Melukis Kisah Kehadiran Haifa

Standard

Tidak seekspresif sebelumnya, mendapati dua buah garis dalam testpack kali ini membuat saya menghela napas panjang. Senyum tetap mengembang, tapi pikiran jauh melayang. Sepenuhnya sadar, perjuangan kembali dimulai. Ini bukan kehamilan pertama saya. Justeru ini kehamilan yang ketiga. Bahagia? Jelas, sangat bahagia. Namun, kehamilan ini menjadi tantangan tersendiri karena beberapa kondisi yang menuntut pembelajaran dan perjuangan lebih besar lagi.

Ya, ini berarti kehamilan kedua saya di perantauan. Saya pun kembali berusaha berdamai dengan keadaan. Menerima kenyataan bahwa tak ada ibu, bapak, saudara dan kerabat yang mendampingi. Tapi, tak lantas menjadikan hal tersebut sebagai alasan berkeluh kesah dan mengasihani diri sendiri. Pengalaman hamil dan melahirkan anak kedua sebelumnya, kami lewati di perantauan yang sama, juga tanpa keluarga yang datang menemani. Bersyukur, semuanya lancar dan dimudahkanNya. Terang saja, pengalaman tersebut memupuk semangat dan keyakinan bahwa kali ini pun saya bisa melewati semuanya dengan baik. Secercah harapan memang selalu menyertai setiap perjuangan.

Namun, rupanya keluarga besar di tanah air sangat mengkhawatirkan saya. Saya pun paham kegelisahan mereka. Terlebih ibu dan mamah mertua. Membayangkan saya dalam kondisi hamil, mengasuh dua batita dan harus mengerjakan semua pekerjaan domestik sendirian, memang alasan yang sangat wajar untuk kekhawatiran mereka. Ditambah lagi, kesibukan suami di tahun terakhir studinya di salah satu universitas di perantauan ini, Korea Selatan. Berarti, saya tidak bisa mengharapkan kehadiran suami setiap saat. Jelas sudah bagaimana kekhawatiran keluarga di tanah air mewujud sebuah desakan. Mereka meminta saya pulang. Namun saya tetap memilih melewati masa kehamilan ini bersama suami.

Saya lebih merasa nyaman berada dekat suami. Ia orang yang tidak panikan. Ia pun tak enggan berselancar di dunia maya, mencari sejumput ilmu tentang kehamilan dan proses persalinan demi istrinya. Memang, sejak bergabung di grup Gentle Birth Untuk Semua di facebook pada awal kehamilan kedua, saya kerap mengajaknya berdiskusi banyak hal tentang proses persalinan yang ramah dan minin trauma. Sejak itu pula kami bersepakat, mencari ilmu tentang proses kehamilan dan persalinan itu harus dilakukan bersama. Orang terdekat yang akan mendampingi persalinan kita harus berbekal ilmu dan mempunyai pemahaman yang sama tentang persalinan yang dikehendaki. Terlebih, saya mempunyai pengalaman yang kurang baik pada kehamilan dan persalinan sebelumnya. Saya mengalami KPD (Ketuban Pecah Dini) saat persalinan anak pertama. Tapi, beruntungnya kami saat itu. Terhitung enam jam sejak KPD, putri pertama kami lahir melalui persalinan normal setelah dua kali induksi. Di kehamilan kedua, saya sempat mengalami rembes ketuban saat usia kehamilan 31 minggu. Namun saat itu saya sudah bisa menghadapinya dengan lebih baik dan rileks, sehingga rembesan tadi tidak berkelanjutan. Bertolak dari pengalaman tersebut, saya bertekad ingin menjalani proses kehamilan dan persalinan yang lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya, tak berhenti belajar memberdayakan diri, mencari sejumput ilmu sehingga mampu memaksimalkan ikhtiyar. Untuk selanjutnya bertawakal, menyerahkan segala keputusan dan hasil pada pertolonganNya semata.

