Memori yang Selalu Menari

Standard

Lagi-lagi belum bisa berpartisipasi dalam audisi menulis bertema sekolah. Seperti biasa, saya masih keteteran merealisasikan jadwal yang sudah tertulis. Tapi, sontak audisi ini mengingatkan saya pada memori yang tak pernah hilang. Lekat dalam ingatan. Dan, ditengah nostalgia pada memori itu, menemukan sebuah tulisan ini. Makin berkaca-kaca jadinya. Sungguh, tiada yang bisa mengubah kehendak-Nya.

—–

Bangku sekolah dan romansa perkuliahan mungkin suatu hal yang biasa untuk kebanyakan orang. Untuk saya, keduanya adalah hal yang begitu mewah. Bagaimana tidak, saat kebanyakan anak ditanya ingin sekolah atau kuliah di mana, saya harus legowo menerima pernyataan ibu dan bapak kala itu. Pernyataan, bukan pertanyaan!

“Saat ini Ibu dan Bapak belum mampu membiayai kamu untuk kuliah. Masih berat dengan biaya kuliahnya Si Kakak. Ditunda aja ya, sampai ada rejekinya.”

Degup jantung bertambah cepat, sesekali menghela napas panjang menahan bulir air mata. Tak ada kata saat itu, diam mematung. Ragam rasa bergelut dalam hati. Kecewa karena harapan jadi seorang mahasiswi pupus sudah. Kesal, lagi-lagi harus mengalah demi Si Kakak. Sedih, entah kapan rejeki itu datang. Namun, seratus persen paham dan sadar kalau kondisinya memang tidak memungkinkan. Si Kakak kuliah di universitas swasta dan Si Bungsu baru masuk SMP.  Saya, bisa merampungkan masa belajar di salah satu SMA Bandung saja sudah sangat beruntung.

Berbekal secercah harapan, saya pun memberanikan diri menyampaikan satu  syarat pada ibu dan bapak. Saya harus ikut SPMB. Lulus atau pun tidak, saya tetap akan menunda kuliah sampai kondisi keuangan keluarga memungkinkan. Ibu dan bapak setuju. Alhamdulillah.

Lulus! Itu adalah hasil ujiannya.

Sontak ibu dan bapak kebingungan. Orang tua mana yang tega melihat semangat dan usaha anaknya harus pudar hanya karena satu masalah, uang! Mendapati kabar diterimanya saya di salah satu perguruan tinggi negeri, ibu dan bapak pun tak mau kalah berjuang. Dan, tidak ada yang bisa menghadang kehendak-Nya. Berkat bantuan kakek yang merelakan kebun-kebunnya berpindah tangan ke orang lain, juga ibu dan bapak yang menyerahkan kepemilikan kolam ikannya, saya pun resmi menjadi seorang mahasiswi.

Ketika dunia seakan terhenti, sakit hati merajai, biarkan diri istirahat sejenak. Namun, itungan detik berikutnya langkah harus tetap terpatri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s