Awal Kisah Terlukiskan

Standard

Pukul sebelas malam, jemari ini mulai menari. Setelah sekian lama mempertimbangkan untuk membuat blog atau tidak, diputuskan perlu. Menulis. Ya! Menulislah! Ada ragam alasan untuk menggoreskan pena, melukiskan setiap kisah. Mungkin, bagi sebagian besar orang, menulis adalah cara mengasah kecerdasan berkomunikasi. Termasuk cerdas mengekspresikan perasaan. Atau, loncatan untuk menjadi penulis terkenal adalah alasan lainnya.

Menulis, untuk saya, selain alasan-alasan di atas adalah adalah wahana belajar meredam emosi. Ada pertanggungjawaban yang pasti untuk setiap tulisan dan lisan yang kita tuangkan. Sesederhana apapun isinya. Ingin belajar menjadikan tulisan sebagai tamparan keras untuk tidak mengulangi sebuah kesalahan. Ingin pula, melukiskan kisah keterbatasannya diri dalam mengelola emosi. Menjadikan rangkaian kalimat indah untuk Si Sulung dan Si Bungsu. Karena, sejujurnya merekalah yang membuat saya memutuskan untuk menulis.

Si Sulung, Wafa, dalam usianya yang hampir tiga tahun, begitu sabar dengan keberadaan adiknya. Berbagi perhatian ibunya. Proses adaptasi si Sulung terhadap keberadaan adiknya, Athifa, yang baru menginjak usia dua bulan, tak pelak membuat saya haru dan penuh rasa bersalah. Dan, sejatinya, sayalah yang belajar banyak dari sikap Wafa menerima keberadaan Athifa. Jadi betul, anakku adalah guruku.

Mulai malam ini, kisah kami akan dilukis indah di sini. Menggambar setiap momen dengan hati, tertuang di tempat ini. Menari dengan pena, teriring dendang sebuah konsistensi. Mudah-mudahan…

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s