Belajar menikmati NWP

Hamil saat anak kedua baru berusia lima bulan menjadi kondisi berikutnya yang harus saya pelajari dengan saksama. Banyak yang menyarankan saya untuk segera menyapih putri kedua demi kebaikan dan kesehatan janin dalam kandungan. Saya menanggapinya dengan senyuman. Mendapati diri tengah hamil saja sempat membuat saya khawatir. Takut tidak bisa adil dalam memberikan perhatian untuk kedua putri saya, Wafa yang berusia tiga tahun dan Athifa yang berusia lima bulan. Bagaimana mungkin saya tega memberhentikan ASI untuk Athifa. Apalagi menyusuinya adalah pengalaman pertama bagi saya setelah saya gagal memberikan ASI pada si sulung, Wafa.

Lagi-lagi dukungan suami menguatkan saya untuk terus berusaha yang terbaik demi anak-anak. Saya pun kembali berselancar di dunia maya mencari tahu tentang Nursing While Pregnant (NWP). Saya konsultasikan juga pada dokter kandungan yang biasa memeriksa saya. Tidak ada riwayat pendarahan, kelahiran yang prematur, atau masalah lain selama kehamilan sebelumnya. Kehamilan ketiga ini pun dinyatakan baik, sehingga saya tetap bisa menyusui Athifa. Memang ada sedikit kontraksi yang saya rasakan kalau saya menyusui terlalu lama. Sehingga saya pernah mencoba untuk memberikan susu formula sebagai selingan, namun Athifa sukses menolak. Akhirnya saya pun berstrategi lain, menyusui lebih sering dengan rentang waktu yang tidak terlalu lama. Alhamdulillah, semua berjalan baik.

Trimester pertama berlalu. Hiperemesis yang saya alami di kehamilan kedua, tak lagi saya alami di kehamilan ini. Hanya mual, pusing dan merasa sedikit cepat lelah yang saya rasakan kali ini. Saya berusaha sugestikan diri bahwa perubahan hormon memang hal wajar selama kehamilan. Jadi, beberapa kondisi tadi tidak boleh merusak mood saya. Namun, jika alarm tubuh sudah menyala, saya harus segera istirahat.

Demikian juga dengan trimester kedua. Nyaris tidak ada keluhan berarti. Semua berjalan dengan baik. Saya dan janin sehat. Mual dan pusing tak lagi dirasa. Keluarga kecil kami pun kian kompak menyambut kehadiran anggota baru. Saya dan suami mulai berdiskusi pembagian tugas dan peran lebih detail lagi. Bersemangat menyusun rencana persalinan yang kami harapkan. Dan sampailah kami pada perbincangan tentang Wafa dan Athifa saat persalinan nanti. Kami pun segera menghubungi keluarga besar di tanah air. Mencari seseorang yang bisa membantu kami menjaga anak-anak. Memintanya datang ke rumah mungil kami di perantauan. Dan tinggal bersama kami untuk dua minggu saja. Namun, tak seorang pun yang bisa datang. Ya, kami pun sepenuhnya paham. Memang kondisi Bapak yang sering sakit tidak memungkinkan Ibu meninggalkannya. Juga Mama dan Papa, tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya. Sementara kakak dan adik-adik kami laki-laki semua. Kami pun beralih ke rencana lain. Seperti halnya saat persalinan kedua, saya akan menjalani semua tahapan persalinan sendirian. Suami tetap menjaga anak-anak.

Lagi-lagi kekhawatiran yang cukup besar mewujud desakan pulang. Keluarga besar bergantian meminta saya melahirkan di tanah air saja. Tak dipungkiri, desakan itu cukup mengganggu konsentrasi saya. Selain itu, ternyata hari perkiraan lahir berdekatan dengan batas akhir pengumpulan disertasi juga sidang kelulusan suami. Artinya, ada kemungkinan saya menjalani persalinan saat suami sidang kelulusan. Lantas bagaimana dengan anak-anak jika itu terjadi? Alasan lainnya adalah kebijakan maskapai penerbangan untuk penumpang yang masih bayi. Jika saya melahirkan di perantauan, maka saat kembali ke tanah air setelah kelulusan, usia bayi kami diperkirakan masih dua bulan. Sehingga, belum diperbolehkan menjadi penumpang pesawat. Akhirnya setelah diskusi panjang dengan suami, disepakati saya akan melahirkan di tanah air. Dan, di usia kehamilan tepat 28 minggu saya pun pulang. Sedih rasanya harus berjauhan dengan seseorang yang paham betul kondisi saya dan kehamilan ini. Tapi saya menguatkan diri dengan tetap berprasangka baik atas keputusan yang telah kami ambil dengan banyak pertimbangan.

