Menej Diri di Tengah Godaan Dunia Maya

Standard

Tinggal di sebuah negara dengan koneksi internet sangat cepat bahkan pernah tercatat tercepat di seluruh dunia tak pelak membuat saya menambah satu hobi baru, ngenet. Asiknya bisa klik ini itu dengan cepat. Bahkan download sebuah film aja bisa dalam hitungan lima menit. Wow!

Internet dengan segala isinya tentu menuntut kita lebih bijak menyelaminya. Saya pernah pada suatu masa sangat ketergantungan pada media yang bernama internet. Tiada hari tanpa ngenet. Sebetulnya tak masalah, karena memang banyak sekali info dan lain halnya yang saya peroleh. Tapi, belakangan tampa saya sadari, saya telah ‘kecanduan’ teknologi ini. Bagaimana tidak, tengah malam menjelang subuh, saya asik depan laptop atau selepas subuh, saya kembali duduk untuk berselancar di dunia maya. Memang tak lama, maksimal 30 menit. Tapi dilakukan setiap hari tanpa tujuan yang jelas rasa-rasanya sangat tidak bermanfaat. Ini hanya kasus saya. Sampai saya dihadapkan pada masa sulit mengasuh dua orang putri. Saat itu saya berpikir ada yang harus dikorbankan. Saya harus mempunyai waktu lebih lama lagi dengan anak-anak. Dan, ternyata begitu berat melepaskan jadwal harian saya bersama ‘inet’ ini. Dari situlah saya sadar kalau saya sudah sangat ketagihan dengan aktivitas dunia maya.

Tapi, ini kasus saya dua pekan lalu. Ya, sekarang saya sudah memutuskan untuk mengurangi aktivitas saya di dunia maya demi kelancaran pekerjaan utama saya di dunia nyata. Maka, facebook pun mulai terasa membosankan. Pernah, dua kali saya menonaktifkan akun fb. Tapi diprotes keluarga di kampung yang memang hanya punya satu alat untuk komunikasi dengan saya di sini. Ya, keluarga di kampung tak mengenal e-mail. Internet pun tak ada. Mereka hanya sesekali minta bantuan anak tetangga melihat fb saya. Atau ketika ada kakak pulang, baru ngecek fb ke warnet yang jauh dari kampung. Kenapa saya menonaktifkan akun saat itu? Jujur saya selalu tergoda untuk membuka fb setiap saya melihat laptop..huhu. Bahkan sebetulnya kenapa akun saya aktif kembali karena gerakan refleks jemari yang ngetik ID dan password fb. Bukti saya telah kecanduan si jejaring sosial yang satu ini. Sekarang? Semua mulai terkontrol. FB, saya tengok sesekali itupun tak pernah lama.

Mungkin, apa yang saya alami sedang anda rasakan saat ini. Atau mungkin pula telah menjadi masa lalu anda. Tapi tak dipungkiri, inovasi teknologi bisa mengganggu produktivitas kita ketika kita tak bijak menyelaminya. Seperti yang tertuang dalam sebuah artikel berjudul ‘Empat Inovasi Pengganggu Produktivitas’. Artikel yang di tulis Yulia Permata Sari [mediaindonesia.com,04/10/2010] mencatut empat inovasi yang ternyata mampu mencuri waktu produktif kita, yaitu twitter, facebook/online games/social application, pesan instan seperti Yahoo Messenger, Meebo, AOL, sampai BlackBerry Messenger, dan sampah elektronik semisal inbox e-mail yang dibanjiri dengan ratusan message atau desktop komputer yang dipenuhi dengan puluhan file, bisa membuat stres dan mengganggu perhatian.

Anda masih belum percaya? Coba hitung waktu yang anda gunakan untuk twitter-an/fb-an!😀

Dan, alhamdulillah kemarin mendengarkan kajian Ust. Arifin Ilham tentang bagaimana muslim mengisi waktu. Allohuakbar! Saya tertampar. Beliau memaparkan bagaimana seorang muslim menghabiskan waktu sepertiga malam dalam qiyamullail. Menyambungnya dengan tilawah dan tadabur Quran sebelum atau sesudah subuh. Sehingga hal yang pertama dilakukan setiap hari selain menghadapkan wajah dan hati ke hadapan-Nya dalam solat adalah mentadaburi Al-Quran. Memahami satu-satunya pedoman hidup yang akan membawa kita pada keselamatan yang sejati. Mengawali setiap hari dengan kedekatan pada sang pencipta sehingga dunia tidak ada apa-apanya. Semua masalah yang menghampiri di siang hari, kepenatan kerja dan lain-lainnya akan teratasi dengan hati yang telah dibekali Quran. MasyAllah!

Sementara diri ini, tengah malam senyum merekah ketika bisa membuka laptop. Sebelum atau sesudah subuh laptop kembali nyala. Karena waktu-waktu itulah merasa sedikit bebas dari krucil. Astagfirulloh, padahal Allah SWT memberikan keutamaan-keutamaan di waktu-waktu itu untuk memupuk iman.

Sya’ban bertandang, Ramadhan menjelang. Bismillah, semuanya harus lebih baik lagi.

Sebuah renungan,

Gyeongsan, 24 Juni 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s