Semalam di Fatima

Standard

Proses persalinan baru usai. Alhamdulillah, semuanya dimudahkan-Nya. Sesaat setelah pemeriksaan tekanan darah, saya dipindah ke ruang perawatan (kamar inap/입원실) di lantai lima. Akhirnya saya bisa menatap wajah si sulung Wafa setelah kurang lebih satu jam ia menunggu di luar ruang persalinan. Jujur, selama menikmati alunan kontraksi bahkan sampai detik persalinan, pikiran saya tak bisa berpaling dari Wafa. Mungkin hal ini tak sengaja mengalihkan pikiran saya dari rasa sakit. AllohuAkbar.

Aah, ruangan yang nyaman. Padahal itu adalah kelas yang paling akhir. Ya, satu ruang perawatan untuk empat orang. Biaya pun gratis. Berderet empat buah ranjang dan masing-masing ada ranjang kecil tambahan untuk keluarga yang menemani juga meja kecil. Setiap ranjang full tirai. Ada empat buah lemari pakaian, satu buah kulkas besar, TV, dan satu kamar mandi di pojok ruangan. Lampu kecil mengelilingi lampu utama di atas setiap ranjang. Untuk saya, benar-benar nyaman. Terlebih saya mendapatkan ranjang ke tiga, tepat di samping jendela.

Kala itu, hanya ada seorang ibu yang berusia lanjut. Ia terbaring di ranjang pertama dengan peralatan medis yang terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Selama saya menjadi penghuni kamar itu, tak saya dapati satu pengunjung pun yang menengoknya. Dan ia pun benar-benar hanya berbaring. Sesekali ia melempar senyum ramahnya. Benar-benar perempuan tangguh.

Pandangan saya kembali berujung di tirai coklat bergambar bunga yang terpasang mengelili ranjang. Seorang perawat mengecek kondisi perut dan memijatnya untuk mengeluarkan sisa darah kotor. Kemudian saya berganti baju dan kembali berbaring. Selepas itu, saya pun bebas bercengkrama dengan suami dan Wafa. Alhamdulillah. Selang beberapa menit, ranjang ke empat tepat di sebelah saya, terisi. Ternyata saya kembali bersebelahan dengan ibu yang merintih selama di ruang persalinan. Akhirnya, proses persalinannya telah ia lalui. Saya ikut bahagia.

Rintihan itu masih berlanjut. Ibu yang di sebelah saya tampaknya masih merasakan sakit pasca persalinan. Bahkan ia harus mengonsumsi obat yang cukup banyak. MasyaAllah, memang menjadi ibu itu penuh perjuangan. Suara Wafa yang mengajak saya bermain dan bercerita jelas menjadi suara tandingan untuk rintihan ibu tadi. Ahh, kenyamanan ruangan sedikit berkurang. Karena itu, saya meminta ijin ke perawat untuk berjalan atau duduk di depan ruangan. Saat itu belum sampai dua jam pasca persalinan. Saya diijinkan bermobilisasi, namun hanya di dalam ruangan. Itu tak memberikan arti. Jelas, ruangan itu harus dalam keadaan gelap karena semuanya ingin beristirahat di tengah malam. Saya kembali meyakinkan perawat kalau kondisi saya baik, tak merasa pusing atau sakit di bagian jalan lahir. Akhirnya, ia mengijinkan.

Koridor depan ruangan terasa sepi. Semua gerakan lembut mampu memecah kesunyian. Jelas, tak ada aktivitas selain beberapa perawat yang sedang menjalankan tugasnya. Bahkan suara air yang mengalir dari dispenser pun begitu nyata terdengar. Ternyata, pukul 00.20 KST. Wafa asik mengamati selang infus yang terhubung ke tangan kiri saya. Ia sesekali mendorong penyangga infusannya. Mengingat momen itu, sungguh luar biasa. Melumerkan genangan di pelupuk mata. Wafa sayang, gomawo sudah menemani Ummi. Rabbana, sungguh Engkau-lah tempat hamba memohon dan berlindung. Engkau pula yang terbaik penjagaannya. Dalam limpahan kasih sayang-Mu, kami bisa melalui semuanya dengan mudah. Segala puji bagi-Mu, Rabb semesta alam.

