Di Penghujung Kehamilan

Standard

Masa yang dinanti. Di penghujung kehamilan. Hari itu, selasa malam, 14 Februari 2012, kontraksi sesekali mulai dirasa. Masih ringan dan lembut. Muncul tak kenal waktu, dan hilang sendirinya. Sebuah pertanda jelas sudah bertandang. Mulailah saya sibuk di dapur. Menyiapkan lauk pauk untuk bekal kami selama di RS juga untuk cadangan makanan beberapa hari pasca persalinan.

Alhamdulillah, senyum selalu merekah. Sesekali suami tercinta mulai bercanda. Ya, beliau tahu putri keduanya akan segera lahir. Segala usaha dilakukannya untuk membuat saya tetap rileks.

Bukan serta merta ia berusaha tenang dan menenangkan saya, sekalipun memang ia bukan tipe panikan. Sudah ada pembicaraan sebelumnya yang merupakan salah satu plan kami ketika tanda persalinan muncul. Jauh-jauh hari saya sudah mendiskusikan bagaimana kondisi yang nyaman untuk saya ketika kontraksi mulai dirasa, termasuk permintaan saya pada suami untuk mencari bahan candaan sebanyak-banyaknya🙂 Alhamdulillah, ia pun tak sulit melakukannya. Dan ia tak enggan pula membaca setiap artikel seputar kehamilan dan persalinan. Hal tersebut penting dilakukan bersama. Karena bukan hanya si Ibu yang harus berbekal ilmu persalinan, melainkan semua orang terdekat yang akan mendampingi persalinan, khususnya suami. Tak bijak rasanya jika si ibu berhasil menenangkan diri, namun lingkungan malah menciptakan suasana tegang, panik, dan ketidaknyamanan lainnya. Jadi, siapkan segala sesuatu bersama suami. Detail! Sampaikan apa yang harus dilakukan suami untuk membuat kondisi anda nyaman saat persalinan tiba!

Kala itu, malam semakin larut. Saya tetap merasakan gelombang cinta yang menjalar dari panggul belakang ke perut bagian bawah. Saya tetap beraksi di dapur. Menyiapkan beberapa masakan yang bisa tahan beberapa hari; ayam goreng, rendang. Memang, ini kehamilan saya yang kedua, tapi tetap menjadi pengalaman pertama saya merasakan apa itu kontraksi alami. Karena di persalinan anak pertama, saya mengalami ketuban pecah dini, nyaris tak merasakan kontraksi hebat sampai pembukaan 8. Aksi di dapur selesai, saya kembali beristirahat.

Subuh menjelang, kontraksi bertambah kuat. Tak hilang dengan pergantian posisi tubuh. Frekuensinya semakin bertambah. Ya! Persalinan semakin dekat. Suami memutuskan untuk ijin tidak masuk Lab.

Sekitar pukul sepuluh pagi, bel berbunyi. Ternyata Onni, begitu biasanya saya menyapanya, tiba-tiba berkunjung ke rumah. Sudah lebih dari sebulan kami tak bersua, semenjak ia dan keluarganya pindah ke apate depan kampus YU, rasa-rasanya terharu melihatnya datang ke rumah. Mengetahui keadaan saya, Onni mengurungkan niatnya untuk mengajak saya makan di siktang dekat rumah. Ia malahan mengajak Wafa main keluar, memberikan ruang waktu untuk saya beristirahat dan beres-beres kamar bersama suami. Kurang lebih satu jam Wafa diajak main di sekitar kampus.

Begitu nyata pertolongan Allah SWT. Beberapa hari sebelumnya, saya berpikir keras bagaimana caranya bisa berkomunikasi dengan perawat di RS karena keterbatasan saya berbahasa Korea. Allah SWT Maha Mengetahui setiap kebutuhan hamba-Nya. Kuasa-Nya menggerakan langkah Onni ke depan kamar kami di saat yang tepat. MasyaAllah.

Sepulangnya dari mengajak Wafa main, Onni langsung menelpon RS. Ia menanyakan tarif kamar inap, menu makan, dan lainnya. Bahkan, untuk jaga-jaga ia pun menuliskan beberapa kalimat di selembar kertas untuk saya serahkan ke perawat sesampainya di RS. Ia mengajari saya beberapa kosa kata yang berhubungan dengan proses persalinan. AllohuAkbar. Bantuannya membuat saya tenang jika harus sendirian selama menunggu proses persalinan. Saya dan suami sudah sepakat, jika Wafa tidak diijinkan masuk, maka suami tetap menjaga dan menemani Wafa diluar ruangan. Dan, saya sendirian di dalam ruangan. Bismillah…!

Kamar sedikit lebih rapi, bekal makanan tinggal digoreng, semua kebutuhan saya dan bayi sudah ada dalam satu tas jinjing. Belajar beberapa kosa kata persalinan pun sudah dilakukan. Akhirnya, Onni mengajak kami makan di siktang depan kampus. Di sana, kami bertemu teman setanah air dan sekampus😀 Dihidangkan menu makanan korea, jelas saya lahap menghabiskan. Itung-itung menyimpan cadangan energi untuk proses berikutnya. Selesai makan, suami pulang. Saya dan Wafa melanjutkan main bersama Onni dan anak-anaknya. Kami berlima berjalan menyusuri kampus. Kontraksi semakin sering muncul menguat. Awalnya masih bisa dirasa sambil berjalan. Namun, setelah hampir 2 jam di sekitar kampus, perut semakin mengencang. Langkah terhenti setiap kontraksi muncul. Tarikan napas yang dalam pun menjadi pertanda semakin kuatnya kontraksi. Ya, saat itu saya dan Wafa pulang. Begitupun dengan Onni dan si kembar. Sesaat sebelum kami berpisah di depan rumah, Onni berpesan :

“Linda, kalau kamu sudah sampai di Fatima, segera telpon saya. Biar saya yang langsung bicara pada perawat.”

Saya membalasnya dengan senyum dan anggukan.

Rabu sore, 7 jam menuju persalinan

Beberapa saat setelah beristirahat, saya mendapati tanda persalinan lainnya, lendir darah. AllohuAkbar, pertemuan dengan adiknya Wafa semakin dekat🙂 Saya chatting bersama Mba Ocha (drg Deasy Rosalina). Konsultasi seputar tanda persalinan tersebut. Mba Ocha membenarkan apa yang saya baca dari beberapa sumber bahwasanya lendir darah itu petanda sudah sampai di pembukaan 3 sekalipun memang ada beberapa kasus lendir darah terjadi di awal pembukaan. Saya pun mencatat frekuensi dan lamanya setiap kontraksi itu muncul. Polanya semakin meyakinkan bahwa saat itu sudah sampai pada tahap pembukaan 3. Saya menyiapkan bekal makanan segera setelah selesai konsultasi😀 Dan, diantar suaminya Mba Ocha, saya bersama suami dan Wafa berangkat ke RS Fatima di Siji sekitar pukul setengah sembilan malam. Alhamdulillah Allah SWT memberikan pertolongan dan kemudahan lainnya melalui keluarga Mba Ocha. Hanya Allah SWT pula yang mampu membalas dengan kebaikan yang lebih untuk keluarga Mba Ocha dan Onni.

Ini sepenggal bukti bahwa kita tak sendiri sekalipun terbentang jarak yang jauh dari keluarga dan kerabat. Karena sejatinya, dimanapun kita berada, tetap di bumi Allah SWT. Dan, di manapun kita berpijak pertolonganNya begitu dekat melalui tangan-tangan yang dikehendakinya. InsyAllah.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s