Taman Siji Penuh Arti

Standard

“Linda, siap-siap yah, kita berangkat ke rumah sakit sekarang!” nadanya lugas di ujung telepon.

“Siapa yang sakit Onni? Yonji sakit?” tanya saya penuh cemas.

“Iya. Yonji dan Myongjin mau berobat. Dan saya mau mengajak kamu ke obgyn,” imbuhnya.

“Tapi jadwal pemeriksaannya masih dua minggu lagi,” sambung saya.

“Kita coba konsultasi dengan obgyn lain. Saya sudah bicara banyak dengannya.”

“Iya, lima belas menit lagi saya ke rumah Onni.”

“Ya, ditunggu di depan rumah,” tukasnya sesaat sebelum menutup telepon.

Masih dihinggapi rasa penasaran, saya dan si kecil, Wafa, bergegas ke rumah Onni yang berjarak hanya beberapa meter dari rumah. Onni dan anak kembarnya ternyata sudah sedari tadi menunggu kami di dalam mobilnya. Tak berapa lama, kami pun bertolak dari Sampungdong menuju Siji. Bingung adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pikiran saya di awal perjalanan. Obgyn mana yang dimaksudnya kali ini? Beberapa menit kemudian, ia membuka percakapan. Ternyata selama ini ia masih berusaha mencari obygn dan rumah sakit yang lebih baik untuk pemeriksaan kandungan saya. Tak disangka, sampai sebesar ini perhatiannya. Padahal, saya hanya orang asing yang kebetulan bertetangga dengannya. Ya, kami sama-sama tinggal di Sampungdong. Sebuah daerah di kota kecil Gyeongsan. Saya baru mengenalnya setelah sepuluh bulan tinggal di sini, Korea Selatan. Ia dan suaminya membantu kami mengenal lebih dekat kondisi di sini. Anak-anaknya menjadi teman bermain Wafa. Dan, saat saya menjalani kehamilan kedua, tepat setelah satu setengah tahun merantau, ia tetap mengulurkan bantuannya dengan ramah.

Kali ini, ia mengajak saya berkonsultasi dengan obgyn di rumah sakit yang berbeda. Agak jauh dari Sampungdong. Sebelumnya saya memeriksakan kandungan di Mamian Women’s Hospital. Ia merekomendasikan rumah sakit ini dengan pertimbangan jarak yang dekat (sepuluh menit dari rumah) dan ada obgyn perempuannya. Ia pula yang mengantar saya saat pemeriksaan pertama karena memang saya membutuhkan bantuannya untuk kendala bahasa. Kala itu, ia yang mengurus semua administrasi dan menemani saya berkonsultasi dengan obgyn. Pemeriksaan selesai. Usia kehamilan tercatat enam minggu dua hari. Kami membalut rasa bahagia dalam sebuah senyuman. Namun, senyum itu berganti muram ketika ia berbicara dengan pegawai administrasi. Saya masih tetap tersenyum menunggunya bercerita. Ternyata, biaya melahirkan yang harus dibayar oleh warga asing tanpa asuransi itu sangat fantastis. Jauh di atas nominal biaya untuk warga Korea Selatan dengan sistem asuransinya yang sudah ajeg. Boleh dibilang, bedanya hampir lima kali lipat. Terlebih ada kenaikan biaya dari tahun sebelumnya.

Setelah semua urusan beres,  kami keluar dari rumah sakit. Tapi, masih terlihat jelas raut wajahnya yang khawatir dan bingung. Sesekali ia mengerutkan alis. Saya pulang naik bus. Sementara, beliau bertolak ke rumah orang tuanya. Sebelum kami berpisah, ia tetap melontarkan beberapa pertanyaan. Mungkin ingin mengusir kekhawatirannya.

“Linda, kamu harus minta bantuan ke Professor suami kamu! Biayanya besar sekali,” tegasnya.

“Saya sudah memintanya, Onni.” Saya menjawab lirih dengan senyum kecil.

“Kapan?”

“Baru saja. Saya minta semuanya pada Allah SWT,” jawab saya spontan. Dan ia pun mengerutkan alis tanda tak paham.

“Saya sudah minta pada Tuhan”, jelas saya.

Wajah cemasnya masih sangat terlihat. Jawaban saya masih belum bisa menenangkannya. Jelas, dalam benaknya, jawaban saya adalah sesuatu yang tidak pasti.

“Onni, saya akan baik-baik saja. Uang sebesar itu pasti ada pada waktunya.” Mencoba menekankan bahwa saya yakin dengan pertolongan-Nya.

