Korea…

Standard

Satu setengah tahun saya merasakan nuansa dan suasana negara maju yang terkenal dalam berbagai bidang. Sebut saja transportasinya yang membuat saya benar-benar terlihat sebagai orang urban, pengaturan lalu lintas yang memang wajar mendapat sorotan dunia, pengaturan data kependudukan yang terintegritas, sistem informasi yang mampu menghapus strata dalam masyrakat, sistem pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder yang sangat mempermudah dinamika kesejahteraan, bahkan sampai pada sistem kebersihan yang melahirkan cinta lingkungan. Benar-benar mewakili kriteria negara maju bukan? Kalo bahasa saya, ‘”Negara Keren'”.  Bahkan sebagai salah satu bukti nyata ke-keren-an-nya bisa kita lihat dari banyaknya peminat film dan drama seri korea, termasuk saya yang suka sekali serial ‘Jewel In The Palace‘. Atau mungkin maraknya restoran-restoran Korea di berbagai negara bisa diajukan juga sebagai bukti lain ke-keren-an-nya.

Korea memang keren kawan! Danau kecil saja bisa menjadi tujuan wisata keluarga, padahal menurut saya jauh lebih indah Situ/Lengkong Panjalu. Tapi satu yg memang harus saya akui, kerapihan dan kebersihannya tak bisa disandingkan dengan Situ Panjalu. Sekali lagi, Korea memang keren kawan! Suasana ‘sederhana’ di pagi hari akan cepat berubah menjadi malam yang ‘eksotik‘.

Mungkin dua penggalan diatas bisa mewakili keindahan dan kecanggihan Korea yang selama ini diketahui banyak orang di dunia. Pendek kata, saya yakin banyak yang setuju dengan penggalan tersebut. Sekalipun sebenarnya memang kurang bijak jika saya memberikan judul ‘…Korea‘ dan berbicara tentang pengalaman saya satu setengah tahun di sini karena kenyataannya saya hanya tinggal di sebuah kota, Gyeongsan. Kota kecil di pinggiran metropolitan Daegu, yang masih bernuansa desa. Saya pun belum berkesempatan menginjakkan kaki di ibu kota negara ini, Seoul. Sampai saat ini saya hanya bisa memetakan kota metropolitan di negara ini ketika saya berkunjung ke Busan. Tapi karena desa itu tadi, kiranya tulisan ini tidak akan menarik perhatiian pembaca bila saya bubuhkan judul “…Gyeongsan“.

Desa Gyeongsan….

Sebutan desa adalah murni kreativitas saya dan beberapa teman di sini yang bermaksud menggambarkan kesederhanaan dan sepinya wilayah ini dibandingkan wilayah lainnya. Tapi tak lantas pembaca pun bisa membayangkan sebuah desa bak Desa Pananjungan yang ada di daerah Pantai Pangandaran, ataupun Desa Pekraman, sebuah desa di Bali yang terkenal dengan subaknya. Di desa Gyeongsan ini berdiri gedung-gedung bertingkat yang menjadi tempat bermukim penduduk, tak ada bedanya dengan deretan gedung mewah dan bertingkat di kota besar dari segi fisik bangunan. Alasan lain kenapa saya menamainya ‘desa’ adalah sepinya arus lalu lintas yang melintasi kawasan ini serta sedikitnya tempat berbelanja yang bisa dikunjungi. Bahkan saya yakin suasana subuh dan fajar yang hening bisa jadi inspirasi besar untuk para penulis puisi dan novel.

Saya dan musim di Korea…

Sabtu, 21 November 2009, pukul 5 sore pertama kalinya saya menghirup nuansa desa ini. Sepi…, nyaris tak ada penduduk asli yang saya temui selain supir taksi. Diakhir musim gugur memang wajar tak bisa menemukan kumpulan penduduk di luar rumah, udara dingin dan angin yang berhembus dahsyat akan memaksa semuanya betah di rumah.

Musim dingin bisa dikatakan sebagai wahana saya mengekspresikan diri sebagai orang desa yang benar-benar terlihat kampungan saat bertemu dengan si cantik ‘salju’. Musim pun berganti indah, sakurapun bersemi. Mawar merekah di setiap jalan dan pojok taman. Pohon kembali menghijau dan rerumput menjadi alas yang indah. Selanjutnya matahari pun mengganas, dan membatasi saya untuk menikmati desa ini hanya di sore dan malam hari. Sungguh setiap musim mampu menorehkan cerita….

