Arti Kata “Tergadaikan” pada Hadist Aqiqah

Standard

Assalamu’alaikum wr. wb. Ustadz Sigit Pranowo yang saya hormati.

Afwan, saya mau bertanya tentang makna kata tergadai pada hadist di bawah ini:

Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama.” (HR. Ahmad)

Yang saya fahami, hukum aqiqah adalah sunnah muakadah, bukan wajib. Namun kalau melihat hadist tersebut, apakah maksud dari ‘tergadai’ seolah-olah tampak menjadi wajib.

Imam Ahmad mengatakan bahwa makna tergadai adalah seorang anak tidak dapat memberikan syafaat kepada orang tuanya selama dia belum di-aqiqah-i, walau pun pendapat ini dilemahkan oleh pendapat yang lain seperti pendapat Ibnu Qayyim al-Jauziyah.

Jadi, apakah makna sebenarnya kata tergadai pada hadist tersebut. Syukran jazakalloh.

Adi Victoria

Jawaban

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Saudara Adi yang dimuliakan Allah SWT.

Terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang makna “tergadaikan dengan aqiqahnya”. Al-Khattabi berkata bahwa manusia telah berbeda pendapat tentang makna ini namun pendapat yang paling baik adalah apa yang dikatakan oleh Ahmad bin Hanbal bahwa ia adalah syafaat, artinya bahwa apabila seseorang belum di-aqiqah-kan kemudian dia meninggal masih kanak-kanak maka dia tidak bisa memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya.

Ada pula yang mengatakan maknanya adalah bahwa aqiqah sebuah keharusan yang mesti dilaksanakan. Seorang bayi yang terlahir didalam keharusan aqiqah dan bahwa dirinya belum bisa dilepaskan darinya disamakan dengan barang yang tergadai di tangan debitor. Ini menguatkan pendapat yang mengatakan aqiqah adalah wajib. Ada pula yang mengatakan bahwa digadaikan dengan mencukur rambutnya.

Sedangkan pendapat yang dinukil dari Ahmad sebagaimana dikatakan oleh Atha al-Khurasani yang menjadi sandaran al-Baihaqi dan diriwayatkan oleh Ibnu Hazm dari Buraidah al-Aslami berkata, “Sesungguhnya manusia kelak di hari kiamat akan ditampakkan aqiqahnya sebagaimana ditampakkannya shalat lima waktu”. Dan seandainya ini teguh maka ia menjadi pendapat lainnya yang dipegang oleh mereka yang mengatakan aqiqah adalah wajib. Ibnu Hazm berkata bahwa pendapat seperti ini juga berasal dari Fathimah binti al-Husein. (Tuhafah al Ahwadzi juz IV hal 175)

Ibnul Qayyim di dalam kitabnya “Tuhfah al Maulud” menyebutkan bahwa di antara yang mengatakan aqiqah sebuah kewajiban adalah Ahli azh-Zhahir, Buraidah al-Aslami, al-Hasan al-Bashri dan al-Laits. Mereka mendasari pendapatnya pada hadits di atas.

Sementara Imam Malik berpendapat bahwa aqiqah adalah Sunnah Wajib yang wajib diamalkan, ini juga pendapat Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq, Abu Tsaur, Ath Thabari. Ibnul Qayyim—tentang pendapat ini—mengatakan bahwa sunnah dan wajib menurut para ulama Maliki adalah anjuran yang sangat dikuatkan dan makruh ditinggalkan sehingga mereka menamakannya dengan wajib sunnah. Oleh karena itu mereka mengatakan mandi di hari jumat adalah sunnah wajib, Udhiyah (berkurban) sunnah wajib, aqiqah sunnah wajib.

Namun Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa tidak ada nash yang sharih berasal dari Imam Ahmad tentang pendapatnya yang mewajibkan aqiqah. Al-Fadhl pernah bertanya kepada Abu Abdillah tentang aqiqah apakah ia wajib? Dia menjawab, “Tidak, akan tetapi barangsiapa yang ingin menyembelih maka sembelihlah”. Di dalam kitabnya ini, Ibnul Qayyim menyebutkan beberapa pertanyaan yang semisal dengan di atas dan dijawab dengan jawaban yang sama pula oleh Imam Ahmad bahwa aqiqah bukanlah sebuah kewajiban. (Tuhafah al Maulud hal 55 – 57)

Dari penjelasan Ibnul Qayyim di atas tampak bahwa Imam Ahmad meski berpendapat bahwa ‘tergadai’ bermakna syafaat atau seseorang yang belum di-aqiqah-kan kelak jika dia meninggal masih kanak-kanak maka dia tidak bisa memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya lebih memilih pendapat bahwa aqiqah adalah sunnah bukan kewajiban, sebagaimana pendapat jumhur ulama bahwa ia adalah sunnah muakkadah.

Terlebih, bahwa berbagai pendapat ulama tentang makna “tergadai’ pada hadits aqiqah di atas tidaklah memiliki sandaran dan dalil yang rinci sehingga dimungkinkan untuk menggabungkan pendapat Imam Ahmad dan pendapat-pendapat ulama lainnya tentang makna tersebut.

Wallahu A’lam.

Jumat, 09/03/2012 13:33 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s