Serba Serbi Shogakko (2) [Berangkat dan Pulang Sekolah]

Standard

Tiga hari berturut-turut sejak kejadian itu, setiap pagi di pos pemberangkatan yang baru selalu ada perwakilan dari pihak sekolah. Hari pertama, langsung Bapak Kepala Sekolah yang mendampingi anak-anak. Hari ke dua dan ke tiga berturut-turut, Ibu Guru dan Bapak Guru ikut jalan kaki menuju sekolah menemani anak-anak. Pihak sekolah ingin memastikan anak-anak selamat sampai di kelas masing-masing.

Mengenai orang yang tindakannya meresahkan kami para orang tua, dan membuat kami mengganti rute berangkat sekolah, rupanya bukan sekadar orang yang lewat. Namun penghuni salah satu apato dekat pos berangkat sebelumnya. Meski sudah ditegur langsung pihak polisi dan yang bersangkutan menyesali juga berjanji tidak akan mengulanginya, kami sebisa mungkin tetap menghindari jalanan itu.

Baru beberapa hari merasa sedikit lebih lega tiap mengantarkan si sulung ke pos grupnya, enam hari lalu pukul tujuh pagi, kami semua mendapat email yang memberitahukan adanya tindakan penembakan di sekitar Sasagi. Tidak begitu jauh dari Higashi yang merupakan lokasi sekolah. Pihak sekolah meminta kerjasama orang tua untuk mengawasi anak-anak selama berangkat dan pulang sekolah. Tentu pihak sekolah pun terjun langsung. Ada beberapa guru yang patroli di setiap rute. Ada perwakilan orang tua yang menemani anak-anak sampai ke sekolah. Suasana pagi kembali ramai. Demikian juga dengan suasana sore saat anak-anak pulang. Di beberapa titik sepanjang rute, ada orang tua yang berjaga-jaga. Dan anak-anak pulang didampingi guru. Untuk jalur komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua murid, juga kerjasama keduanya memang terbilang hebat. Semua pihak bertindak cepat dengan komando yang jelas. Salut untuk hal ini.

Lebih jelasnya mengenai berangkat dan pulang sekolah yang menjadi pengalaman si sulung di sekolahnya, berikut poin-poinnya:

Berangkat sekolah,
1) Anak-anak yang tinggal tidak begitu jauh dari sekolah akan berangkat dengan berjalan kaki dengan rute menyisir jalan utama demi keamanan.
2) Anak-anak dibagi ke dalam beberapa grup berdasarkan tempat tinggal. Jadi anak-anak yang berdekatan rumahnya akan berangkat bersama. Teknisnya mereka berkumpul di satu titik dalam waktu yang telah ditentukan. Dan bila sampai batas waktu tersebut belum sampai di pos, maka grup tetap akan berangkat tanpa menunggu lagi.
3) Setiap grup terdiri dari beberapa murid yang beragam tingkatan kelasnya. Karena yang utama adalah dekatnya tempat tinggal satu sama lain. Setiap grup akan dipimpin oleh ketua grup yang merupakan murid dari kelas paling tinggi yang ada di grup tersebut. Misal, satu grup terdiri dari murid kelas 1,3,5. Maka yang jadi ketua grup adalah murid kelas 5. Bila ada anggota grup yang tidak bisa sekolah karena alasan sakit atau lainnya, maka orang tua murid akan menitipkan surat ijin tidak masuk sekolah dan buku penghubung ke ketua grup untuk disampaikan ke wali kelas yang bersangkutan. Nanti, saat pulangnya, ketua grup ini akan kembali membawa buku penghubung dari wali kelas tersebut dan diserahkan kembali ke orang tua anak yang tidak masuk sekolah tadi. Jadi bila ada tugas atau info dari sekolah tetap tersampaikan.
4. Khusus untuk murid kelas satu, mereka dibekali beberapa kelengkapan untuk keselamatan dan juga untuk memudahkan pendistribusian grup saat pulang sekolah.
-黄色帽子 (kiiro boushi). Topi kuning khusus kelas satu. Di bagian atas topi kuning ini, dipasang pita dengan warna yang berbeda untuk murid yang berjalan kaki, yang berkendaraan ke sekolah, juga yang masuk jidoukan saat pulang sekolah.
-ランドセルカバー yaitu cover untuk randoseru (tas khusus anak SD) yang berwarna terang dan mencolok. Sengaja dipakai menandakan mereka adalah anak kelas satu yang baru belajar berangkat ke sekolah sendiri. Berjalan menyebrang dan melewati beberapa perempatan jalan. Sehingga para pengemudi kendaraan pun bisa mudah mengenali mereka dan bisa lebih berhati-hati.
-防犯ブザー (bouhan buzaa), crime prevention buzzer, yaitu salah satu alat keamanan, yang bila ditarik akan menghasilkan bunyi yang lumayan keras. Tujuannya bila dalam keadaan bahaya, bunyi alat tersebut bisa terdengar orang-orang disekitar untuk datang membantu. Alat ini dipasang di randoseru masing-masing dan harus dibawa setiap hari.
5) Setiap hari secara bergantian beberapa orang tua murid berjaga di satu pos dalam rute berangkat anak-anak. Pos ini terletak di tengah rute dan tepat di perempatan tempat anak-anak menyebrang di tengah ramainya kendaraan yang berangkat bekerja. Orang tua yang mendapat giliran tugas ini akan menuliskan hasil pantauan masing-masing terhadap keamanan dan ketertiban semua grup selama perjalanan ke sekolah. Intinya memastikan semua grup sampai dengan baik dan selamat ke sekolah.