Ketika perjuangan besar bermula

“Hari esok tetaplah sebuah misteri.” Ungkapan ini sangat tepat untuk saya. Tak pernah saya duga, justeru kepulangan saya ke tanah air menjadi awal perjuangan yang sesungguhnya. Satu per satu tantangan menyapa silih berganti. Melukis ragam ekspresi yang menghiasi hari sampai persalinan itu tiba.

Saya memutuskan melahirkan di kampung halaman, Banjarsari. Sebuah dusun di bawah kaki Gunung Sawal, Ciamis. Lukisan alamnya memang sangat baik untuk membantu ibu hamil lebih rileks lagi. Namun karena letaknya di pelosok, sarana transportasi pun sangat tidak memadai. Kendaraan umum hanya beroperasi sampai tengah hari selepas jam pulang anak-anak sekolah. Jalanan pun banyak yang berlubang. Sementara itu, hampir semua sarana publik terpusat di kecamatan. Jaraknya tujuh kilometer dari rumah. Hal ini menjadi tantangan pertama untuk saya. Terlebih di saat proses adaptasi berlangsung. Kembali ke alam tropis setelah hampir empat tahun di lingkungan subtropis tak ayal membuat kedua putri saya sakit bergantian. Mereka harus beradaptasi dengan banyak hal, terutama makanan dan cuaca. Masih melekat dalam ingatan, ketika saya harus membawa si sulung ke dokter umum di pusat kecamatan karena diare yang dialaminya. Tak ada pilihan lain. Motor menjadi kendaraan kami. Padahal usia kehamilan saya saat itu menginjak 35 minggu. Selang lima hari berikutnya, kedua putri saya sakit bersamaan. Akhirnya, dengan menyewa mobil, saya membawanya ke salah satu dokter anak di rumah sakit terdekat. Perjalanan itu kami tempuh dalam waktu satu setengah jam. Beruntungnya, mereka kembali pulih dalam waktu tiga hari.

Saya mulai merasa cemas. Sampai usia kehamilan menginjak 36 minggu, proses adaptasi masih berlangsung. Fisik saya mulai kelelahan. Ditambah dengan tantangan berikutnya. Ada sedikit perbedaan pola pengasuhan saya dan Bapak. Mungkin Bapak tidak menyadari, selalu membela putri kedua saya, membuat si sulung merasakan ketidakadilan. Akhirnya si sulung jadi sangat sensitif dan kembali tantrum.

Sungguh saya tidak menduga akan mendapati hal-hal seperti ini di penghujung kehamilan. Bolak-balik membawa anak-anak berobat. Menjaga mereka yang sedang sakit tanpa jeda. Berusaha mengkomunikasikan pola asuh. Bahkan sampai harus memberikan penjelasan berulang untuk setiap desakan saudara dan tetangga yang meminta saya berhenti menyusui Athifa. Semua ini membuat pikiran saya bercabang dan emosi yang campur aduk. Dan, tentu semua ekspresi ini hanya mewujud bulir air mata yang menganak sungai. Saya merindu kehadiran ia yang jauh di mata. Suami tercinta. Tapi apa daya, jarak tetap memisahkan kami. Hanya lantunan doa yang jadi penguat. Saya pun menangis dalam sujud. Merintih dalam lantunan doa yang lirih.

Pernah suatu masa, suami menelpon saya. Saya hanya menangis, padahal banyak hal yang ingin saya ceritakan. Dan di ujung percakapan, suami kembali memompa semangat saya. Ia berpesan agar saya tetap bisa memilah masalah juga tetap fokus pada persalinan dan anak-anak. Sungguh, kondisi saat itu sangat menguji kesabaran. Dan, rupanya tanpa sadar saya terlalu larut pada hal-hal yang tidak sepaham dan memikirkannya dalam porsi yang berlebihan. Akhirnya saya mulai belajar mengenal alur pikiran mereka. Ya, mereka ingin yang terbaik untuk saya. Namun, prinsip yang mengakar dalam tradisi kampung membuat mereka susah menerima hal-hal baru tentang kehamilan dan persalinan. Suatu fakta perlunya edukasi di lingkup yang lebih besar. Tak hanya suami, keluarga besar bahkan masyarakat pun harus menjadi lingkungan yang kondusif untuk persalinan yang lebih baik dengan edukasi yang terus menerus.

