Komunikasi Kekuasaan vs Komunikasi Respek

Standard

Tak dipungkiri dalam kehidupan keseharian kita di keluarga, anggota keluarga yang satu akan membutuhkan bantuan, dukungan, asistensi dari keluarga yang lain. Suami meminta bantuan istri, istri meminta bantuan suami. Kakak meminta bantuan adik, adik meminta bantuan kakak. Anak meminta bantuan orangtua, orangtua meminta bantuan anak. Juga orangtua meminta bantuan anak dan anak meminta bantuan orangtua.

Meski bisa saja orang yang di bawah meminta bantuan yang di atas, dalam kasus keluarga dan kehidupan yang sering terjadi adalah orang yang di atas yang memiliki potensi lebih untuk meminta bantuan yang di bawah. Lebih sering mana: karyawan meminta bantuan pimpinan perusahaan atau pimpinan perusahaan meminta bantuan karyawan?

Demikian juga antara orangtua dan anak, bisa jadi permintaan bantuan orangtua pada anak setelah anak melewati masa balitanya yaitu untuk mengambilkan minuman, buku, gunting, dan lain-lain bisa jadi lebih sering daripada anak yang meminta bantuan orangtua.  Atau orangtua meminta anak melakukan sesuatu yang memang seharusnya dilakukan anak demi kepentingan bersama keluarga atau demi kepentingan ank sendiri: membereskan mainan, merapikan tempat tidur, dan seterusnya.

Ada dua teknik komunikasi yang biasanya dilakukan orangtua (communicator) saat meminta anak melakukan sesuatu: memberi perintah atau memberikan permintaan. Yang satu merupakan teknik komunikasi yang berlatar belakang kekuasaan dan yang satu lagi berlatar belakang menghormati dan respek.

Dalam sisi orang yang menerima pesan (communicatee), jauh lebih menyenangkan jika diminta daripada diperintahkan. Ketika memerintah, kalimat yang digunakan adalah kalimat instruktif dengan akhiran tanda seru jika diilustrasikan dalam sebuah kalimat. Berbeda dengan memberikan permintaan. Memberikan permintaan akan cenderung meminta dengan suara yang lebih menyejukkan dan biasanya dalam bentuk pertanyaaan.

Memberikan permintaan juga berarti memberikan respek kepada seseorang yang menerimanya. Bahkan kita juga menyampaikan maksud tersirat bahwa kita meminta tanggung jawab atas perilaku anak. Memberikan permintaan tidak berarti kemudian kita menyerahkan begitu saja “terserah” anak. Tetapi kita memberi kesempatan anak untuk berpikir dan memberikan kerjasama.

Berbeda dengan memerintah yang tidak membutuhkan keterlibatan anak, pokoknya harus mau, harus nurut! Memberikan permintaan meski bisa jadi juga memaksa, lebih melibatkan pikiran anak dan memberi kesempatan anak untuk “memberikan umpan balik” pesan yang kita berikan. Tentu saja memerintah anak masih diperbolehkan, tetapi seharusnay memberikan PERINTAH haruslah menjadi jalan terakhir setelah dengan cara memberikan PERMINTAAN dianggap gagal!

Ok begini, menurut Anda mana yang lebih berkesan jika Anda jadi anak ketika orangtua Anda meminta Anda untuk memindahkan mainan di depan pintu karena menghalangi jalan orangtua A atau orangtua B seperti contoh di bawah?

A: Tolong dong mainnya jangan di depan pintu. Kalau mau di luar atau di dalam. Jangan di depan pintu. Itu menghalangi jalan. Ayo pindah!

B: Ayah susah lewat nih jika kalian di depan pintu. Bisakah kalian geser mainan kalian agar orang-orang tidak kesulitan lewat pintu ini?

Tidak dapat dipungkiri, kadang-kadang permintaan itu tidak selalu berhasil. Tidak apa. Anak-anak bukanlah orang dewasa dan kadang-kadang mereka juga akan menguji orangtuanya. Mungkin mereka akan diam saja di depan pintu dan sengaja menunggu reaksi apa yang akan diberikan orangtuanya jika mereka diam saja. Dalam kasus ini, memberiktan PERINTAH barulah dapat dilakukan setelah upaya memberikan PERMINTAAN dianggap gagal.

Masalahnya adalah apakah memang setiap memberikan permintaan selalu gagal pula hasilnya? Tidak mungkin kan? Jika pun banyak gagalnya, harus dicari sebab kenapa banyak gagal? Ini bukan masalah teknik komunikasinya yang salah tapi karena hubungan  pola asuh yang jauh hari dibangun sebelumnya. Tentang bagaimana menerapkan konsistensi, tentang bagaimana kedekatan emosional antara orangtua dan anak dan seterusnya.

Perintah berkarakter negatif, permintaan berkarakter positif. Banyak yang cenderung menjadi merasa subordinat jika diperintahkan sesuatu. Permintaan menunjukkan rasa hormat, mengedepankan kerjasama bukan kekuasaan. Mengedapankan pilihan-pilihan bukan pemaksaaan kehendak.

Bentuk-bentuk perintah bisa berbagai macam mulai yang paling halus yaitu dalam kalimat yang dibubuhi kata “tolong” sampai dengan kalimat-kalimat yang berisi: teriakan, omelan, makian dan ancaman. Semakin banyak menggunakan metode ini semakin tidak nyaman hubungan orangtua dan anak.

Saya sering berkata, berkata lembut pada anak itu wajib, tapi “haram” hukumnya lembek pada anak. Karena itu orangtua harus punya otoritas di satu sisi, orangtua juga harus dihormati oleh anak agar suatu saat memiliki daya “paksa” agar dapat memiliki wewenang dan modal untuk dapat mengendalikan anak. Tetapi, di sisi lain setelah kewenangan dan otoritas Orangtua miliki, please jangan digunakan sembarangan. Setelah punya oritites ya jangan otoriter!

Memberikan permintaan bukan berarti menyerahkan sepenuhnya pada anak. Tidak, tidak begitu. Memberikan permintaan berarti memberi kesempatan anak untuk betanggung jawab dan Anda memberikan ketegasan atau meminta bantuan pada anak dengan cara yang menyenangkan.

Ok mari kita berlatih untuk sekadar dijadikan contoh-contoh. Modul ini mungkin bisa Anda kembangkan dalam kasus-kasus lainnya. A: memberikan perintah, B: memberikan permintaan

A: Mama haus. Tolong dong, salah satu anak Mama, ambilkan minum untuk Mama

B: Mama haus. Siapa yang mau ambilkan minum untuk Mama?

A: Dek, bukunya berserakan begini. Ayo dong bertanggung jawab. Beresin lagi deh!

B: Dek, bukunya berserakan begini. Bisa kan Adek bertanggung jawab membereskan?

A: Kalau mau main keluar pake topi ya, panas!

B: Kalau mau main keluar karena panas, biar tidak panas, enak pake topi atau tidak?

A: Abang, nyalakan air ya!

B: Abang, boleh nyalakan air?

A: Mbak, boleh saja dengerin musik, tapi musiknya jangan keras-keras dong, yang lain keganggu!

B: Mbak, boleh saja dengerin musik, tapi yang lain mungkin terganggu, coba kasi tau mama bagaimana caranya biar mbak bisa masih bisa menikmati musik dan yang lain tak terganggu?

Selamat berlatih. Salam Orangtua Shalih!

 

Oleh Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari [Direktur Auladi Parenting School]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s