Di Sebuah Ruang Bernama Bunmansil

Standard

Sebetulnya kisah ini sudah 7,5 bulan berlalu. Namun, nyatanya masih segar dalam ingatan. Terasa baru kemarin berlangsung. Mengingatnya, membuat diri semakin malu. Bagaimana tidak, Allah SWT nyata memberikan semua pertolongan-Nya dalam waktu yang tak disangka. Sedangkan diri ini, tak jarang alpa dalam keteguhan penghambaan. Sungguh, DIA Maha Penyayang lagi Maha Pengasih, yang Maha Mengetahui setiap kebutuhan hamba-Nya dan DIA pula lah yang mencukupkan semua kebutuhan hamba-Nya.

Kala itu, waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Saat kaki ini, melangkah keluar dari lift di lantai tiga Fatima Women’s Hospital. Hanya pendaran lampu dari ruang bayi yang menjadi satu-satunya sumber cahaya di lantai itu. Dan, dalam pendaran lampu yang lembut, saya dekati setiap pintu ruangan. Mencoba membaca setiap keterangannya dalam suasana remang-remang. Ada tiga ruangan yang saya dapati; 신생아실 (ruang bayi), 모유수유실 (ruang menyusui), dan 분만실 (ruang bersalin). Aah, dimanakah ruang 분만대기실 (ruang tunggu sesaat sebelum melahirkan, saat kontraksi)? Dalam pikiran saya, ruang bersalin itu adalah ruang saat bayi siap dilahirkan. Tak ada pula ruang perawat (간호사실) di lantai tiga. Nyaris tak ada aktivitas yang saya lihat. Tak ada orang yang bisa saya tanya.

Tiba-tiba pintu bunmansil terbuka sekejap. Akhirnya, saya lihat aktivitas di sana. Setelah suami menekan tiga digit angka tepat di samping tulisan bunmansil, seorang perawat menyapa dari dalam. Dan, pintu pun terbuka lebar.

“배 아파요?” (Bae apayo?), tanya seorang perawat yang berusia kira-kira 40 tahun, sigap menyambut saya. Kurang lebih ia bertanya apakah perutnya sakit atau lebih luwesnya apakah saya sudah merasakan kontraksi?

“네, 아파요.” (Ne, apayo). Saya pun mengiyakan.

“많이 아파요?” (Mani apayo?). Ia kembali bertanya untuk menegaskan apakah saya sudah merasakan sakit yang luar biasa?

“아니오 , 아직 조금 아파요” (Anio, ajik jogeum apayo). Saya berusaha menyampaikan bahwa sakit yang saya rasakan masih biasa, belum terlalu sakit.

Aah, lihatlah betapa kacaunya saya berbicara bahasa Korea. Tapi, untungnya perawatnya mengerti apa yang saya coba sampaikan. Sampai di dalam ruangan, saya baru menyadari bahwa ruang 분만대기실 yang saya lihat di website Fatima ternyata berada dalam satu ruangan dengan ruang bersalin utama (Bunmansil-분만실). Dan, saat itu ada dua perawat yang bertugas.

Tak lama kemudian, saya menjalani beberapa pemeriksaan. Pemeriksaan pertama adalah pemeriksaan jalan lahir (bukaan). Dan, betul adanya saat itu sudah sampai pembukaan tiga. Pemeriksaan kedua adalah pemeriksaan detak jantung janin selama 20 menit. Hasil pemeriksaan semuanya baik, alhamdulillah. Selanjutnya adalah persiapan teknis jelang proses persalinan. Mulai dari pemberian pencahar, berganti kostum, sampai pemasangan infus. Setelah semua persiapan selesai, saya berbaring mencoba memfokuskan diri dan pikiran untuk tetap rileks. Berdoa untuk kelancaran proses berikutnya. Berusaha memvisualisasikan posisi bayi yang sebentar lagi akan hadir.

Perawat muda menghampiri saya. Ia menawarkan suatu prosedur. Saya mengerutkan alis, berusaha keras mencerna apa yang disampaikannya. Setelah ia memperagakan suntik di tulang belakang, saya paham. Ia menawarkan pemberian obat anti nyeri.

“아니요.그냥 나와요” (Aniyo. Keunyang nawayo). Saya menolak dengan kalimat spontan yang entah ia paham atau tidak.

“하지만, 많이 아파요,” (Hajiman, mani apayo) sambungnya. Beruntungnya saya. Ternyata ia paham jawaban spontan saya yang benar-benar asal. Namun, ia tetap mencoba menyampaikan bahwa saya akan merasakan sakit yang luar biasa tanpa pereda nyeri tersebut.