Kolik di penghujung kehamilan

Saya memang terlambat menyadari efek situasi ini pada fisik dan emosi saya. Saya baru menyadari sepenuhnya saat saya terhempas jauh ke titik terbawah di subuh pagi itu. Sesaat setelah rukuk, saya tersungkur tiba-tiba. Menahan sakit yang luar biasa di perut kanan bagian bawah. Bukan, ini bukan kontraksi. Saya tahu persis bedanya kontraksi dan sakit ini. Dengan posisi membungkuk saya bergegas ke kamar. Seketika, dada saya sakit setiap menarik napas. Akhirnya saya hanya bisa bernapas pendek lewat mulut. Selang beberapa menit, saya muntah hebat. Padahal saya belum makan apa-apa. Jemari kanan pun tiba-tiba kaku. Sakit itu, tak terperi. Tak ada posisi yang bisa mereduksinya. Saya malah tambah terpuruk. Kaki kanan saya tidak lagi bisa dipijakkan. Bahkan melangkahkannya pun tak mampu.

Lemas, badan terasa tak bertenaga. Ibu menyiapkan saya sarapan. Namun ternyata, untuk mengambil sesuap nasi saja tangan kanan saya gemetar. Dengan posisi duduk tegak, sedikit – sedikit saya paksakan sarapan. Namun saya kembali muntah. Tak sampai di situ, tiba-tiba perut terasa mengencang. Kontraksi ringan saya rasakan. Sesekali muncul dan kembali hilang.

Mendapati saya dengan kondisi tersebut, keluarga berpikir saya siap melahirkan. Saya pun dipapah masuk ke dalam mobil yang membawa saya ke tempat praktek bidan desa. Ibu bidan tidak mendapati tanda persalinan. Saya malah kembali muntah hebat. Sejak di rumah saya sudah menyampaikan kalau sakit yang saya rasakan bukan kontraksi untuk persalinan, tapi tetap disangka mau melahirkan. Mendengar hasil pemeriksaan ibu bidan, keluarga segera membawa saya ke rumah sakit. Namun, karena sakit dan lemas sudah tak tertahankan. Di tengah perjalanan saya meminta mereka membawa saya ke puskesmas di kecamatan. Saya meminta untuk diinfus.

Tetes demi tetes cairan infus membuat saya kembali bertenaga. Saya melihat banyak perawat mengililingi saya. Bahkan ada beberapa yang berusaha membantu saya dengan mengatakan bahwa sakit jelang persalinan itu wajar. Saya pun kembali tersenyum. Tanpa menjelaskan panjang lebar, saya minta pemeriksaan USG dan konsultasi dengan dokter. Dibantu perawat, saya duduk di kursi roda dan masuk ruang USG. Alhamdulillah hasil pemeriksaan semuanya baik, hanya ada sedikit lilitan. Usia kehamilan saat itu adalah 37 minggu lebih lima hari. Jadi, memang sangat wajar banyak yang mengira saya siap melahirkan. Untuk memastikan sakit apa yang saya rasakan juga berdasarkan rujukan dokter, saya bertolak ke rumah sakit terdekat.

Sesampainya di rumah sakit, saya langsung dibawa ke ruang IGD. Dan, selang beberapa menit saya menjadi penghuni salah satu kamar di lantai dua rumah sakit tersebut. Diagnosa dokter, saya mengalami kolik. Kolik di penghujung kehamilan, saat bayi sudah cukup bulan, memang membuat sakit yang dirasa kian parah. Ternyata sakit tak tertahankan itu semacam kram perut karena kolik tadi. Saya pun mengalami kesulitan buang air besar dan buang angin. Aah, rasanya sulit sekali menggambarkan kondisi saya saat itu. Sakit yang luar biasa hebat, melebihi sakitnya gelombang kontraksi persalinan.