***

Ahh, mungkin karena masalah biaya ini onni mengajak saya ke Fatima Women’s Hospital di Siji sekarang ini, gumam saya dalam hati. Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya kami sampai di Fatima Women’s Hospital. Kami duduk menunggu di atas sofa panjang di depan ruang obgyn.  Beberapa menit kemudian kami masuk dan bercengkrama dengan obgyn perempuan yang dimaksud Onni. Dengan hangat dan ramah beliau menyapa. Beliau fasih berbahasa Inggris. Namun, sesekali mengajak saya berbincang dalam bahasa Korea. Pemeriksaan hari itu gratis dan untuk selanjutnya saya mendapat kemudahan. Hanya membayar setengah dari biaya pemeriksaan biasanya. Alhamdulillah, pertolongan Allah SWT memang dekat dan tidak disangka-sangka. Dan, di hari itu jua, pertama kali saya melihat onni berkaca-kaca. Matanya memerah dan tak kuasa menyangga bulir air mata haru. Tak disangkanya, saya mendapatkan potongan biaya sebesar lima puluh persen. Karena dalam perbincangan  beliau dengan obgyn,  potongan yang ditawarkan adalah tiga puluh persen dari total biaya.

Congmal Gumabseumnida. Congmal Gumabseumnida…,” tak henti Onni berterimakasih pada obgyn baik itu. Begitupun dengan saya. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan pemeriksaan di Fatima Women’s Hospital. Selain biaya yang lebih ringan, obgynnya pun lebih fasih berbahasa inggris dibanding obgyn sebelumnya.

Suasana di dalam mobil dalam perjalanan pulang menjadi sedikit hening. Onni masih dalam keterharuannya. Tiba-tiba mobil berhenti tepat di depan taman Siji. Taman kecil di belakang restoran haemul jjampong yang terkenal enak di Siji. Kami duduk santai di sebuah kursi panjang. Sementara itu, Wafa dan si kembar menjajal semua aneka bermain yang ada di taman. Dan, di taman ini cerita itu mengalir.

“Saya belajar banyak tentang kehidupan dari apa yang kamu alami. Saya pikir tenang itu ada saat kita punya uang banyak.” Kalimat Onni memecah keheningan. Saya masih mencoba mencerna kalimatnya, tiba-tiba ia melanjutkan.

“Linda, pernahkah kamu berpikir untuk membuka hijab kamu? Berpakaian seperti wanita di sini, bekerja dan mengumpulkan banyak uang?”

Baru saja mau mencoba menjawab, terlontar lagi pertanyaannya.

“Sebesar itukah keyakinanmu pada Islam? Kamu tidak akan beralih ke keyakinan lain yang lebih ringan untuk kamu?”

Giliran saya terdiam. Berusaha menyusun kalimat dalam bahasa Korea sembari mengutak- ngatik dictionary yang ada di handphone. Saya kembali mencerna pernyataan dan pertanyaannya. Tak disangkal, beasiswa di sini memang kecil. Untuk mahasiswa single maupun mahasiswa yang berkeluarga besarnya sama. Dalam keterbatasan itu, saya harus menjalani kehamilan kedua dengan biaya yang besar. Jelas, tak masuk logika berpikirnya. Karena memang, sebagian besar warga di sini mengejewantahkan kebahagiaan dan keberhasilan dengan materi. Belum lagi hijab dipikirnya sebagai salah satu penghambat untuk mendapatkan pekerjaan layak.  Maklum, saya tinggal di negara yang sedang mengembangkan fashionnya sebagai salah satu dampak hallyu (Korean Wave).

Dengan terbata-bata saya balik bertanya.

“Kenapa tiba-tiba Onni bertanya seperti itu? Iya saya yakin dengan Islam. Islam pun mendorong kita untuk berusaha menjadi orang kaya tapi harus sesuai dengan aturannya. Keyakinan lain yang lebih ringan? Saya belum paham maksudnya.”

“Iya. Islam itu begitu berat. Tidak boleh minum soju. Tidak boleh makan babi. Harus pakai hijab. Belum lagi larangan untuk perempuan dan laki-laki yang belum nikah tinggal dalam satu tempat,” paparnya.

Wajar ia berpikiran seperti itu. Semua yang dilarang dalam Islam merupakan budaya yang sudah mengakar di sini.  Bahkan, jalinan persahabatan ditentukan oleh segelas soju. Mahasiswa dan mahasiswi tinggal dalam satu kamar kostan itu biasa.

“Jadi hidup yang seperti apa yang ringan dan bahagia menurut Onni?” lanjut saya.

“Iya, kita have fun saja selama di dunia. Dan bekerja mengumpulkan uang untuk keluarga.” Ia menjawab ringan.

“Lantas bagaimana dengan kehidupan setelah kita mati?” Saya masih bertanya penasaran.

“Tidak ada. Setelah mati kita berakhir. Makanya senang-senang saja dulu sebelum mati.” Onni kembali menjawab ringan. Rupanya ia tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian.