“괜찮아요,” (Kwencanayo) jawab saya.

Selanjutnya perawat muda itu meminta saya menandatangani beberapa lembar kertas. Aahh, semuanya berhuruf hangeul. Alhamdulillah ada beberapa kata kunci yang saya tangkap dari obrolannya. Ya, yang saya tanda tangani adalah surat pernyataan saya untuk tidak menggunakan obat anti nyeri, surat pernyataan bahwa saya telah melakukan semua prosedur pemeriksaan dan persiapan teknis persalinan, juga lampiran tentang fasilitas yang saya pilih. Akhirnya, semua beres. Saya kembali berbaring.

Selama pemeriksaan dan persiapan persalinan, suami tetap di luar ruangan bersama Wafa juga sahabat suami yang dengan ketulusannya bersedia mengantar kami ke RS. Bahkan beliau menawarkan bantuan lainnya untuk menemani Wafa supaya suami bisa menemani saya.

Kebijakan RS saat itu, anak kecil tidak diperkenankan memasuki ruang persalinan. Hal ini sudah saya dan suami diskusikan jauh hari. Dan, sudah ada dalam perencanaan kami, bahwasanya suami tetap akan menjaga Wafa dan saya sudah menyiapkan diri bila harus sendirian selama persalinan.

Mendapati tawaran bantuan dari beliau, jelas kami bersyukur. Namun, dalam obrolan singkat kami ketika suami berkesempatan melihat saya setelah selesai pemeriksaan, diputuskan bahwa saya tak masalah tetap sendiri selama menunggu persalinan. Dan, kami menerima dengan senang hati bantuan beliau untuk menjaga Wafa ketika proses persalinan saja. Jadi kami meminta beliau untuk kembali beraktivitas sebelum nantinya kami hubungi kembali jika persalinan telah dekat. Pikir kami, jeda ke persalinan itu masih lama. Perkiraan 3-4 jam. Ya, ternyata itu memang hanya sebatas perkiraan.

Saya kembali menikmati ayunan gelombang itu. MasyaAllah, ternyata begini rasanya kontaksi normal. Sekalipun ini proses persalinan ke dua, tapi merasakan kontraksi alami ini yang pertama buat saya. Perawat kembali memeriksa. Pembukaan empat. Waah, cepat sekali. Saya makin fokus untuk membuat pikiran saya serileks mungkin, sekalipun tepat di samping kanan saya ada seorang ibu yang merintih kesakitan.

Oh, begitu mungkin rasanya kalau sudah sampai pembukaan 8, pikir saya kala itu. Ibu itu betul-betul merintih kesakitan dari pertama saya masuk ke dalam ruangan. Perjuangan seorang perempuan untuk menjadi ibu itu memang luar biasa. Saya membaringkan tubuh ke arah kiri. Salah satu cara induksi alami. Sembari mencoba mengatur nafas dan berganti pola nafas (nafas panjang dan dalam, nafas ringan dan pendek) sesuai ayunan gelombang yang di rasa.

Betul, saya terbaring sendiri. Tapi, berbalas pesan dengan Mamah di tanah air tercinta, telpon dari suami, sapaan dari Mbak Ocha dan Onni di telpon membuat saya merasa nyaman. Tak sendiri! Sambil berdzikir saya berniat mendengarkan murotal dan video perkembangan janin yang sudah saya siapkan di dalam handphone. Ah, sayang, saya lupa membawa headset. Akhirnya saya terus berusaha memfokuskan diri untuk memikirkan hal-hal indah, berdoa, dan menyerahkan semuanya pada yang Maha Kuasa.

Selang beberapa menit saya kembali diperiksa. Pembukaan lima. Alhamdulillah, semakin dekat dengan kehadiran si kecil. Pola nafas pendek dan ringan sudah sering saya gunakan untuk mengurangi sakit dari gelombang yang semakin kerap hadir. Belum sampai ke mejanya, perawat itu membalikkan badan dan menghampiri saya lagi. Diceknya, sudah sampai pembukaan enam. AllohuAkbar, bertambah dalam waktu kurang dari 10 menit. Kemudian, kami berbincang sebentar. Perawat itu meminta saya bercerita tentang persalinan pertama. Bermaksud observasi mengenai kelancaran persalinan pertama. Di tengah perbincangan itu, wajahnya berubah menjadi lebih serius.