Pulang sekolah,
1) Dua pekan di awal masuk sekolah, kami mendapatkan tugas bergiliran sebagai ‘omukaeri touban’ yaitu bertugas menjemput anak di sekolah. Jadi selama dua pekan tersebut ada perwakilan orang tua dari berbagai wilayah untuk menjemput anak-anak dan memastikan semuanya sampai di rumah masing-masing dan disambut orang tuanya. Orang tua yang mendapat giliran tugas ini harus sudah siap di depan kelas, lima menit sebelum jam belajar berakhir. Dan harus memakai name tag PTA biar mudah dikenali pihak sekolah.
2) Bila ada murid yang sampai di depan rumahnya namun orang tua atau keluarganya belum terlihat, maka semuanya tetap menunggu sampai anak tersebut sampai di tangan keluarganya dengan aman. Tidak boleh ditinggal sendirian.
3) Omukaeri touban hanya dilakukan selama dua pekan awal. Setelahnya anak-anak pulang bersama grup wilayah masing-masing yang ditandai dengan warna pita di atas topi kuning yang mereka kenakan. Jadi grup pulang sekolah ini berbeda dengan grup berangkat. Grup pulang hanya terdiri dari anak-anak kelas 1.
4) Dua pekan awal bulan ini (Mei) masih ada beberapa orang tua yang menunggu anaknya di sekitar rute pulang. Namun, mulai pekan ketiga anak-anak pulang sendiri sampai rumah masing-masing. Untuk saya pribadi, meski jadwal pulang TK dan SD sama-sama pukul tiga, saya tetap mengusahakan untuk tiba di tempat biasa saya menunggu si sulung pulang. Jadi dari TK langsung jalan menuju rute pulang anak-anak SD atau seringnya berbagi tugas dengan suami. Sampai titik tertentu si sulung masih jalan bersama tiga temannya. Setelahnya ia jalan sendirian karena tempat tinggal kami yang paling jauh.

Ya, kemandirian memang terlihat jelas menjadi salah satu pembelajaran penting di sekolah-sekolah di sini. Tak hanya soal belajar berangkat sendiri ke sekolah, anak-anak pun dilatih untuk bertanggung jawab membawa barang-barangnya sendiri seberat apapun itu. Misal saja kamis lalu, si sulung dan teman-temannya membawa kursi lipat dari sekolah. Di rumah hanya diminta dinamai sembari diperlihatkan pada orang tuanya dan besoknya kembali dibawa ke sekolah. Tidak terlalu berat memang, tapi dengan dimensinya yang cukup besar, dan melihat mereka membawanya bolak balik ke sekolah dengan berjalan kaki kadang rasa kasihan itu ada. Belum lagi dengan bawaan penuh di randoserunya, botol minuman dan bentou. Tapi salutnya, anak-anak ceria saja sepanjang jalan. Kadang berlarian dengan penuh tawa, sambil tetap menjaga satu grupnya jalan bersamaan.

13245429_1410040045673974_8078679562104684910_n

Saat omukaeri touban

Serba Serbi Shogakko (1) [Bergantinya Rute Berangkat Sekolah]

Standard

Sepekan menjelang masuk sekolah, saya mendapatkan beberapa lembar surat mengenai rute berangkat sekolah lengkap dengan pos-pos pertemuan per grup. Jadi setiap anak akan berangkat bersama dengan teman-teman segrupnya yang memang dikelompokkan berdasarkan jarak rumah masing-masing. Tahun ini saya lihat ada 26 grup. Tentu pembagian grup ini hanya berlaku untuk murid yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah. Sehingga masih memungkinkan dijangkau dengan berjalan kaki. Untuk yang tinggal agak jauh, bisa dengan berkendaraan, baik kendaraan pribadi maupun umum.

