Antara Laos dan Lengkuas

Standard

Beberapa kali mempertimbangkan haruskah cerita seperti ini di posting di sini? Setelah merenung, dan bertanya pada lakon cerita, diputuskan untuk ditulis. Lumayan, untuk hiburan kami di masa tua nanti (padahal sekarang juga udah tua). Ya, dibanding banyak yang menulis kisah sedih berumah tangga, bahkan pertengkaran suami istri, mendingan menulis hal-hal yang bisa membuat kita tersenyum.

OK! Begini ceritanya…,

Sabtu sore, 30 Juni 2012, suami bersiap untuk menghadiri pengajian di Mesjid Al Amin, Daegu. Sesaat sebelum berangkat,

“Abi, boleh Nda nitip beliin sesuatu di WI? Ini pun kalau memungkinkan,” tanya saya pada suami. “Eh jam berapa selesai acaranya? Sempet nggak yah?” sambung saya lagi.

“InsyaAllah bisa. Mau nitip apa? Abi pulang ba’da isya dari sana.”

“Oh gitu. Alhamdulillah bisa nitip beliin lengkuas dong yah,” timpal saya.

“Lengkuas itu yang gimana Nda?” Pertanyaannya mulai membuat saya tersenyum.

“Yaa, lengkuas,” jawab saya singkat. “Ada tulisannya koq Abi, jadi tinggal baca aja kemasannya,” tambah saya berusaha membuat lebih jelas.

“Iya, nanti dicari”

Berangkatlah ia menuju Mesjid Al Amin. Saya kembali ke rutinitas semula, ngasuh krucils.

Sekitar pukul 23.30 KST suami sampai di rumah. Ah, bahagianya ia sampai dengan selamat.

“Ummi, ada cerita lucu. Tadi abi diketawain orang-orang di WI,” suami membuka wacana. Saya tanpa jeda langsung tertawa. Ntah apa yang membuatnya ditertawakan orang, tapi pasti itu hal memalukan😀

“Memangnya kenapa?” tanya saya sambil menahan tawa.

“Nggak ada tulisan lengkuas di kemasannya. Adanya dalam bahasa inggris, dan abi nggak tahu bahasa inggrisnya lengkuas.” Suami mulai bercerita.

“Trus,..” sambung saya menanti cerita lengkapnya.

“Trus abi tanya sama Pak Har, ini lengkuas bukan?” sambungnya. “Pa Har bilang : bukan Mas Alfian, lengkuas bukan begini” tambahnya.

“Hmm…terus terus,” saya menanti bagian utama cerita lucunya.

“Trus abi tanya aja sama Mbak yang di kasir. Nah kebetulan lagi banyak orang di sekitar kasir juga yang lagi pada makan malam. Begini nih ceritanya,” suami antusias bercerita.

Abi : “Mbak ini apa yah?” sambil menunjukkan sebungkus rempah kering dengan kemasan bertuliskan ‘Dried Galanga”

Mbak kasir : “Ohh itu laos, Mas”

Abi : “Ohh, bukan lengkuas yah..”

[sesaat kemudian orang-orang tertawa riang, kkkkk]

Mbak Kasir : “Laos itu ya lengkuas Mas”

[Gubrak, malunya….:D]

Dan seketika saya pun tertawa. Memang selalu ada cerita lucu ketika meminta suami berbelanja. Eits, ceritanya belum berakhir.

“Abi bener-bener ga hapal bentuk lengkuas kering? Kan kita pernah beli” Saya bertanya lebih lanjut.

“Iya abi agak lupa. Makanya abi tanya. Awalnya sih yakin itu lengkuas, tapi kata Pak Har bukan. Ragu dech jadinya,” jawab suami.

“Ahh, Nda tau kenapa abi tanya -Mbak ini apa yah?- bukan tanya -Mbak ini lengkuas yah?-. Nda yakin abi takut yang abi bawa itu beneran lengkuas makanya lebih aman tanya -Mbak ini apa?-. Iya kan?” saya mencoba menganalisa.

“Hahahaha, iya Nda.Kalau abi tanya Mbak ini lengkuas yah? dan ternyata itu benar lengkuas, malu dong”

“Dan kenyataannya, pertanyaan abi tetap menunjukkan ketidaktahuan abi sama wujud lengkuas, bahkan dengan cara yang lebih memalukan lagi.=))”

Kami pun tertawa bersama. Hikmahnya selain kami menjadi terhibur dan mempunyai cerita lucu untuk dikenang. Setidaknya, suami tercinta ingat dengan jelas wujud lengkuas kering bahkan nama lain dari lengkuas yaitu laos tapi bukan negara Lao yang beribukota Vientiane.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s