dengan sebenar-benar bacaan. Sebagaimana firman Alloh SWT dalam surat Al-Baqoroh ayat 121,

 الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

Oya, bagaimana ya membaca al-Quran secara tartil itu? Ini Ummi salin tulisan Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com).

Berikut beberapa keterangan sahabat tentang makna tartil,

Ali bin Abi Thalib menjelaskan makna tartil dalam ayat,

”Mentajwidkan huruf-hurufnya dengan mengetahui tempat-tempat berhentinya”. (Syarh Mandhumah Al-Jazariyah, hlm. 13)

Ibnu Abbas mengatakan,

بينه تبييناً

Dibaca dengan jelas setiap hurufnya.

Abu Ishaq mengatakan,

والتبيين لا يتم بأن يعجل في القرآة، وإنما يتم التبيين بأن يُبيِّن جميع الحروف ويوفيها حقها من الإشباع

Membaca dengan jelas tidak mungkin bisa dilakukan jika membacanya terburu-buru. Membaca dengan jelas hanya bisa dilakukan jika dia menyebut semua huruf, dan memenuhi cara pembacaan huruf dengan benar. (Lisan al-Arab, 11/265).

Inti tartil dalam membaca adalah membacanya pelan-pelan, jelas setiap hurufnya, tanpa berlebihan. (Kitab al-Adab, as-Syalhub, hlm. 12)

Cara Ibnu Mas’ud Membaca al-Quran

Abu Bakr dan Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah menyampaikan kabar gembira kepada Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضاًّ كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأَهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

Siapa yang ingin membaca al-Quran dengan pelan sebagaimana ketika dia diturunkan, hendaknya dia membacanya sebagaimana cara membacanya Ibnu Mas’ud. (HR. Ahmad 36, dan Ibnu Hibban 7066).

Hadis ini menunjukkan keistimewaan bacaan al-Quran Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Karena bacaannya sama dengan ketika al-Quran di turunkan. Beliau membacanya dengan cara ‘ghaddan’ artinya segar yang belum berubah. Maksudnya suaranya menyentuh (as-Shaut an-Nafidz) dan memenuhi semua hak hurufnya.

Untuk itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendengar bacaan Ibnu Mas’ud, dan bahkan hingga beliau menangis.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bercerita, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruhnya untuk membaca al-Quran,

“Bacakan al-Quran!” Pinta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Ya Rasulullah, apakah akan membacakan al-Quran di hadapan anda padahal al-Quran turun kepada anda?” tanya Ibnu Mas’ud.

“Ya, bacakan.”

Kemudian Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisa, hingga ketika sampai di ayat,

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا

Bagaimanakah jika Aku datangkan saksi untuk setiap umat, Aku datangkan kamu sebagai saksi bagi mereka semua.

Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam minta agar bacaan dihentikan.

Ibnu Mas’ud melihat ke arahnya, ternyata air mata beliau berlinangan. (HR. Bukhari 5050 & Muslim 1905).

Allahu a’lam.

***
Alhamdulillahirobbil’aalamiiin, ini barusan saat Ummi mencari penjelasan tentang bagaimana cara membaca al-Quran secara tartil, Ummi menemukan video “Metode Praktis Membaca al-Quran secara Tartil” yang dipaparkan oleh Ustadz Abu Rabbani. Dipelajari ya Kak, adek, setiap ilmu yang beliau sampaikan. Kakak dan adek juga bisa melihat video beliau yang lainnya, misalnya video “Quantum Reading Quran” atau video “Tahsin Tilawah”. Berikut Ummi salin link video penjelasan beliau mengenai metode praktis membaca al-Quran yang terbagi menjadi empat video.

1) https://www.youtube.com/watch?v=JYXtMX7NEU0

2) https://www.youtube.com/watch?v=4qP9JnvGUhw

3) https://www.youtube.com/watch?v=bvmet0rGEEM

4) https://www.youtube.com/watch?v=gZfMLgGILIk

Sampai sini dulu ya Kak, Adek. Nanti kita sambung lagi bincang-bincangnya seputar apa sih yang menjadi warisan Rosululloh SAW kepada kita semua sebagai umatnya? Juga nanti Ummi salin ayat al-Quran dan hadits yang menjelaskan keutamaan mempelajari dan mengajarkan al-Quran.

Semoga kita semua istiqomah dalam setiap ikhtiyar untuk lebih mengenal al-Quran sehingga terhujam kuat kecintaan kita pada ayat-ayatNya. Dan, semoga kita semua selalu berada dalam petunjukNya, aamiin.

Inarimae,
28 Ramadhan 1436 H

.::——————————–::.

Sumber tulisan,

1. http://minhajussholihin.blogspot.jp/2011/12/keutamaan-mempelajari-dan.html

2. http://www.konsultasisyariah.com/apa-makna-membaca-al-quran-dengan-tartil/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s