Ketika Wafa Bersiap Sekolah TK

Standard

Mengamati semua perempuan di ruangan ini, tak ayal membuat saya merasa ada di antara ajumma-ajumma. Sekilas, perempuan Jepang dan Korea memang berparas sama. Tak hanya itu, huruf-huruf yang saya dapati sejak di depan gerbang sampai di ruangan ini, rupanya mirip. Sekali lagi, jika dilihat sekilas saja. Karena nyatanya, hangeul dan hiragana-katakana-kanji itu berbeda.

Jujur, saya berharap di antara perempuan ini ada yang bisa saya sapa annyeonghaseyo. Namun, beberapa menit berjelang, saya sadar. Saya, satu-satunya warga asing di ruangan ini.

Duduk di sebelah kiri saya, seorang perempuan berambut pendek dan sangat enerjik. Beliau adalah staf JISTEC di Ninomiya House yang membantu saya mengurus segala hal yang berhubungan dengan pendaftaran sekolahnya Wafa. Beliau bisa berbahasa Inggris. Dan selama ini, beliaulah yang membantu saya berkomunikasi dengan pihak sekolah.

“Kobayashi-san, apakah di sini ada sensei yang bisa berbahasa Inggris?” Saya masih penasaran dan berharap ada yang bisa berbahasa Inggris.

“Hmm, tidak ada. Tapi mungkin ada yang bisa sedikit-sedikit,” jawabnya sambil tersenyum. Jawaban yang semakin mempertegas bahwa saya harus belajar bahasa jepang lebih terjadwal.

Kembali saya perhatikan sosok perempuan yang sedang berbicara di depan. Saya coba fokus mendengarkan. Dari penuturannya, hanya beberapa kata yang berhasil saya tangkap. Seperti, konnichiwa, mooshimasu, yorosiku onegaishimasu, ima, kodomo tachi, ikimasu, youchien, arimasen, tabemasu, arigatou gozaimasu. Tapi, tak ada satu kalimat pun yang saya pahami. Nihongo saya benar-benar masih nol besar, baik percakapan maupun kemampuan membaca. Buktinya, dari sekian huruf yang berderet di bagian sandaran kursi, hanya ada dua huruf yang saya tahu. Dua huruf hiragana. Selebihnya kanji.

Dua puluh menit berlalu. Tiba saatnya pemaparan buku panduan yang dibagikan di awal kedatangan. Lagi-lagi, tak ada satu kalimat pun yang saya pahami. Membuka lembaran buku panduan, tak mengubah apapun. Aah, kenapa harus kanji?

“Linda-san, saya akan coba terjemahkan buku ini ke dalam bahasa Inggris,” tutur Kobayashi-san. Beliau tampaknya menangkap kegelisahan saya.

“Semuanya? Buku ini cukup tebal,” saya masih kaget dengan tawaran bantuan tersebut.

“Oh, tidak. Saya akan menuliskan beberapa poin pentingnya saja,” sambungnya.

“Terima kasih banyak.” Saya tersenyum lega.

Kemudian, pandangan ini pun sampai pada deretan huruf di atas panggung. Perlahan saya baca. Ninomiya youchien. Berhasil, karena semua tertulis dalam hiragana. Senyum semakin mengembang. Benar, selalu ada harapan di saat semua terasa sulit. Tak berapa lama, harapan lain pun menghampiri. Seorang perempuan menyapa. Beliau dari PTA (Parent teacher association). Yoko-san memperkenalkan dirinya dalam bahasa Inggris.

“Jangan khawatir, ada beberapa teman di sini yang bisa berbahasa Inggris.” Kalimat tersebut menjadi penutup percakapan kami di awal perkenalan. Selanjutnya beliau mewarkan bantuan untuk menerjemahkan buku panduan itu ke dalam bahasa Inggris. Alhamdulillah. Selalu ada kemudahan yang Allah SWT sertakan dalam setiap kesulitan.

Runutan acara di ruangan ini selesai dalam waktu satu jam. Tepat sesuai jadwal. Jam dinding pun menunjukkan waktu pukul tiga sore. Wafa dan teman-temannya masih tetap bermain di ruangan lain. Ini pertama kalinya mereka bertemu dan bermain bersama. Mereka, 47 siswa baru di Ninomiya youchien tahun ini.