“양수가 나와요,” (Yangsuga nawayo) Ia memberitahukan bahwa ketuban sudah pecah. Seketika wajahnya kembali penuh senyuman dan melanjutkan perbincangan. Berusaha membuat saya tetap rileks.

“정말요?” (Congmalyo?) Saya bertanya untuk meyakinkan. Dan ia pun mengangguk.

Saya terus berdoa memohon kemudahan. Sampai saat itu saya masih berpikir masih ada jeda waktu sampai pada proses persalinan. Tapi tiba-tiba ajakan untuk mengejan datang dengan kuat. AllohuAkbar. Seketika saya berpegangan kuat pada sisi tempat tidur.

“우리는 지금 분만실에 가요.” (Urineun jigeum bunmansile gayo) Dua orang perawat itu sigap membawa saya ke ruang bersalin.

Saya pun bergegas menelpon suami. Memberitahukan bahwa saya sudah siap melahirkan. Setibanya di dalam ruang bersalin, saya pun berpindah tempat tidur. Mengambil posisi untuk melahirkan dan tetap mengatur nafas. Handphone yang ada dalam saku baju bergetar terus. Petanda ada pesan dan telpon yang masuk. Ya, itu pasti pesan lanjutan dari Mamah dan telpon dari suami. Saya melihat perawat-perawat itu sibuk mempersiapkan semuanya. Dan saya rasa-rasanya ingin terus mengejan. Namun, intruksi itu belum ada.

Tak lama berselang, dokter pun memasuki ruangan. Akhirnya saya diperintahkan untuk mengejan. Dengan kuasa dan pertolongan-Nya, bayi bungil seketika keluar. Bahkan saat itu saya belum menyadari kalau bayi mungil itu sudah betul-betul keluar. Tak ada suara tangis yang kencang. Benar-benar lembut. AllohuAkbar. Tepat pukul 10.45KST kau terlahir Athifa sayang. Dan, ummi mendekapmu erat sesaat kau terlahir. MasyaAllah.

Athifa mungil dibawa perawat ke abinya. Dan saya masih berada di ruang bersalin untuk proses selanjutnya. Ya, karena saya menjalani episiotomi, ada yang harus dirapikan sebelum saya keluar dari ruangan. Setelah semua beres, saya keluar dari ruang bersalin. Tiba-tiba suami masuk dan mendekap saya erat. Ternyata Wafa di luar bersama sahabat suami (Pak Adhin). Rupanya setelah saya memberitahu suami sesaat sebelum persalinan, suami langsung  telpon sahabatnya untuk minta bantuan menemani Wafa. Ya, semuanya diluar dugaan. Saya melahirkan lebih cepat. Ingin kami sampaikan rasa terima kasih untuk Pak Adhin dan keluarga yang telah bersedia direpotkan oleh kami.. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikannya. Aamiin.

Dengan bahagia saya beritahukan kabar kelahiran Athifa pada Mamah dan keluarga di tanah air. Saya pun sengaja telpon Onni. Terang semuanya kaget. Karena terakhir saya kabari masih pembukaan empat. Benar-benar pertolongan Allah SWT yang membuat semuanya tak terduga. Alhamdulillah. Tak lama kemudian saya dipindahkan ke kamar pemulihan di lantai lima setelah didapati tekanan darah saya baik jua kondisi lainnya.

AllohuAkbar. Ketenangan yang saya dapatkan bukan karena secuil ilmu yang saya selami mengenai kehamilan dan persalinan. Bukan pula karena yang lainnya. Tapi, Allah SWT sajalah yang menganugerahkannya. Bukan karena ikhtiar saya yang maksimal menurut praduga manusia yang dhoif, tapi semua kemudahan ini mutlak pertolongan dan kasih sayang-Nya semata.

Ketika saya khawatir tidak bisa menghubungi suami saat komtraksi datang, DIA memberikan sebuah handphone gratis melalui sahabat suami. AllohuAkbar. Alhamdulillah.

Ketika saya berusaha mencari setitik ilmu bahasa Korea yang berhubungan dengan persalinan, DIA menggerakan langkah Onni tepat di hari kontraksi hadir. AllohuAkbar. Alhamdulillah.

Ketika saya berpikir keras bagaimana Wafa selama menjelang persalinan, DIA permudah dan percepat proses persalinan dan pemulihannya.AllohuAkbar. Alhamdulillah.

Tak bermaksud menghitung semua nikmat yang dianugerahkan-Nya, karena memang nikmat itu tak terhitung. Ya Rabb, sungguh Engkaulah sebaik-baik tempat bergantung dan berlindung.

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s