Kembali Merantau, Melukis Kisah di Negeri Sakura

Standard

Tsukuba, Jepang. Bumi perantauan kami yang ke dua setelah empat tahun di Gyeongsan, Korea Selatan. Selasa, 1 Oktober 2013, langkah kami pun pertama kali terukir di sini.

Dan, tiga bulan telah berlalu. Kejutan demi kejutan kami dapati. Tak jarang spontanitas hadir membandingkan dua tempat perantauan ini. Namun justeru dengannya, kami sedikit tahu bahwa benar adanya, setiap tempat selalu mencipta berbagai kisahnya sendiri.

Rumah
Tak pernah menduga sebelumnya, kami bisa merasakan tinggal di ruangan yang cukup luas di salah satu kamar Ninomiya House. Di tanah perantauan sebelumnya, alhamdulillah kami sangat menikmati tinggal di one room. Kamar yang multifungsi. Dan, masyaAllah, kini, Allah SWT mengijinkan kami tinggal beberapa waktu di kamar yang lebih luas dari two room. Fabiayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdziban.

Kamar 1201 yang terletak di salah satu pojok Ninomiya House ini diperuntukan bagi penghuni yang membawa serta keluarganya. Ruangan yang dilengkapi berbagai barang kebutuhan. Mulai dari piring, sendok, wajan, sampai vacuum cleaner. Satu-satunya barang penting (menurut saya) yang tidak ada hanya rice cooker. Lebih lanjut akan saya ceritakan tentang Ninomiya House ini di tulisan berikutnya.

Keramahan
Bisa jadi saya terlalu dini menyimpulkan bahwa penduduk di sini (Tsukuba-Jepang) lebih ramah dibandingkan penduduk di sana (Gyeongsan-Korea Selatan). Tapi, memang nyatanya begitu yang kami rasakan. Seperti halnya pengalaman suami saat harus konfirmasi beberapa hal ke salah satu operator telekomunikasi di sini. Saat itu petugas yang bisa berbahasa inggris sedang tidak ada. Salutnya, petugas lainnya berusaha merespon dengan bahasa inggris sekalipun ujungnya komunikasi tetap tidak tersambung. Menyadari kebingungan suami, petugas tersebut menelpon petugas lainnya yang bisa berbahasa inggris sehingga suami bisa menyampaikan keluhannya. Ramaah sekali. Atau pengalaman lainnya saat kami terjadwal untuk cek kesehatan Haifa di Takezono Clinic. Suami ditelpon perawat. Beliau berusaha menyampaikan suatu prosedur terkait cek kesehatannya Haifa dalam bahasa inggris. Sayangnya suami tidak berhasil menangkap paparan beliau. Dengan ramah perawat itu minta maaf tidak bisa menyampaikan dengan baik. Akhirnya dengan bantuan staf Ninomiya komunikasi tersambung dengan baik.

Saya tiba-tiba saja teringat pengalaman selama di Gyeongsan. Bukan hanya sekali dua kali, saya dan suami mendapat respon yang kurang baik saat berusaha berkomunikasi dengan bahasa inggris. Tak jarang kami mendapati ekspresi wajah yang kurang enak dilihat. Bahkan suami pernah kena marah petugas salah satu operator telekomunikasi di Korea hanya karena bertanya dalam bahasa Inggris. Yaa, memang sih, warga Korea dikenal ekspresif dan mudah marah. Sementara itu, warga Jepang dikenal dengan salah satu karakternya yang selalu berusaha menghindari konflik. Bahkan mereka tak segan meminta maaf terlebih dahulu, sekalipun mereka tidak bersalah.

Gempa dan taifun
Beberapa pekan sebelum berangkat ke Tsukuba, saya berselancar di dunia maya. Mencari banyak hal tentang Jepang umumnya. Ternyata, dari beberapa blog yang saya baca, gempa selalu menjadi cerita tersendiri bagi pendatang baru di Jepang. Membaca kisahnya, jujur membuat nyali saya ciut. Ah, bagaimana saya dengan tiga balita kalau gempa terjadi? Pertanyaan yang bergelayut dalam pikiran saya.

Dan, tiga bulan berlalu. Saya telah merasakan gempa 21 kali. Subhanallah. Rupanya, musim gugur di sini identik dengan gempa dan taifun. Untungnya, rumah-rumah di sini didesain untuk tahan gempa. Jadi, saat gempa terjadi, rumah pun ikut bergoyang. Bagaimana saya dengan pengalaman gempa pertama? Alhamdulillah, tidak terlalu panik. Tapi memang, sedikit deg-degan, mengkhawatirkan tiga balita. Dari dua puluh lebih gempa tersebut, seringnya gempa terjadi saat weekend. Saat suami ada di rumah🙂

Selain 21 kali gempa, kami pun merasakan dua kali taifun. Rabu, 16 Oktober 2013, taifun ‘menyapa’ Ibaraki. Sebelumnya kami sudah menerima pengumuman kemungkinan terjadinya taifun ini. Bahkan, kegiatan sekolah juga perkantoran diliburkan. Subhanallah, hari itu pengalaman pertama saya melihat hembusan angin sekencang itu. Pepohonan berliuk mengikuti ‘tarian’ taifun. Tak hanya itu, suara gemuruh angin pun terdengar jelas. Selang beberapa hari berikutnya, kami kembali mendapatkan peringatan taifun yang lebih besar dari sebelumnya. Alhamdulillah, taifunnya tidak jadi melewati daerah kanto, berbelok menuju lautan.

Jam kerja
Beberapa hari menjelang Idul Fitri 1434 H, kami mendapat kabar bahwa suami diterima di NIMS. Bahagia? Pasti! Tapi tidak bisa membohongi diri, ada kekhawatiran hinggap di hati. Jepang tak jauh beda dengan Korea, jam kerjanya gila-gilaan. Rasanya saya tidak tega kalau suami harus pergi pagi pulang tengah malam bahkan dini hari. Lab meeting dan tetap eksperimen di akhir pekan. Aah, tak ingin terulang!

Nyatanya, di sini jauuuuh lebih baik. Jam kerja tak separah sebelumnya. Bahkan  menjadi kejutan besar saat tahu tidak diperbolehkan kerja di saat weekend. Benar-benar kejutan. Dulu, kami hanya mampu menjadwalkan dua jam setiap akhir pekan untuk bermain bersama anak-anak. Sekadar jalan menikmati pemandangan di sekitar kampus. Kini, dua hari penuh kami saling membersamai di akhir pekan. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s