Jarak dari apato ke sekolah sebetulnya bisa ditempuh dengan waktu 15 menit bila berjalan kaki melewati taman. Tapi, menyisir taman jelas bukan jalan yang aman. Rute setiap grup itu mengutamakan jalan utama demi keamanan. Jadi rute si sulung bersama 5 orang teman grupnya (terdiri dari murid kelas 3,4,5 dan 6) ditempuh dalam hitungan 25-30 menit menyusuri jalan utama yang ramai kendaraan. Dan merujuk ke rute yang didapat, apato kami menjadi paling jauh, dengan arti lain, si sulung yang terakhir sampai di rumah bila pulang sekolah

Sepekan awal jelas saya sangat khawatir. Jarak dan waktu tempuh ke sekolah yang cukup lama dengan barang bawaan yang beneran banyak kadang membuat saya gak tega melihatnya. Tapi ini lah proses pembelajaran yang harus dilaluinya. Yang harus saya dukung dengan terus menyemangatinya, terlebih di hari kelima ia sudah mengeluh pegal dan sakit kaki.

Saat saya sudah merasa mulai terbiasa dengan rutinitas pagi melepas si sulung bersama grupnya, tiba-tiba Sabtu malam, beberapa orang tua teman segrupnya si sulung datang ke rumah untuk menyampaikan suatu kabar yang menyalakan kembali kekhawatiran saya. Ada seorang ibu yang melihat gerak-gerik yang mencurigakan dari seorang laki-laki di sekitar rute pemberangkatan grup anak-anak kami. Laki-laki itu memperlihatkan suatu tindakan yang tidak senonoh dan kerap mengamati anak-anak saat berkumpul di pos pemberangkatan. Kebetulan grup si sulung ini terdiri dari 5 siswi dan 1 siswa. Terang saja para ibunya jadi khawatir. Salah seorang dari kami yang memang melihat langsung gerak gerik laki-laki itu langsung menghubungi polisi. Sabtu malam itu juga para orang tua mengubah rute pemberangkatan khusus untuk grup kami.

Kemarin, Senin pagi, anak-anak satu grup ini berjalan masing-masing menuju pos pertemuan baru yang lebih aman, lebih ramai. Beberapa ibu menemani sampai ke pos pemberangkatan termasuk saya. Salutnya, hal seperti ini akan cepat ditangani semua pihak melalui jalur komunikasi yang telah disusun. Pagi itu, tidak hanya kami yang menemani anak-anak di pos barunya. Ada anggota PTA yang memang bertanggungjawab dalam pendistribusian grup dan rute masing-masing grup untuk wilayah Inarimae, ada polisi yang setia berpatroli, dan tentunya ada bapak kepala sekolah yang menghampiri kami dan meminta maaf untuk ketidakamanan dan ketidaknyaman ini padahal jelas bukan salahnya beliau. Awalnya saya berpikir hal semacam ini hanya akan tembus sampai PTA. Tak disangka, kepala sekolah langsung datang pagi hari di pos kami sambil memastikan anak-anak berangkat dengan aman. Dan hari ini kami mendapat kabar, langsung dari kepala sekolah bahwa pihak polisi sudah menemui laki-laki itu dan menegurnya. Menurut info dari pihak polisi, orang itu sudah menyesali dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Namun kami tetap berhati-hati dan tentu tetap dengan rute baru kami.

Bersambung…

Bazaar di Youchien

Standard

[Bazaar]

Bulan November ini sepertinya bulan bazaar . Setelah bazaar kemarin di jidoukan, hari ini giliran bazaar di TK. Lanjut nanti tanggal 27 di Roketo.

Bazaar ini biasanya sangat dinanti ibu-ibu disini karena di bazaar inilah kami bisa berkumpul sembari mencari berbagai kebutuhan.

Kali ini saya ingin bercerita tentang bazaar hari ini di TK.

Bazaar ini tidak hanya diperuntukkan bagi orang tua siswa, namun terbuka juga untuk umum. Selama bazaar berlangsung, kurang lebih dua jam, anak-anak tetap berada di kelas masing-masing. Jadi bazaar ini tidak melibatkan anak-anak, khusus untuk ajang berbaur dan berbagi para orang tua.

Kapan bazaar ini dilaksanakan?
Di TK Higashi bazaar ini diadakan satu kali dalam satu tahun yaitu di bulan November.