Saya dan kecanggihan Korea…

Kecanggihan desa ini membuat saya terlihat jelas kekampungan-an-nya. Rasa-rasanya malu kalau saya harus menceritakan pengalaman saya dengan kecanggihan desa ini.  Tapi bolehlah saya share sebuah cerita mengenai bus dan halte bus. Singkatnya saya begitu terpesona dengan suara merdu seorang perempuan di halte dan di dalam bus. Perempuan itu begitu baiknya berkenan memberitahukan setiap calon penumpang kalau bus yang dimaksud sudah dalam jarak dekat. Bahkan dengan setia, suara merdunya tetap menemani setiap penumpang di dalam bus, memberitahukan setiap daerah yang dilewati. Busnya pun bersih, pintu masuk dan pintu keluar diatur berbeda. Namun, dalam kondisi crowded pintu masuk sesekali dioperasikan sebagai pintu keluar juga. Bukan tanpa alasan cerita ini yang saya share kepadamu kawan. Saya teringat tiga tahun silam ketika saya berada dalam satu bus Jatinangor – Dipatiukur bersama seorang warga Korea yang sedang bertugas di jurusan saya waktu kuliah dulu. Dengan gembiranya beliau, Mr Lee biasa saya memanggilnya berucap,

“Saya benar-benar senang naik bus ini. Berdiri  tidak ada pegangan. Dan yang paling seru adalah saat harus turun tapi terus-terusan tertahan bahkan sesekali terangkat kembali ke dalam karena dorongan calon penumpang yang naik. Saya bisa turun dari pintu manapun. Linda..di Korea tidak ada yang begini!”

Dan kini saya paham dengan kegembiraan anda Mr Lee….(sembari tertawa geli).

Saya dan makanan Korea….

Mengamati jenis-jenis makanan korea bisa saya katakan jauh lebih sehat dibanding makanan negara barat.  Bagaimana tidak, kebanyakan makanan di sini alami atau dimasak dengan cara yang baik untuk mempertahankan nilai gizinya. Sayuran yang hanya di blansing  sehingga gizinya bisa dipertahankan. Sayuran dan buah hasil fermentasi asam laktat (contoh : khimci) yang  bermanfaat untuk pencernaan dan metabolisme, dan daging ikan yang disajikan dalam fasa pre rigor-rigor mortis, adalah beberapa contoh menu sehat yang biasa disajikan. Tentu tak hanya tiga menu tersebut yang saya katakan menu sehat, masih banyak lagi kawan! Tapi maaf saya tidak bisa menyebutkannya satu per satu terlebih memberikan gambaran sensorinya karena sebagai muslim, ada keterbatasan dalam menjajal semua makanan di sini. Selanjutnya, berbagai resep masakan Korea bisa diintip di sini.

Saya dan Bahasa Korea…

Dua bulan sebelum keberangkatan, saya sangat bersemangat belajar bahasa negara ini, tepatnya adalah belajar huruf hangeul (abjad korea) secara otodidak. Tidak ada yang sia-sia dalam perbelajaran bukan? Bekal pengenalan saya terhadap hangeul setidaknya bisa membantu saya membaca kata demi kata sekalipun sangat terbata-bata. Sesampainya di sini, ternyata banyak pelafalan yang berbeda. Sering saya bergumam kalau orang Korea tidak konsisten dengan bahasanya sendiri. Ini adalah saya dengan keterbatasan ilmu tentang perubahan bunyi beberapa konsonan. Pembelajaran bahasa pun terbengkalai karena ketidakmampuan saya memenej semua waktu dan aktivitas, padahal saya hanya seorang ibu yang full di rumah, tidak sebegitu sibuk seperti teman-teman mahasiswa/i di sini. Tapi memang Allah SWT Maha Adil, ketika mahasiswa/i harus meluangkan waktu untuk kelas bahasa korea, saya yang setiap hari nongkrong di taman pun berkesempatan juga belajar dari penduduk asli desa ini. Dan karena media pembelajarannya berbeda, tentu saya hanya bisa beberapa kalimat yang biasa saya dengar. Lain halnya dengan teman-teman mahasiswa/i yang dibekali materi padat plus grammar yang benar. Untuk belajar bahasa Korea, saya rekomendasikan kelas ini.

Ini adalah gambaran umum yang saya hantarkan sebelum berbagi tentang sisi lain Korea….

Gyeongsan,

Selasa 14 Juni 2011, 03.10 KST

* repost dari salah satu note di facebook yang ditulis kurang lebih setahun yang lalu

2 responses »

  1. HUAAAAA… ngiri abiss… saya pengen banget ke korea.ingin merasakan dunia luar selain di Indonesia..hehe dalam rangka apa ya kalo boleh tau ke koreanya? salam,
    Shared by Adeline.. mampir ya… saya lagi ikutan lomba blog di facebook Korea Tourism Organization Indonesia dan twitter @ktojakarta nih.. hadiahnya lumayan lho, ke korea gratis (usaha dapet gratisan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s