Ya, hari ini, semua orang tua pendaftar, diminta pihak sekolah menghadiri acara pengenalan sekolah atau orientasi. Berikut susunan kegiatannya:

13.30 – 14.00 : Pembelian perlengkapan 1 (alat tulis dsb), administrasi (penyerahan data kesehatan anak, foto dan nomor rekening untuk pembayaran tiap bulan)
14.00 – 15.00 : Penyambutan dari kepala sekolah, pemarapan buku panduan, dan sambutan perwakilan PTA. 15.00 – 15.30 : Pembelian perlengkapan 2 (Tas, sepatu, topi, baju untuk makan, dsb)

Selesai berpamitan dengan kepala sekolah dan para sensei, kami pun segera pulang.

Ada hal yang menarik dari rangkaian proses pendaftaran sekolah TK sampai pada pengalaman hari ini.

Proses pendaftaran
Rupanya, di sini, city hallnya sangat berperan di hampir semua urusan warganya. Nyaris semua data warga terekap di city hall ini. Termasuk untuk urusan sekolah anak-anak. Jadi, setiap sekolah sudah mempunyai data anak-anak usia sekolah yang tinggal di sekitarnya. Data tersebut diberikan oleh city hall. Misal, saya tinggal di daerah Ninomiya. Secara otomatis, Wafa sudah terdata sebagai anak usia sekolah TK di Ninomiya Kindergarten. Cukup baik, karena sistem ini menjamin pemerataan kualitas sekolah.

Dua minggu dari awal kedatangan di Jepang, kami memperoleh surat keterangan jadwal pendaftaran masuk TK. Waktu itu terjadwal dari tanggal 28 Oktober – 1 Nopember 2013. Karena kami berencana untuk pindah tempat tinggal, akhirnya kami coba daftar di dua TK yang berbeda. Ninomiya Kindergarten dan Namiki Kindergarten. Saat daftar di Namiki Kindergarten, kami harus menandatangi surat keterangan bahwa kami tidak berdomisili di Namiki dan harus menentukan kepindahan kami ke Namiki secepatnya. Saat daftar di Ninomiya Kindergarten, nama Wafa sudah ada dalam data mereka. Tiga hari berlalu. Karena kepindahan kami masih belum pasti. Akhirnya kami putuskan untuk daftar di Ninomiya Kindergarten. Dan, sebagai konsekuensi, kami pun mulai mencari apato di sekitar Ninomiya.

Jadi kalau di runut, tahapan masuk sekolah TK di sini itu adalah :
1. Daftar dalam rentang waktu yang ditentukan. Umumnya sekitar bulan Oktober-Nopember. Daftarlah di TK terdekat dengan tempat tinggal untuk lebih memudahkan.
2. Mengikuti wawancara singkat (tentang kebiasaan dan kemampuan anak) dan pemeriksaan kesehatan di sekolah/klinik sesuai dengan arahan dan waktu yang ditentukan pihak sekolah.
3. Mengikuti orientasi/pengenalan sekolah yang dijadwalkan pihak sekolah.
4. Kegiatan belajar mulai per 1 April.

Bangunan sekolah
Hari ini, Kamis – 23 Januari 2014, pertama kalinya saya menyambangi sebuah bangunan sederhana di salah satu pojokan Ninomiya. Nyaris tak saya kenali sebagai sebuah sekolah. Keterangan huruf yang tertulis di gerbang kayu yang melengkung di depan lahan kosong itulah petunjuk yang saya dapati tentang bangunan ini. Sangat sederhana. Melintasi gerbang kayu tadi, saya melangkah di halaman bangunan ini. Halaman pasir yang cukup luas. Ada tiga wahana permainan di salah satu sisinya. Semuanya terbuat dari besi yang sudah memudar catnya. Kemudian, langkah kaki ini mulai memasuki ruangan-ruangan bangunan satu tingkat ini. Saya amati beberapa mainan dan alat belajar yang tersimpan rapi di beberapa titik. Kebayakan mainan buatan sendiri. Bahkan saya melihat rumah-rumahan besar yang terbuat dari kardus dihiasi bulatan koran. Sesederhana itu.

