Memakna Romantis

Standard

Rintik hujan menghempaskan ingatan pada suatu malam dalam kehangatan canda dan obrolan sederhana.

“Yang begini yah definisi romantis menurut Nda?” tanyanya sambil mengepel lantai kamar.

“Iya..dong! Gimana nggak romantis tiba-tiba Abi minta Nda duduk bersama anak-anak dan
Abi handle kerjaan yang biasa Nda lakukan. Titik romantisnya itu benar-benar tanpa Nda mintai tolong sebelumnya.” Saya menjawab panjang dengan senyum mengembang.

“Ada lagi kayanya yang masuk kategori romantis menurut Nda. Itu lho Nda saat Abi bantuin Nda bikin cendol,” sambungnya.

“Oh iya banget. Itu sangat romantis. Tapi lebih romantis lagi waktu Abi bantuin bikin risoles buat dijual di acara tabligh akbar dan silaturahim akbar,” saya tetap dengan jawaban panjang.

Seketika hening. Ia berhenti sejenak dan duduk tepat di depan saya.

“Afwan yah Nda jadi ikutan repot jualan buat bantu Abi. Waktu silakbar kerugian tidak akan tertutupi kalau tidak ada risolnya Nda. Makasih yah Ummi..” paparnya.

“Wah yang barusan lebih romantis dari yang sebelumnya,” jawab saya dengan ceria. Terlampau bahagia mendengar ucapan terima kasihnya. “Rugi dan untung dalam hitungan manusia tak lebih hanya menyoal bilangan angka. Kita benar-benar rugi kalau mengukur untung-rugi dengan parameter materi. Itu yang selalu abi ajarkan ke Nda.. Iya kan? Lagian suami istri sudah seharusnya saling bantu.” Saya tetap belum bisa merespon dengan kalimat pendek.

“Eh tapi abi setuju nggak dengan definisi romantisnya Nda? Jangan-jangan abi punya definisi sendiri,” saya balik bertanya.

“Kalau menurut Abi, romantis itu saat abi berusaha memenuhi semua tanggungjawab abi ke Nda dan anak-anak,” paparnya.

“Lebih spesifiknya gimana Abi?” Penasaran mendesak saya kembali bertanya.

“Iya, contohnya waktu Abi jualan kaos di tabligh akbar. Wah itu romantis banget menurut Abi…”

Belum selesai ia jelaskan contoh keromantisan itu, saya tertunduk. Ada aliran panas dalam raut wajah saya dan seketika melumerkan air yang tertahan di pelupuk mata. Namun, tak ingin terlihat olehnya, kelingking kanan segera menghapusnya.

“Itu lebih dari kadar romantis. Itu adalah bukti cinta Abi pada Sang Pemilik Cinta, Illahi Rabbi. Dan Nda bahagia karenanya. Tak ada sumber kebahagian utama buat Nda selain mendapati suami yang tak henti berpikir dan melangkah untuk menunaikan kewajibannya atas akad yang diucapkan dengan asmaNya.” Haru bahagia menyeruak dalam hati. Dan obrolan sederhana itu.. Tatkala dua jiwa mencoba memaknai semua yang terjadi dalam bingkai romantis, berujung pada dekapan yang hangat. Alhamdulillah.

Saya masih dalam suasana haru bahagia. Sementara ia, kembali melanjutkan membersihkan lantai kamar. Dalam hati, haru itu bergemuruh.

Duhai Abi, saat kita bersama merapikan kaos-kaos yang akan dijual itu adalah salah satu momen bahagia Nda. Dan, ketika menyaksikanmu berdiri dan berteriak lantang menawarkan kaos “manon..manon..” air mata ini menganak sungai. Bukan karena malu dan sedih. Tapi karena bangga dan bahagia. Tak semua orang mampu melakukannya. Abi tlah membuktikan tak seharusnya malu dan gengsi itu bertahta di hati menghalangi langkah yang insyaAllah diridhoiNya. Terlebih Rasulullah dan para sahabat justeru mencontohkan ikhtiyar ini, berdagang.

Sungguh selalu terhulur doa semoga setiap pikiran dan langkah Abi dalam menafkahi kami menjadi pemberat timbangan kebaikan di hari penghisaban kelak. Dan menjadikan abi sebagai salah satu penghuni surgaNya. Aamiin allohumma aamiin.

4 responses »

  1. deuhhh nda…jadi inget diri sendiri.. biarpun suami ga memakai dasi dan jas, cukup celana jeans dan kaos, naik mobil pick up, menawarkan barang dagangan ke toko2..tapi bikin bangga banget deh……selamat beromantis ria buat nda dan kak al..akan banyak hal2 romantis lainnya kedepannya,..pasti!! insya Allah!!!!

    • Sama Lis..ka al juga ttp dengan stylenya dia yg suka pake kaos. Ciri khas anak TEP pokonya Hehe. alhamdulillah iya bangga bgt liat suami usaha itu yah.. Istrinya jadi ketularan, ngebet pengen jualan apa gitu..🙂
      Aamiin..mudah2an tambah romantis hihi.

  2. wah… nda dah punya blog yah, bagus tulisannya nda, suka deh baca tulisan nda sepanjang apapun jg :p ,, terharu bacanya aye, diam2 k’al romantis jg, hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s