Menemani Wafa bermain, sesaat pasca persalinan.

Sejam berselang, Wafa sudah merasa bosan. Saya berusaha mengajaknya tidur tepat disamping saya. Tapi, rupanya ruangan itu tak senyaman kamar kecil kami. Saya mengalihkan kebosanannya dengan mengajaknya kembali keluar dan makan makanan ringan. Tak terlalu berhasil. Melihat ketidaknyamanannya, saya meminta suami mengajaknya pulang dan beristirahat di rumah. Saat itu pukul 02.00. Sedih rasanya, melepas Wafa pulang dan membayangkan ia harus berjalan sebentar menembus suhu minus menuju tempat pemberhentian taksi. Alhamdulillah, jeda beberapa menit suami mengirim pesan bahwa mereka sudah berada di dalam taksi dan Wafa pun tertidur.

Tinggalah saya sendiri. Benar-benar sendiri. Gelap, tak terdengar aktivitas apapun selain rintihan ibu di samping saya. Selang beberapa menit infusan dibuka. Saya leluasa bergerak.

Saya merogoh tas yang ada di bawah meja. Tangan ini mendapati sebungkus coklat TOP. Lapar sementara hilang. Ada nasi dan lauk di dalam tas, namun rasanya makan coklat itu lebih enak saat itu. Rupanya, tak hanya Wafa. Saya pun sulit untuk bisa tidur. Suara rintihan itu jelas terdengar. Bahkan sesekali bertambah keras memecah kesunyian ruang. Saya pun beranjak dari ranjang dan duduk di kursi ruang tunggu. Sesekali perawat menyapa.

Pukul tiga pagi. Semua masih sama. Saya tetap terjaga. Dan setengah jam kemudian saya diminta untuk ke lantai empat untuk membersihkan daerah kewanitaan pasca persalinan. Duduk beberapa menit di atas 좌욕실.

좌욕실

Sepanjang malam terjaga dalam baringan berseling duduk sebentar. Sampai, mentari pagi menyapa lembut menembus jendela tepat di samping kiri saya. Siji di pagi hari itu indah. Sepi, jauh dari lalu lalang kendaraan. Menunggu hidangan sarapan, saya duduk bersandar ke dinding sambil membaca salah satu buku karya Raditya Dika. Buku berjudul Cinta Brontosaurus itu manjur membuat saya tertawa sendiri.

‘Merina Linda nim..’ suara ajumma mengalihkan perhatian saya. Ternyata beliau mengantarkan sarapan. Heran, kenapa sampai dipanggil nama. Padahal di kamar itu jelas hanya saya yang warga asing dan tertulis jelas nama saya di depan ranjang. Rupanya, menu sarapan saya sedikit berbeda. Alhamdulillah, permintaan saya yang disampaikan Onni untuk menu makanan ini disanggupi pihak RS. Semua menu tanpa daging, aman untuk muslim.

Saya berjalan ke depan ruangan mencari ajumma pengantar sarapan. Saya letakkan tempat sajian itu di tempatnya. Sekilas saya mendengar percakapan dua orang perawat. Kurang lebih mereka membicarakan saya yang sendirian tanpa keluarga yang jaga. Saya tersenyum. Beberapa langkah kemudian salah satu perawat tadi menghampiri. Ia bertanya kenapa tak ada keluarga yang jaga. Saya menjawab singkat. Dan ia pun tersenyum.

Siji kembali terang dengan sinaran mentari di pagi yang dingin. Alhamdulillah, dapat kunjungan dari keluarga Mbak Ocha, disusul kedatangan Wafa dan abinya. Suasana kembali ramai. Kami bergegas ke lantai tiga, menyapa Athifa di ruang bayi. Saya menyusuinya untuk pertama kali. Amazing.