Jujur, seketika ingatan saya terlempar jauh ke sebuah gedung bertingkat di salah satu ujung jalan Sampung-dong. Ya, Gyeongsan Yuchiwon (Gyeongsan Kindergarten). Spontanitas pun hadir membandingkan keduanya. Dari segi fisik bangunan, Ninomiya Kindergaten ini jauh di bawah indahnya Gyeongsan Yuchiwon. Belum lagi ruangan dan alat permainannya. Dulu, saya pernah melihat ruangan kelas di Gyeongsan Yuchiwon sekalipun saya belum berkesempatan menyekolahkan Wafa di sana. Bangunan yang bagus sekali. Terlebih melihat setiap kelas dan semua perlengkapannya. Lagi-lagi, setiap tempat memberikan kejutannya tersendiri. Atau mungkin, hal sederhana ini sedikitnya bisa menjadi gambaran perbedaan Jepang dan Korea. Satu hal yang pasti. Di sini, bangunan sekolah umumnya satu tingkat dengan halaman yang luas dilengkapi keterangan rute evakuasi jika terjadi bencana.

Lagi-lagi, saya dipaksa belajar
Berbulan-bulan saya kewalahan mengatur jadwal tidurnya Wafa. Dari sekian kali usaha, hanya beberapa kali saja berhasil membuat Wafa tidur sebelum pukul sepuluh. Berbeda dengan sepekan terakhir ini. Hanya dengan dua kali kunjungan ke Ninomiya Kindergarten, Wafa tiba-tiba saja tidur sebelum jam sepuluh, dan bangun lebih pagi dari biasanya. Ternyata semuanya itu terjadi dengan satu alasan. Tidak mau telat berangkat sekolah. Semoga, saat benar-benar sudah masuk sekolah, semangat itu tetap ada.

Melihat kegirangan Wafa, saya pun turut bahagia. Tetapi, tetap saja ada kekhawatiran menyelinap dalam pikiran saya. Teringat kajian di Taujih Online (TOL) Fahima beberapa hari lalu tentang “Membentuk Karakter Anak, Tugas Sekolah kah?”. Saya khawatir Wafa lebih mudah mendengarkan senseinya dibanding saya. Saya khawatir figur saya yang seharusnya tetap menjadi guru pertama dan utama terkalahkan figur sensei. Kekhawatiran ini muncul karena saya sadar betul kelemahan saya. Yaitu, menejerial waktu dan emosi yang masih berantakan. Betul, saya punya lebih banyak waktu dengan anak-anak. Tapi apalah artinya himpunan waktu itu jika saya masih saja menemani anak-anak bermain sambil beres-beres rumah. Sedangkan, senseinya mampu memberikan 5-6 jam yang berkualitas.

Lebih lanjut lagi, saya dihadapkan dengan kemandirian dan kebudayaan di sini. Pernah merasa bingung. Bagaimana mungkin saya yang tidak telaten harus bikin bento tiap hari untuk bekal Wafa. Belum lagi ketika saya lihat halaman terakhir buku panduan. Ada list beberapa barang yang harus saya siapkan untuk sekolah Wafa, April mendatang. Herannya, ada satu halaman membahas bagaimana cara membuat tas untuk beberapa keperluan Wafa. Rupanyaa, di sini terbiasa membuat semuanya sendiri. Sebagai contoh cara membuat tas perlengkapan, bisa dilihat di tautan ini : http://fahima.org/en/artikel73/hasilkarya86/813-perlengkapan-sekolah-anak-tk-youchien-di-jepang.html. Sedangkan untuk perbentoan, saya mulai intip tautan ini : http://www.dbento.com/

Memang, belajar sesuatu yang baru, seringnya harus dipaksakan. Mendobrak batas yang ada untuk sampai di titik maksimal yang sesungguhnya. Dan, inilah bukti, bahwa hidup adalah proses pembelajaran yang tiada henti. Saat saya hampir menyerah belajar nihongo, di saat yang sama saya dipaksa kembali belajar lebih keras. Setidaknya, saya harus bisa berkomunikasi dengan Wafa dan pihak sekolah ke depannya. Saat saya masih keteteran dengan aktivitas di dapur, beberapa waktu ke depan saya dipaksa harus menyiapkan bento Wafa selain bento abinya. Saat saya selalu mengandalkan ‘riweuhnya mengasuh tiga anak’ sebagai alasan untuk pembenaran kemalasan, di saat yang sama saya dipaksa harus gerak cepat dengan beberapa tambahan pekerjaan rumah. Dan yang terpenting, saat Wafa mulai bersekolah, saya pun harus lebih baik lagi menjadi guru utama dan pertama di rumah. Bismillahirraahmaanirraahiiim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s