“Benarkah Onni percaya tidak ada apa-apa lagi setelah kematian? Islam mengajarkan ada kehidupan setelah kematian,” tambah saya.

“Di sini juga dulu ada cerita seperti itu. Ada tempat yang baik dan menakutkan setelah kematian,” tukasnya.  “Tapi orang-orang di sini mengubah pikirannya, dan kita menganggap itu hanya cerita lalu,” tambahnya.

Surga dan neraka yang ia maksud. Keyakinan yang dianggapnya cerita lalu adalah ajaran Budha yang diyakini mayoritas penduduk Korea. Namun, kini sebagian besar warga Korea lebih memilih hidup bebas tak terikat aturan apapun kecuali tradisi yang telah membumi. Saya bertanya lebih lanjut,

“Siapa yang menciptakan Onni?”

“Orang tua saya,” jawabnya spontan.

“Kemudian siapa yang menciptakan orang tua Onni?”

“Kakek nenek saya dan begitu seterusnya.” Ia lugas menjawab pertanyaan saya.

“Hmm, siapa yang menciptakan orang pertama di keluarga Onni atau mungkin orang pertama yang ada di Korea? Atau yang ada di dunia?”

Hening…! Onni menundukkan kepalanya. Terlihat ia berpikir keras menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

“Linda! Iya yah, siapa yang menciptakan mereka yang hidup pertama kali?” Onni mulai mengerutkan dahi.

“Iya siapa yah? Kalau mereka ada sendirinya, terus kenapa sekarang kita tidak bisa tercipta dengan sendirinya juga?” Saya pun balik bertanya berusaha memancing rasa penasarannya.

Nuguya? Linda! Nuguya?” tanyanya penuh keingintahuan.

“Ada yang mempunyai kekuatan besar yang mampu menciptakan kita, bumi dan isinya. Dialah Tuhan,” terang saya.

“Terus, apakah setiap agama punya Tuhan? Kemudian siapa yang menciptakan Tuhan? Jadi, agama mana yang benar?” Bertubi-tubi pertanyaan terlontar darinya.

Kali ini saya yang terdiam. Keterbatasan bahasa benar-benar melumpuhkan lisan saya. Ingin saya jawab bahwasanya sang pencipta itu harus bersifat azali dan wajibul wujud, sekalipun mungkin ia akan mengerutkan alisnya lagi.

“Onni, maaf. Saat ini saya belum bisa menjelaskan lebih lanjut. Yang pasti Islamlah yang benar.” Hanya kalimat itu yang bisa saya sampaikan kala itu. Onni pun tersenyum, “Makanya, saya bilang kamu perlu beli TV untuk belajar bahasa Korea. Tidak apa-apa, sekarang saya sedikit tahu lagi tentang Islam selain puasa, ramadhan, halal food, hijab, dan ibadah (solat).”

“Onni tahu? Hari ini Tuhan menjawab permintaan saya waktu itu. Melalui Onni, Tuhan memberikan pertolongan-Nya meringankan biaya pemeriksaan dan melahirkan kelak.” Saya menutup percakapan dengan senyum haru bahagia atas semua pertanyaannya.

“Ahh! Iya, mungkin ini jawaban untuk doa kamu,” tukasnya.

Dan percakapan pun beralih topik, mulai dari cerita tentang melahirkan, mengasuh anak kembar ketika bayi, sampai cerita hantu versi Korea dan Indonesia.  Terus belajar dari lingkungan sekitar dan menjadi muslim yang ramah adalah salah satu bekal hidup di negri rantau.

Saat ini saya merantau di sebuah kota kecil di Korea Selatan. Tak ada mesjid apalagi pusat kajian Islam. Hanya ada mushola kecil untuk mahasiswa. Ruang kelas yang disulap menjadi mushola tepatnya. Itu pun tak mampu menampung muslimah yang ingin solat berjamaah. Hanya tatapan heran warga pada jilbab dan khimar yang kami gunakan sebagai jalan memperkenalkan Islam. Ketegasan kami untuk tidak memakan babi dan daging hewan yang tidak disembelih dengan menyebut asma-Nya menjadi peluang untuk memaparkan aturan Islam. Alhamdulillah.

* Percakapan antara saya dan Onni tidak selancar seperti tertuang dalam cerita. Karena saya pribadi masih gagap hanguko. Kami hanya bertukar beberapa kata kunci di setiap percakapan. Dan, saya ramu menjadi kalimat-kalimat di atas tanpa mengubah kata kunci yang kami gunakan.

Note :

Congmal Gumabseumnida: Terima kasih banyak

Haemul jjampong: makanan khas china yang banyak ditemui di sini. Terdiri dari mie dan seafood dengan kuah pedas

Soju : Minuman keras asal Korea

Nuguya : Siapa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s