Menyemai Iman di Hati Anak dengan Al-Qur’an

Standard

” Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kedua orangtuanyalah yang berperan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi ” (Al-Hadist)

Begitulah pesan Rasulullah SAW kepada setiap ayah dan ibu yang beriman kepada Allah SWT. Gambaran tersebut di lapangan adalah seorang anak bagaikan lembaran kain putih bersih yang luas dan tidak bernoda sedikitpun. Kain itu siap dilukis dan diwarnai dengan apa saja yang diinginkan lingkungannya (terlebih orangtuanya) karena merekalah lingkungan terdekat seorang anak. Jika orangtua melukis di lembaran kain putih itu dengan lukisan iman, islam, Al-Quran, dan ittiba’ur rasul, niscaya kebahagiaan itu tidak hanya dialami sang anak, melainkan kedua orangtuanya pun ikut merasakan. Rasululah SAW pernah menjelaskan kepada para orangtua di kalangan para sahabat :

” Pada hari Kiamat nanti, Allah akan memberikan penghargaan kepada setiap bapak dan ibu di hadapan seluruh manusia sejagad berupa mahkota kemuliaan yang sinarnya lebih terang dari sinar matahari. Sampai-sampai setiap bapak dan ibu terheran-heran, ‘ Mengapa kami harus mendapat penghargaan sebesar ini padahal kami bukanlah orang yang banyak beramal ? ‘ Lalu Allah menjawab,

‘ Itu karena kedua anakmu berinteraksi bersama Al-Qur’an dengan baik ‘ ”

( HR. Imam Abu Dawud, Imam Ahmad, dan Imam Ibnu Hakim dengan sanad shohih )

Jadi, jika bukan kita yang mewarnai dan melukis lembaran kain putih itu, anak akan dilukis oleh para setan dengan seluruh staff dan alatnya yg super canggih, seperti televisi yg sebagian besar isinya menghancurkan dan meluluh lantahkan benih-benih keimanan dan keislaman yang diletakkan Allah SWT di hati anak-anak yang kita cintai.

Nah, selagi hal itu belum terjadi pada diri dan keluarga kita, marilah sama-sama konsentrasikan seluruh kemampuan kita untuk melukis dengan lukisan Islam seindah-indahnya. Saya yakin sepenuhnya, tidak ada alat melukis yang lebih indah selain Al-Quran. Mengapa demikian ? Hal itu karena Allah SWT dan Rasul-Nya telah memberikan banyak jaminan, yaitu :

1. Jaminan hidup yang terang dan lurus serta terbebas dari gelap gulita.

” Inilah Al-Quran yang Kami turunkan kepadamu agar engkau dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan seizin Allah ke jalan Allah yang Maha Perkasa dan MahaTerpuji. ” ( QS. Ibrahim : 1 )

2. Jaminan kebahagiaan di akhirat.

Para ulama mengatakan, jika orangtuanya saja mendapatkan penghargaan sebesar itu, apalagi anaknya ( yang hidup bersama Al-Quran ) ?

3. Jaminan Pribadi Mukmin dengan Keimanan yang Sesungguhnya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.”(QS.Al Anfal 2-4)

4. Jaminan sifat alim yang sesungguhnya.

” Sebenarnya Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim. ” ( QS. 9 : 49 )

Umar bin Khottob Ra berkata : ” Jika di antara kami ada yang hafal surat Al-Baqoroh, orang itu pun meningkat wibawanya. “

5. Jaminan derajat tinggi seperti para nabi atau malaikat.

Sabda Rasulullah SAW : ” Orang yang mahir berinteraksi dengan Al-Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan taat ” ( HR. Muttafaqun ‘alaih )

6. Jaminan Syafaat pada hari kiamat.

Sabda Rasulullah SAW : ” Bacalah Al-Quran karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai Syafaat bagi ahlinya. “

Oleh karena itu, menyemai iman di hati anak dengan Al-Quran harus integral dan meliputi seluruh bentuk interaksi yang dicontohkan Rasulullah SAW dimulai dari tilawah, tahfidz, memahami, tadabbur, dan pengamalan. Khusus masa anak-anak, ulama salaf kita mencontohkan bahwa fokus pembinaan Al-Quran adalah dengan tilawah dan tahfizh.

Untuk tahap awal terimalah program suci untuk anak kita dengan pandangan keimanan, bukan dengan pandangan ilmu atau logika semata ! Terkadang ilmu dan logika kita yang awam terhadap Al-Quran belum mampu menjangkau luasnya samudera Al-Quran sehingga kita melihatnya dengan sikap apriori sebagai akibat dari keterbatasan diri kita. Finally, imanlah yang akan menguak tabir ilmu dan mukjizat Al-Quran dalam diri dan anak kita nantinya, Insya Allah.

Wallahu’alam bisshowab.

(Ditulis ulang dari buku Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah Abdul Aziz Abdur Rouf, LC dengan sedikit editan dari penulis )

—-

Dipostkan oleh Mba Usri Ami di grup Muslimah Indonesia-Korea (Facebook)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s