Goresan Hati Ini…

Standard

Entah mau nulis apa. Hanya saja, sudah lama tak mengunjungi blog ini. Ada banyak cerita, namun pastinya tak semuanya harus diceritakan. Yang pasti, selain mempersiapkan diri dan targetan untuk bulan ramadhan, ada banyak keinginan untuk bisa melakukan ini dan itu. Yang masih menjadi keinginan.

Hari ini saya baru melihat suatu video di youtube yang berdurasi kurang lebih 1 jam. Video yang mengungkapkan ‘The Real Face of Syiah’  Astagfirulloh, ternyata saya baru tahu bagaimana Iran yang sesungguhnya. Dalam video itu juga ada bagian ketika muslim Iraq menyampaikan keadaan umat muslim di sana. Seorang syaikh ahlusunnah yang mendengarkannya lewat telpon tak kuasa menahan tangis. AllohuAkbar. Saya pun larut dalam kepedihan yang dirasakan mereka. Begitu merindu Islam kembali berjaya. Saya yang tak begitu paham bagaimana Syiah terbentuk, segera berdiskusi dengan suami. Sedikit mendapat pencerahan. Adalah benar, kita harus terus memperkuat aqidah. Dan apa gerangan yang terjadi pada diri ini? Disaat sauadara muslim lain hanya berhadapan dengan dua kondisi, hidup dalam tekanan atau mati syahid, saya masih saja terlena dengan berita-berita dan pembelajaran yang belum layak jadi prioritas. Ingin kembali membaca dan memahami sirah nabawiyah. Suatu pola perjuangan Rasullulloh SAW. Saatnya muslim bersatu, merapat dan berbaris bersama dalam jalan dakwah dan medan perjuangan yang sesungguhnya. AllohuAkbar!

Diantara beberapa berita media, tak hanya menyoal syiria, syiah, burma, dan yang lainnya. Ada titik masa saya tertarik mengikuti berita pilkada Jakarta. Hasil hitung cepat pada pilkada DKI Jakarta yang berlangsung pada 11 Juli lalu masih menjadi buah bibir hingga saat ini. Maklum saja, pasangan petahanan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli yang digadang-gadang berpotensi menang satu putaran oleh berbagai lembaga survei harus puas berada di peringkat kedua. Sementara yang bertengger di peringkat pertama adalah pasangan Jokowi-Ahok. Selintas melihat respon teman-teman di facebook mengenai pilkada ini. Rame juga ternyata. Ada ragam respon. Ada yang bilang, kalau ternyata hasil hitung cepat ini benar, berarti ‘pengalaman’ mampu mengalahkan ‘si ahlinya’ dan juga ‘doktor’. Ada benarnya juga. Toh rakyat sudah bosan dengan janji, sementara Jokowi telah mampu menorehkan prestasi sampai tingkat regional (Asia Pasifik). Solo pun semakin terkenal😀

Tapi, bukan itu yang menjadi sorotan curhatan saya. Mungkin sama sedihnya dengan rekan-rekan dan simpatisan yang mengusung partai islam(i), saya pun sedih dengan posisi di hasil hitung cepat untuk Partai Islam(i) ini. Bukan masalah menang dan kalah, tapi saya sedih dengan perbedaan dalam memahami jalan dakwah yang sesungguhnya. Mengutip kalimat seorang sahabat,

“Saatnya partai Islam introspeksi diri… Ternyata banyak sekali *silent readers* di tengah umat… Kemenangan sejati bukanlah ketika menang pilkada atau pemilu… tetapi ketika dengan usaha dan ijin Allah partai islam memenangkan *hati* para *silent readers* ini…

Keberhasilan sesungguhnya bukanlah ketika anggota partai Islam menjadi gubernur, walikota, atau presiden sekalipun… bukan juga ketika berhasil mendudukkan MUSLIM sbg pemimpin NAMUN keberhasilan sejati adlh ketika umat Islam mampu mendudukkan ISLAM sbg pengatur dan pemimpin... maka wahai partai Islam kembalilah kpd Islam insya Allah, Allah dan ummat akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu…

Bukankah sebuah kemenangan itu mudah bagi Allah SWT? Dan bukankah proses yang Allah SWT pinta sebagai bukti kemurnian aqidah kita? Bukankah jelas Rasullulloh SAW mencontohkan pola perjuangan yang tegas, hitam dan putih? Bukankah nyata Al Quran memerintahkan ‘Janganlah kamu mencampuradukkan yang haq dan yang bathil”? Wallohua’lam. Mungkin ini hanya segurat kecil pemahaman saya.

Teman, mungkin benar kita berada dalam kendaraan dakwah yang berbeda. Tapi, jikalau tujuan kita sama, tak mungkin kita saling menjauh. Karena bisa jadi start awal kita berada dalam titik yang beda, namun tetap tujuan yang sama harusnya mempertemukan kita. Terlebih ditengah kondisi dunia islam yang sedang bergejolak saat ini.

Tak mengapa kita tetap fokus dengan peran masing-masing dalam kendaraan itu, tapi bukan berarti tak ada kecintaan antara kita. Karena, kalau tujuan kita sama, kita akan saling menyayangi karena Allah semata. Bukan karena kendaraan yang kita tumpangi sementara. Bukan karena harokah. karena kita yakini hal yang sama, bahwasanya kita akan dimintai pertanggungjawaban satu per satu, bukan per harokah.

Kalau kita ada dalam satu tujuan yang sama, sudi kiranya kita duduk bersama dalam suatu acara atau majelis. Jangan pernah kau sandingkan prasangka baik hanya karena teman sekendaraan dan kau simpan curiga untuk saudara muslim di kendaraan lainnya. Kita sedang berjalan bersama. Melindungi kendaraan dari serangan musuh adalah suatu keharusan. Dan sudah suatu kewajiban kita untuk saling membahu memupuk kekuatan untuk tujuan kita yang sama.

Jadi berkaca-kaca.. Terekam jelas semua yang pernah saya alami semasa kuliah. Merasa terasing di tengah mereka. Sungguh, jika saja bukan karena saya butuh berada di jalan ini, sudah saya perturutkan prasangka yang timbul dari semua perlakuan itu. Dan benar, semua perlakuan itu mengajarkan saya bahwa hanya mengingat-Nya-lah hati menjadi tenteram dan kembali menguatkan diri untuk terus melangkah mencari kebenaran sejati. InsyaAllah.

Gyeongsan 16 Juli 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s