Jejak Kehadiran Wafa

Standard

Memandang dua wajah cantik di dalam tidurnya. Athifa akan menginjak usia dua bulan besok, Ahad. Sementara sang kakak, Wafa, bulan depan genap tiga tahun. Begitu bahagia dengan kehadiran mereka. Sekalipun penat dan lelah mendera. Berjibaku dengan pekerjaan yang tiada henti. Sesekali berhadapan dengan emosi yang memuncak. Aahh, bukankah hal-hal tersebut yang menjadikan seorang perempuan merasa sebagai Ibu? Dan semuanya adalah ladang belajar jua ibadah.

Semua proses kelahiran Athifa masih terekam jelas dalam ingatan. Begitu juga dengan masa-masa kehamilan dan persalinan Wafa, sekalipun hampir tiga tahun berlalu.

Kala itu, hari kesebelas bulan Ramadhan 1429H yang bertepatan dengan hari Jum’at 11 September 2008, kami resmi menjadi calon ummi dan abi dari Wafa yang telah berusia sembilan minggu dalam kandungan. Kabar bahagia untuk dua keluarga besar yang menantikan kehadiran cucu pertama. Mulai saat itu, lebih ketat lagi membuat jadwal di kampus Jatinangor dan di rumah BSD. Dari satu bulan penuh, saya habiskan tiga minggu di Jatinangor dan sisanya, satu minggu di rumah bersama suami. Sangat bersyukur mempunyai suami dan keluarga yang pengertian dan selalu memberikan suntikan semangat.

Melakukan percobaan utama dan berusaha merampungkan studi saat hamil memang tidaklah mudah karena kondisi fisik yang sedikit membatasi. Bolak-balik gedung, naik turun tangga ke lantai tiga sembari membawa peralatan tempur (baca:perlengkapan penelitian), menunggu dosen berjam-jam, menyusun jadwal tiap hari, dan tak lupa mengupas kacang hijau 1 kg, satu per satu! Tak sedikit sahabat yang menyarankan untuk mengambil cuti, mungkin iba melihat bumil harus berjuang dengan birokrasi dan sarana penelitian alakadarnya. Tapi tekad ini sudah bulat, “Harus lulus sebelum lahiran!

Alhamdulillah setiap hari banyak sekali yang datang menghampiri untuk menawarkan bantuan membawa peralatan tempur. Bahkan, tak sedikit yang menyapa hanya untuk menemani bumil naik tangga. Masya Allah, semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan kalian dengan sebaik-baik pahala.

Bumil atau bukan, percobaan di Lab tetap memberikan tuntutan yang sama. Teringat saat merampungkan percobaan utama,  dua perlakuan tiga ulangan. Terlihat sederhana, tapi ketika berbicara wilayah mikrobiologi yang sederhanapun menjadi susah diterka. Hari itu…,pagi sampai sore sibuk menyiapkan bahan dan peralatan. Dan, sore sampai dini hari tak berhenti kerja di lab. Berjam-jam berdiri sampai kesakitan saat rebahan. Malam itu, kami, empat mahasiswi  menyemarakan lab mikrobiologi dan kimia pangan yang terkenal dengan cerita horornya. Kembali bersyukur, tengah malam ada sahabat yang datang membantu dan tentunya membawa makanan dan susu untuk bumil.

Semua perjuangan itu tidak sia-sia, akhirnya sidang komprehensif pun selesai dilewati saat usia kehamilan 36 minggu 1 hari. Alhamdulillah. Benar-benar hari penuh kerja keras, tidak akan pernah terhapus dari memori. Bus Prima Jasa dan Arimbi menjadi saksi. Sampai usia kehamilan sembilan bulan masih bolak-balik Jatinangor-BSD. Momen itu menorehkan bukti, saya berhasil mewujudkan moto, “Tiada hari tanpa progress“.

Sepenggal kisah bumil ini tidaklah menakjubkan, karena disekeliling kita banyak wanita tangguh yang membuktikannya dengan tetap bekerja keras. Berjualan di tengah kondisi kota besar yang tidak bersahabat, misalnya.

Beberapa hari setelah sidang komprehensif…

Sambil mempersiapkan perlengkapan persalinan dan kebutuhan bayi, hari-hari berikutnya masih tetap disibukkan dengan perbaikan dan prasyarat pasca sidang untuk mendapatkan ijazah. Birokrasi yang sangat menantang bukan? Tapi, dengan pertolongan Allah SWT,  semuanya rampung seminggu sebelum persalinan. Alhamdulillah, Allohuakbar!

Detik-detik persalinan…

Kamis malam, 7 Mei 2009, selepas solat isya saya dan suami bercengkrama. Sesekali kami pun bercanda.

“Mudah-mudahan de bayinya lahir hari Jumat yah, Nda,” lirih suami dalam lisannya.

Mendengarnya hanya tersenyum. Karena, hari jumat itu sama artinya dengan besok. Sampai pukul delapan malam tak terasa ada tanda-tanda persalinan. Namun, tepat pukul dua belas malam ada air yang mengalir tak henti. Seketika, saya pun tersontak. Mencoba menenangkan diri dan mengenali tanda itu. Ya, ketuban pecah dini!

