Menyikapi Sebuah Pujian

Standard

Tergelitik dengan lontaran lisan seorang sahabat,

“Saya tidak suka pujian karena itu bisa membuat saya lupa diri”.

Spontan saya pun menyetujuinya karena memang demikian adanya. Diakui atau tidak, pujian yang kerap terdengar berpeluang menghantarkan diri pada sebuah kesombongan.  Padahal Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya : “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Najm; 32). Berikut adalah rangkuman dari dua artikel menarik yang pernah saya baca.

Komunikasi kita dengan berbagai pola interaksi pastinya tidak akan pernah luput dari kata dan tindakan yang disebut pujian. Saya yakin hampir semua orang pernah mendapat pujian. Hal ini menandakan bahwa pujian adalah salah satu pola interaksi yang selalu terjadi di kehidupan manusia. Sebagai contoh, seorang anak yang mendapat prestasi gemilang, bukan tidak pasti akan mendapatkan pujian dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. Mulai dari sahabat, teman, keluarga dan sangat mungkin dari lembaga atau organisasi tertentu seperti sekolah. Pujian yang jelas-jelas diberikan atas prestasi gemilang yang diraih oleh siswa tersebut. Apakah ada yang salah dengan kondisi ini? Secara umum itu adalah hal yang lumrah, tapi mungkin secara psikologis ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Bila disikapi secara sehat dan proporsional pujian bisa memberikan sisi positif ketika si penerima mampu mengkonversikannya menjadi sebuah motivasi untuk melakukan hal-hal yang lebih gemilang lagi. Sisi lainnya, terdapat beberapa masukan psikologis yang membuat si penerima menjadi pribadi yang lebih, lebih baik dari segi prestasi dan akan menumbuhkan rasa percaya diri dengan kuantitas yang mungkin berlebih dan kadang berlebihan, terlalu percaya diri, egois, mungkin tidak menganggap orang lain,  dan bukan tidak mungkin bisa menyakiti orang lain.

Lantas, salahkah orang yang menyampaikan pujian? Memuji dan dipuji sudah menjadi fenomena umum ditengah-tengah masyarakat kita, maka yang penting adalah bagaimana menyikapi setiap pujian secara sehat. Dan tidak kalah penting jua adalah bagaimana kita bisa mengemas sebuah pujian secara sehat. Rasulullah SAW memberikan teladan yang sempurna dalam menyikapi sebuah pujian juga bagaimana mengemas pujian tersebut supaya tidak menjerumuskan dan merusak kepribadian sahabat yang kita puji.

Berikut teladan yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam menyikapi sebuah pujian.

Pertama, selalu mawas diri supaya tidak sampai terbuai oleh pujian yang disampaikan orang lain. Rasulullah SAW memberikan teladan, setiap ada yang memuji beliau menanggapinya dengan doa :

“Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.” (HR. Al-Bukhari).

Melalui doa ini, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa pujian adalah perkataan orang lain yang potensial menjerumuskan kita menjadi besar kepala.

Kedua, menyadari hakikat pujian sebagai topeng dari sisi buruk kita yang tidak diketahui orang lain.  Ketika ada seseorang yang memuji kita, itu semua tidak lebih karena faktor ketidaktahuannya mengenai sisi buruk kita. Oleh karenanya Rasulullah SAW menanggapi pujian dengan doa:  

“Dan ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku)”. (HR. Al-Bukhari)

Ketiga, kalaupun sisi baik yang dikatakan orang lain tentang kita adalah benar adanya, Rasulullah SAW mengajarkan kita agar memohon kepada Allah SWT untuk dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang lain. Maka kalau mendengar pujian seperti ini, Rasulullah SAW kemudian berdoa:

“Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira”. (HR. Al-Bukhari)

Selanjutnya adalah teladan yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam mengemas sebuah pujian.

Pertama, Rasulullah SAW tidak memuji di hadapan orang yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka. Suatu hari, seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam. Rasulullah SAW menjawab bahwa Islam adalah shalat lima waktu, puasa, dan zakat. Maka Orang Badui itupun berjanji untuk menjalankan ketiganya dengan konsisten, tanpa menambahi atau menguranginya. Setelah Si Badui pergi, Rasulullah SAW memujinya di hadapan para Sahabat,

“Sungguh beruntung kalau ia benar-benar melakukan janjinya tadi.” Setelah itu beliau melanjutkan, “Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah Orang (Badui) tadi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Thalhah ra.)

Kedua, Rasulullah SAW lebih sering melontarkan pujian dalan bentuk doa. Ketika melihat minat dan ketekunan Ibn Abbas ra dalam mendalami tafsir Al-Qur’an, Rasulullah SAW tidak serta merta memujinya. Beliau lebih memilih untuk mendoakan Ibn Abbas ra :

“Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam ilmu agama dan ajarilah dia ilmu tafsir (Al-Qur’an).” (HR. Al-Hakim, dari Sa’id bin Jubair).

Begitu pula, di saat Rasulullah SAW melihat ketekunan Abu Hurairah ra dalam mengumpulkan hadits dan menghafalnya. Beliau lantas berdoa supaya Abu Hurairah ra dikaruniai kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah dihapalnya. Doa inilah yang kemudian dikabulkan oleh Allah SWT dan menjadikan Abu Hurairah ra sebagai Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Pujian yang dilontarkan orang lain terhadap diri kita, merupakan salah satu tantangan berat yang dapat merusak kepribadian kita. Pujian dapat membunuh karakter seseorang, tanpa ia sadari. Oleh karena itu, ketika seorang sahabat memuji sahabat yang lain secara langsung, Rasulullah SAW menegurnya:

Kamu telah memenggal leher temanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Bakar ra.)


Senada dengan hadits tersebut, Ali ra. berkata dalam ungkapan hikmahnya yang sangat populer,

“Kalau ada yang memuji kamu di hadapanmu, akan lebih baik bila kamu melumuri mulutnya dengan debu, daripada kamu terbuai oleh pujiannya.”

Terakhir saya salin sebuah kutipan dari salah satu pengajian,  

“Cobaan, masalah dan hambatan-hambatan bukanlah lawan yang sesungguhnya yang dihadapi oleh manusia yang beragama. Cobaan dan tantangan adalah pelajaran yang terbaik untuk medapatkan suatu nikmat yang luar biasa. Salah satu lawan yang paling nyata dan kadang tidak disadari manusia adalah pujian. Pujian yang terkadang membuat manusia lupa diri, dan menganggap diri sosok yang paling baik, paling hebat dan bahkan tidak ada manusia lain yang ada disekelilingnya lebih hebat dari dia. Astaghfirullahal’azzim.”

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s