Saya terbaring ditemani seorang tetangga baik hati. Ibu dan bapa, saya minta pulang untuk menjaga anak-anak di rumah. Sambil menahan sakit, saya mengelus perut dengan lembut. Mencoba tetap tenang supaya tidak mengganggu bayi dalam kandungan. Jujur saja, sakitnya tak kunjung hilang. Bahkan, sekadar membalikkan posisi tubuh saja saya tak sanggup. Kadang sakitnya pindah ke punggung secara tiba-tiba. Dan, napas pun kembali tersengal. Air mata mengalir tak terbendung. Sungguh, saya merasa sedang ada di penghujung usia. Memasrahkan semuanya pada Sang Pemilik Jiwa.

Dan,di tengah kondisi itu, wajah anak-anak yang saya tinggal di rumah bersama Ibu muncul bergantian dalam pikiran. Juga ia yang sedang jauh di mata. Saya larut dalam doa. Memohon kesempatan untuk bisa melahirkan anak ketiga dan tetap berharap untuk kesudahan terbaik yang dikehendakiNya.

Ada bingung yang hinggap dalam pikiran saya. Tak ingin menambah beban pikiran ia yang jauh di mata, namun tak mungkin pula saya sembunyikan kondisi saya. Dan, bagaimana kalau ternyata saya benar-benar di penghujung usia. Akhirnya, saya sampaikan kondisi saya saat itu. Terang saja, ia langsung mengirim pesan. Saya bisa merasakan kegelisahannya belum bisa menelpon saya karena belum berhasil mendapatkan international calling card. Selang beberapa jam kemudian, ia pun menelpon dan menghujani saya dengan deretan pertanyaan. Saya pun berusaha meyakinkan ia dan diri saya sendiri, dengan pertolonganNya semua akan baik-baik saja. Alhamdulillah, rupanya mendengar suara ia di ujung telpon, membuat saya kembali tersenyum dan bersemangat.

Sekali mengonsumsi obat yang diresepkan, kondisi saya tidak ada perubahan. Malem harinya saya merintih kesakitan. Saya benar-benar pasrah. Saya tak bisa makan, karena sakitnya belum bisa buang air besar dan buang angin. Akhirnya saya perbanyak minum air hangat. Hampir sepuluh liter air saya habiskan dalam waktu lima jam. Saya pun bolak balik kamar mandi untuk buang air kecil. Alhamdulillah menuju dini hari, frekuensi kramnya berkurang. Di pagi harinya, saya bisa makan beberapa suap bubur. Obatnya mulai bereaksi, perlahan rasa sakit itu berkurang. Hanya beberapa kali muncul. Dan, setelah di rawat selama dua hari satu malam, akhirnya saya bisa buang angin sedikit. Legaa rasanya, meski belum berhasil buang air besar. Kaki kanan pun berangsur normal. Perlahan saya bisa berjalan seperti sedia kala. Saat pemeriksaan terakhir, dokter kandungan menyampaikan bahwa sebetulnya kondisi saya saat itu bisa saja berakhir gawat janin. Namun Dia berkehendak lain. Saya diijinkanNya sembuh dengan obat yang diresepkan dokter. Benar-benar pertolonganNya sangat dekat. Alhamdullillah, kesudahan indah Dia anugerahkan untuk saya. Saya kembali mendapati kesempatan untuk belajar lebih baik lagi, termasuk belajar untuk lebih memperhatikan kesehatan tubuh dan emosi. Karena belakangan saya tahu kalau sakit ini tidak terlepas dari stress yang saya alami yang tanpa sadar telah mengubah pola makan dan pola tidur saya menjadi tak beraturan.

Jelang persalinan

Tepat dua minggu setelahnya, di usia kehamilan 39 minggu lima hari, Dia mengijinkan saya kembali melukis kisah indah yang bermula di waktu subuh. Sabtu 4 Mei 2013, sesaat setelah sholat subuh, gelombang cinta perlahan saya rasakan. Terus menjalar mengitari perut. Tak hilang, malahan kian menguat. Berirama membentuk keteraturan. Kali ini, saya yakin anak ketiga saya ingin segera melihat dunia. Senyum terus mengembang. Mengusir semua kenangan pahit peristiwa yang terhimpun dalam bilangan masa tiga bulan adaptasi. Saya larut menikmati gelombang itu. Setelah pola semakin jelas terlihat, dibonceng adik, saya bergegas ke rumah ibu bidan yang sekaligus tempat prakteknya. Saya pun membawaserta si sulung.

