Selaksa Rindu

Standard

Benar, tiga tahun setengah di Korea Selatan tepatnya di Sampungdong-Gyeongsan, saya belum pernah melangkah di ibu kota negara, Seoul. Juga, sekadar mencoba menikmati kereta super cepat,KTX, saya belum berkesempatan. Bahkan sampai KTX muncul di Gyeongsan yok beberapa bulan sebelum kepulangan saya ke tanah air. Sedih? Alhamdulillah tidak. Hanya sedikit penasaran.

Jalan-jalan yang saya dan keluarga nikmati tak lebih dari tujuh tempat. Padahal, Gyeongsan tempat kami tinggal diapit dua kota metropolitan, Daegu dan Busan. Dari sekian banyak tempat asik untuk jalan bersama keluarga, hanya ada empat tempat yang kami kunjungi di Daegu. Dalseong Park (달성공원) di Dalseong-dong, Jung-gu; Daegu City Children’s Hall (어린이회관); Daegu Stadium; dan Bulguksa Temple. Sementara untuk Busan, pertama kali melangkah di sana untuk bersilahukhuwah dengan keluarga Mbak Shinta, sekaligus pertama kami menikmati ketenangan sebuah mesjid besar di Negeri Dae Jang Geum. Kunjungan kedua, adalah saat acara silakbar. Alhamdulillah dua kali melangkahkan kaki ke Busan bisa berjumpa dengan muslim muslimah Indonesia.

Pijakan kaki ini, melalui acara MT Lab, akhirnya melukis jejak di Pohang dan Jinju. Alhamdulillah bisa menikmati pantai di Pohang dan menikmati suasana ‘desa’ di salah satu pojok Jinju. Lukisan alam dan nuansa di Sancheong-Jinju tak ubahnya lukisan alam sebuah kampung di kaki salah satu gunung ibu pertiwi. MasyaAllah, indahnya. Jauh dari gambaran kota-kota di Korea Selatan pada umumnya.

Sancheong, Jinju

Sancheong, Jinju

Di depan Museum Herbal, Sancheong-Jinju

Di depan Museum Herbal, Sancheong-Jinju

Di samping Museum Herbal, Sancheong-Jinju

Di samping Museum Herbal, Sancheong-Jinju

Korea selatan memang indah. Setidaknya, beberapa tempat yang kami kunjungi membuktikan itu. Namun, semua keindahan itu tak kan pernah bisa mengalahkan keindahan yang terlukis setiap jengkal masa yang kami lalui bersama Keluarga Besar Gyeongsan (KBG). Keindahan yang tak akan usang ditelan waktu. Melainkan kukuh melekat di dalam hati. Setiap kali membuka file foto-foto kebersamaan kami dengan KBG, berkaca-kaca dua bola mata. Rupanya begini rasanya merindu tanah rantauan, yang sudah terasa seperti kampung halaman kedua untuk kami. Merindu mereka, keluarga besar gyeongsan.

Keluarga Besar Gyeongsan

Keluarga Besar Gyeongsan

KBG selepas sholat Idhul Adha, 2012.

KBG selepas sholat Idhul Adha, 2012.

Dan, benar adanya apa yang dituturkan Imam Syafi’i :

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.  Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Jua, dua catatan Darwis Tere Liye berikut semoga mampu menyemangati diri untuk memaknai arti sebenarnya merantau dan berpetualang.

1) Bahkan ketika kita hanya memutuskan duduk diam; kita tetap melakukan perjalanan dalam hidup ini. Coba saja, duduk diam di kamar. Maka waktu akan melintas dari pagi ke siang, dari siang ke sore, dari sore ke malam, dan seterusnya.

Ayo mari, jadi petualang, melihat dunia luas. Melintasi waktu hari demi hari, melewati tempat demi tempat. Itulah kenapa bumi Allah ini dibuat luas, agar kita bisa kemana2.

2) Bagi petualang sejati, maka bukan daftar tujuannya yang penting. Bukan kota apa saja yang sudah dikunjungi, negara apa saja, benua apa saja. Sama sekali bukan itu.

Melainkan pengalaman menakjubkan sepanjang perjalanan tersebut. Orang2 yang ditemui di perjalanan, orang2 yang membantu, teman2 baru, tempat menginap, tempat makan, semuanya, segala sesuatu yang ada dalam perjalanan tersebut.

Maka, meski hanya pergi ke pinggiran kota, mengunjungi tempat dekat dari rumah, memperhatikan perkampungan, pasar, dsbgnya dekat kita, itu juga perjalanan. Sama pentingnya, sama spesialnya menambah pemahaman kita melihat dunia.

Ayo, siapkan bekal. Lihatlah dunia luas. Mumpung masih muda, masih lincah. Tidak perlu uang banyak untuk melakukannya–hanya perlu niat yg banyak. Sungguh, ada banyak rahasia dalam setiap perjalanan, dan kitalah yang akan membukanya. Kita akan bisa menghargai orang lain lebih baik.

Jangan habiskan waktu di jendela rumah, kendaraan, kelas sekolah yang itu-itu saja.

Bismillahirrahmaanirrahiim. Semoga kami dianuggerahiNya kalbu yang mampu mendapati hikmah dari setiap episode pembelajaran hidup di bumiNya yang luas. Kian membuat diri tersungkur dalam syukur. Aamiin.

[Ninomiya House, 11 November 2013]

One response »

  1. Pingback: Merantau part 2 | Alfian Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s