Tahsin Qur’an, Apa dan Bagaimana

Standard

Oleh : Usri Ami

KALAU bacaan Al Fatihah kita tidak sempurna, maka tidak sempurna pula shalat kita. Mending kalau shalat sendiri, kalau jadi imam? Tentu bertanggung jawab dia atas makmumnya. Nah Lho..! Apalagi bagi kaum hawa. Ibu itu Madrasatul Aulad, sekolahnya sang buah hati. Hayo, bisa ngajarin anaknya baca Qur’an tidak nanti?”

Demikian canda seorang ustadz di sela waktu mengajar. Meski dianggap sebuah candaan, sebenarnya terkandung ibrah di dalamnya yang membuat kita sejenak merenung kembali Sudah benarkah bacaan solat dan Al-Qur’an kita selama ini? Jika belum, maka di sinilah kita harus mengenali urgensi belajar tahsin dalam membaca Al-Qur’an.

Tahsin secara bahasa (etimologi) berasal dari ‘hassana-yuhassinu‘ yang artinya ‘membaguskan’ atau ‘memperbaiki’. Kata ini sering digunakan sebagai padanan ‘Tajwid’ yang berasal dari ‘jawwada-yujawwidu‘ yang artinya ‘membaguskan’. Karena itu, jumhur ulama kerap menyamakan pendefinisian tahsin itu dengan tajwid, yakni mengeluarkan setiap huruf hijaiyah sesuai tempat keluarnya (makhorijul huruf)  masing-masing sesuai dengan hak dan mustahaknya.

Dengan kata lain, metode Tahsin ialah metode untuk menyempurnakan semua hal yang berkaitan dengan kesempurnaan pengucapan huruf-huruf Al-Qur’an. Baik kesempurnaan sifat yang senantiasa melekat padanya, maupun pengucapan hukum bacaan satu huruf dengan lainnya seperti hukum nun mati dan tanwin, mim mati, hukum bacaan mad, dan sebagainya.

Lalu, mengapa kita harus belajar tahsin?

Dari sisi definisi, sudah jelas sekali fungsi metode tahsin itu sama dengan tajwid, yakni untuk membagusi bacaan Al-Qur’an. Meninjau kembali firman Allah dalam Q.S. Al Muzammil ayat 4: “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil”, menjadi landasan paling dasar yang tak bisa ditawar bahwa kita harus membaca Kalam-Nya dengan kaidah bacaan sesuai tajwid.

Selain memang perintah, membaca Al-Qur’an dengan prinsip ‘haqqa tilawah’ yakni ‘membaca dengan sebenar-benar bacaan’, sebagaimana diterangkan dalam QS. Al Baqarah: 121, merupakan refleksi keimanan terhadap kitab-Nya. Bahkan jika tidak melaksanakan, diancam kerugian dan kebinasaan abadi di akhirat nanti. Maka semangat untuk mempelajari Al Qur’an dan menyempurnakan bacaannya merupakan bukti kejujuran beriman kepada kitab-Nya.

Alasan selanjutnya, barangkali ini yang paling mudah dipahami secara logika, untuk menghindarkan diri dari kesalahan bacaan. Dalam ilmu tajwid, kesalahan ini dibedakan menjadi dua, Lahn Jaliyydan Lahn KhafiyyLahn Jaliyy merupakan kesalahan fatal yang bisa masuk kategori amaliyah haram, seperti tertukarnya huruf yang dibaca, bahkan harakat dan baris karena kurangnya kehati-hatian. Sedang kesalahan kedua, Lahn Khafiyy, tergolong ringan. Seperti tidak menyempurnakan panjang pendeknya bacaan. Dengan mempelajari Tahsin Al-Qur’an, maka setiap pembaca telah mengenali kesalan ini dan berusaha menghindarinya.

Terlepas dari ketiganya, “Tahsin hanyalah sebuah metode mempelajari Al-Qur’an sesuai kaidah yang benar. Adapun metode lain yang sejenis, tapi bukan tahsin itu hanya beda nama. Sebenarnya inti pembelajarannya sama, untuk membagusi bacaan Al-Qur’an,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s