Sebetulnya, saya sudah survey beberapa tempat persalinan, bahkan saya sudah menyiapkan segala hal jika saya harus menjalani operasi caesar. Bagi saya, bagaimanapun proses persalinannya asal minim trauma itulah persalinan terbaik untuk anak.

Dan, saya tidak salah memilih tempat. Halaman luas di depan rumah ibu bidan benar-benar membuat saya rileks. Ada tiga burung cantik di dalam sangkarnya, tanaman yang beraneka ragam, dan kemangi yang mewangi mampu menjadi aroma terapi kala itu. Saya berjalan mengelilingi halaman itu sambil mendengarkan lantunan ayatNya. Tak lupa sebuah video tentang perkembangan janin dan proses persalinan saya lihat berulang untuk membantu saya memvisualisasikan posisi bayi saat persalinan. Ibu bidan sesekali melihat saya di luar. Dengan senyum ramahnya, beliau menyapa dan memastikan saya menikmati setiap tahap.

Pukul 12.57 WIB, di pembukaan enam ketuban pecah. Gelombang cinta semakin kuat dan rapat. Saya mencoba menyelami semua gerakan tubuh yang mencipta mekanisme istimewa untuk jalan lahirnya. Aah, gelombangnya semakin mendorong saya untuk mengejan. Tapi ibu bidan belum mengijinkannya. Beliau meminta saya tetap mengikuti irama tubuh, sampai akhirnya rasa itu tak tertahankan lagi. Akhirnya, pukul 13.37 WIB, Haifa terlahir sehat selamat dengan berat badan 3,7kg dan tinggi 49cm. Alhamdulillah.

Benar adanya, setiap episode hidup mencipta pembelajaran baru. Begitupun dengan proses kehamilan dan persalinan. Tiga kali persalinan, melukis kisahnya tersendiri.

Di persalinan pertama saya mengalami KPD. Merasakan sakitnya kontraksi setelah dua kali induksi. Dengan pertolonganNya, Wafa terlahir selamat lewat persalinan normal terhitung enam jam dari awal KPD. Proses pemulihan berjalan hampir dua belas jam.

Persalinan kedua saya jalani lebih baik lagi. Berbekal sedikit ilmu hasil membaca di grup Gentle Birth Untuk Semua, saya mencoba menjalani setiap tahap dengan lebih rileks. Dan, akhirnya saya bisa merasakan kontraksi alami di persalinan kedua ini. Tak ada lagi suntikan induksi. Ketuban pecah di saat pembukaan enam. Tak sampai lima belas menit setelahnya, Athifa lahir lewat persalinan normal meski dengan episiotomi. Dua jam pasca persalinan saya bisa beraktivitas kembali.

Di kehamilan dan persalinan ketiga ini, saya dapati banyak kejutan pemberianNya. Saya menikmati indahnya momen menyusui saat hamil (Nursing while pregnant). Bahkan di hari persalinan, saya sempat menyusui anak kedua terlebih dahulu. Kemudian dengan ijinNya, saya kembali menjali persalinan normal bahkan tanpa episiotomi, padahal berat lahir Haifa lebih besar dibanding kakak-kakaknya. Kebahagiaan pun berlanjut setelah proses persalinan. Pertama kalinya saya bisa merasakan indahnya IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Ditambah kejutan lainnya yaitu tandem nursing. Menyusui putri kedua dan si bungsu bersamaan. Amazing.

Memang, saya berusaha mencari secuil ilmu tentang persalinan sebagai ikhtiyar untuk menjalani kehamilan dan persalinan yang lebih baik. Namun, semua kemudahan, kelancaran, dan keselamatan yang saya dapati mutlak kuasa dan pertolonganNya semata. Alhamdulillahirabbil’aalamiiin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s