Beberapa menit dari kepulangan keluarga Mbak Ocha, Onni datang menjenguk. Kala itu saya sedang asik menemani Wafa nonton film Dibo di komputer pojok ruangan. Melihat kondisi saya yang sudah bisa berjalan seperti biasa, Onni sedikit kaget. Pikirnya, saya masih terbaring.

“Onni, mungkinkah saya pulang hari ini?” tanya saya pada Onni.

“Kamu benar-benar sudah pulih dan merasa baik-baik saja?” Ia bertanya memastikan kondisi saya.

“Iya, saya baik-baik saja. Kasihan Wafa kalau saya terus di sini sampai besok’ jawab saya.

“OK, saya ke dokter sekarang” tegasnya. Onni pun bergegas menuju ruang praktek obgyn di lantai satu.

Kira-kira setengah jam kemudian obgyn datang. Beliau mengucapkan selamat untuk kelahiran Athifa. Beliau adalah obgyn yang memeriksa kehamilan saya namun bukan yang membantu persalinan. Kebijakan Fatima, setiap malam dokter jaga yang ada semua laki-laki. Dan, karena persalinan terjadi di malam hari, dokter jagalah yang membantu persalinan saya.

“Semua baik, kamu boleh pulang sekarang. Saya tahu kamu mengkhawatirkan anak pertama kamu. Tapi, minggu depan kesini lagi untuk pemeriksaan selanjutnya” papar obgyn cantik dengan senyum ramahnya.

Onni segera menyelesaikan urusan administrasi dan meminta certificate of birth [출생증명서] dalam dua bahasa (Korea dan Inggris) untuk mengurus pembuatan passpor dan aliencard Athifa. Sementara itu saya berkemas. Memastikan tidak ada barang yang tertinggal.

Langkah kami berlanjut ke lantai tiga menjemput Athifa. Kemudian terakhir kami harus ke lantai dua untuk bertemu dokter anak. Beliau memastikan kondisi Athifa sehat, dan menjadwalkan test darah pekan depan untuk Athifa karena ada beberapa data belum diambil mengingat biasanya test darah dilakukan di hari kedua. Aah, lega rasanya saat Athifa sudah berada dipangkuan dan kami siap pulang. Saya pun berpamitan dengan obgyn dan perawat-perawat. Semalam di Fatima adalah momen yang penuh haru bahagi, Pengalaman yang sarat dengan kejutan. Semua kemudahan adalah pertolonganNya. AllohuAkbar!

Diantar Onni kami pun meluncur ke Sampungdong. Alhamdulillah sampai di rumah dengan selamat dan bahagia karena telah bertambah penghuninya, si kecil Athifa. Saya sibuk membereskan kamar, Onni pun tampak mengamati sesuatu. Ternyata, ia memastikan semua kebutuhan awal Athifa. Ia kemudian pamit, kami pun tersenyum mengantarnya sampai ke depan rumah. Namun selang empat puluh menit kemudian Onni datang membawa cotton ball [kapas steril berbentuk bulat untuk membersihkan pusar Athifa], dan dua dus diapers [6 pack diapers]. MasyaAllah rupanya ia mengamati kalau saya memang belum menyiapkan itu semua. Ia berikan semuanya sebagai hadiah atas kehadiran Athifa. Terharu. Tidak sampai disitu. Ia pun datang tiap pagi selama sepekan lebih mengantarkan sup miyok [rumput laut] dan memastikan ASI saya keluar. Sesekali ia menelpon bertanya apa yang saya butuhkan. Makin larut dalam syukur. Terpanjat doa, semoga Onni segera meraih hidayahNya, aamiin.

Betul kiranya bahwa pertolongan Allah SWT itu dekat. Pertolongan itu hadir lewat siapa saja. Keluarga besar Gyeongsan bahkan lewat tangan yang belum mengenalNya sekalipun. Jauh dari keluarga dan kerabat bukan berarti kita tak mampu merasakan hangatnya harmoni kebersamaan. Karena, kehadiran keluarga besar Gyeongsan dan keluarga Onni adalah gambaran keluarga yang saya dapati di perantaun. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s