Hampir tidak ada kontraksi yang dirasa. Semua terasa biasa. Sejam kemudian, kontraksi mulai berayun. Memutar di pinggang, panggul, dan perut. Kamar mandi pun menjadi tempat favorit kala itu. Sakit mulai bertambah. Tak bisa lagi menemukan posisi tubuh yang bisa menghilangkan ayunan kontraksinya. Pukul tiga, Bu Bidan Rahmi pun datang. Hasil pemeriksaannya, pembukaan delapan!

Bergegas naik motor bersama suami menuju rumah Bu Rahmi yang berjarak beberapa blok dari rumah kami. Sesampainya di ruang persalinan tempat Bu Rahmi praktek, kontraksi semakin menurun. Suatu penanda yang kurang baik. Pukul lima pagi, genap pembukaan sepuluh! Tapi, kontraksi benar-benar tenggelam. Ya, ini salah satu resiko kasus KPD (Ketuban Pecah Dini). Kontraksi lemah, dorongan untuk mengejan pun nyaris tidak ada. Di tengah kondisi seperti itu, alhamdulillah, Allah SWT menganugerahkan ketenangan yang luar biasa. Tidak dirasa kepanikan apapun. Dan untuk memancing kontraksi, saya berkali-kali memposisikan tubuh ke arah kiri. Usahanya berhasil. Sesekali kontraksi menguat, tapi hanya sebentar. Setelah dua kali diinduksi, alhamdulillah Wafa lahir sehat dan selamat. Jumat pagi, pukul 06.10 WIB, 8 Mei 2009. Seorang bayi perempuan dengan berat badan 3,4kg dan tinggi 49cm menjadi kebahagiaan tiada tara untuk dua keluarga besar.

Sesaat setelah Wafa terlahir, masih ada sesi menegangkan untuk saya. Dijait tanpa dibius. Rasanya sungguh tak terlupakan. Melihat jarumnya yang melengkung persis kail pancingan ikan dan benangnya yang ternyata lebih besar dari benang pakaian. Uhh, lebih megangkan daripada proses persalinan. Ibu Rahmi terus meyakinkan saya kalau tanpa dibius akan lebih cepat penyembuhannya. Selesai sesi ini, dengan senyumnya, Ibu Rahmi pun bertanya:

“Bagaimana Lin, kapok tidak melahirkan?”

“Tidak Bu,” jawab saya spontan.  “Tapi saya kapok dijait tanpa dibius,” lanjut saya .

Dan, entah apa yang ada di dalam pikiran Ibu Bidan yang cantik itu. Setelah sesi jait menjait, saya harus pindah kamar. Kembali ada tawaran menarik, mau digendong atau jalan sendiri? Namun terlihat jelas dalam sunyumnya, beliau lebih menginginkan saya jalan sendiri. Saya pun mengiyakannya. Ternyata, untuk bergerak satu sentimeter saja susahnya bukan main. Tapi, alhamdulillah setelah berusaha, akhirnya saya pun bisa turun dan jalan sendiri. Sungguh ada rasa puas tersendiri ketika mampu melakukannya. Dan beliau memang ibu bidan yang hebat. Terdengar dengan jelas nasihatnya,

“Sebetulnya kita mampu Lin. Hanya pikiran negatif, kebiasaan, atau mungkin aturan tertentu yang membatasi kemampuan itu.” Terkejut mendengarnya, beliau praktek di rumah sakit bersalin ternama di kota itu. Tapi beliau punya cara ‘tersendiri’ untuk menangani psikologis ibu-ibu sesuai kasusnya.

Siang harinya saya hanya berdua bersama si putri kecil. Suami dan adik-adik menunaikan sholat jumat, dan mamah tetap harus kerja sebagai kepala sekolah. Ibu bidan pun berangkat kerja ke rumah sakit. Pukul lima sore di hari sama saya pun pulang ke rumah. Berjalan kaki ditemani ibu yang menggendong si putri kecil, Wafa. Pemandangan yang membuat setiap tetangga datang menyapa.

Alhamdulillah, ternyata dijait tanpa dibius memang efeknya luar biasa. Sesampainya di rumah rasa sakit itu sedikit demi sedikit menghilang dan besok harinya bisa beraktivitas seperti biasa. Ibu harus mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kakak tercinta di kampung sehingga saya harus mengerjakan semuanya sendiri. Sangat bersyukur rasa sakit itu hilang kurang dari sepekan sehingga kegiatan ibu rumah tangga bisa kembali normal, termasuk mencuci pakaian tanpa mesin cuci. Sungguh kekuatan dan segala kemudahan itu hanya datang seijin-Nya dan hanya DIA pulalah yang mencukupkan segala kebutuhan hamba-Nya.

Cerita ini tidak akan indah tanpa kasih sayang dan bantuan dua keluarga besar tercinta, suami tersayang, dan sahabat-sahabat sejati saya. Makasih banyak untuk sahabat ciungers yang telah berbagi cerita, tenaga, waktu, pikiran, makanan, bahkan sampai berbagi ruang di kamar kostan. Saat-saat makan bareng, lelah bareng, nangis bareng, bahkan stress barengan itu adalah momen berharga bersama kalian. Makasih juga buat semua sahabat TIP yang selalu saling menyemangati.

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)…” (QS. Al AhQaaf 46:15)

Wafa di YU Spring Festival 2012, di kala usia menjelang tiga tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s