Barang apa saja yang ada di bazaar?
Barangnya beragam. Mulai dari pakaian berbagai ukuran (size bayi-size 140), keperluan sekolah semisal topi, baju olahraga, otesage, dan lainnya, sepatu, mainan, buku, dan keperluan rumah tangga.

Dari mana barang-barang itu berasal?
Barang-barang yang dijual di bazaar ini seluruhnya berasal dari para orang tua. Jadi siapapun yang memiliki barang yang sudah tidak digunakan lagi namun masih layak, atau ada barang baru namun tidak terpakai, bisa dikumpulkan di sekolah. Ini konsep yang luar biasa. Jadi bila ada barang yang jarang digunakan lagi, daripada dibuang begitu saja, bisa dikumpulkan untuk bazaar ini.

Bagaimana kualitas barang-barang tersebut?
Tenang saja, meskipun 90% barang yang ada memang bukan barang baru, tapi kelayakannya masih sangat tinggi. Misal saja mainan, semuanya masih berfungsi dengan baik. Baju-baju pun layak pakai. Dan memang sebelum dijual, barang-barang ini dikemas ulang menjadi menarik dan lebih rapi. Perlengkapan rumah tangga semisal piring, termos kecil, dan lainnya masih dalam kotak kemasannya. Apik banget ya orang sini.

Adakah barang baru di bazaar ini?
Ada. Khusus untuk perlengkapan sekolah semisal otesage dan lainnya biasanya handmade. Jadi sebagian ibu-ibu PTAnya menjait sendiri barang-barang tersebut.
Ada juga pakaian baru. Biasanya ini karena salah ukuran saat membeli. Daripada tidak terpakai untuk jangka waktu lama, mereka kumpulkan di bazaar ini.

Bagaimana range harga dari barang-barang yang dijual?
Beberapa kali mengikuti bazaar, yaitu bazaar di SD, di roketo, di lala garden, bazaar di tk ini yang termurah dari segi harga. Range harganya dari 10-100¥ untuk semua barang bekas pakai. Namun untuk barang handmade harganya berkisar antara 100-500¥. Selain barang-barang tersebut, ada juga beberapa barang yang gratis tinggal memilih saja.

Berapa lama persiapan bazaar ini?
Kepanitiaan bazaar ini sudah dibentuk sejak awal masuk sekolah. Namun panitia tersebut mulai aktif mempersiapkan segala halnya tiga bulan sebelum jadwal pelaksanaan. Jadi dua bulan awal digunakan untuk sharing informasi terkait bazaar ini sekaligus pengumpulan barang-barang dari para orang tua. Satu bulan terakhir digunakan untuk proses pengemasan barang, penetapan harga, dan dekorasi ruangan.

Bagaimana pengelolaan uang hasil penjualan?
Semua keuangan akan menjadi kas PTA.

Bagaimana bila barang-barangnya tidak terjual semua?
Memang biasanya masih bersisa sedikit. Untuk barang-barang sisa ini biasanya diberikan ke tempat penampungan barang untuk disalurkan kepada yang membutuhkan.

Apa yang saya pelajari dari bazaar ini?
1) Belajar apik dengan barang.
Gunakan barang yang kita punya sebaik mungkin dan rawat dengan baik sehingga nilai pakainya tetap terjaga.
2) Berbagilah dengan orang lain.
Bila ada barang yang sudah jarang digunakan, atau ada barang yang sama sekali tidak terpakai, atau pakaian yang tidak muat lagi, daripada menggunung di gudang atau memenuhi lemari, hibahkanlah ke yang lain. Berbagi tidak akan pernah membuat kita rugi.
3) Sederhanakan semuanya sesuai kebutuhan.
Bila kita butuhnya hanya tujuh piring, jangan keluarkan puluhan piring di rak. Bila kita butuhnya beberapa pasang baju, jangan penuhi lemari dengan puluhan baju. Bila ada yang tidak lagi digunakan segera alihtangankan.

Informasi tentang bazaar saya peroleh saat ngobrol ringan dengan ibu-ibu PTA, sisanya hanya pandangan saya saja.

Terakhir ingin menuliskan ini,
Benar yaa tinggal di daerah yang rawan musibah (gempa, letusan gunung, topan, tsunami) mengasah rasa kepedulian yang tinggi ,kesederhanaan hidup, dan tak menilai orang lain dari penampilan luar.

#28/11/10

Belajar Mencintai Al-Quran (2)

Standard

Kita lanjut ya, Kak, obrolan hangat kita. Pagi ini, Ummi mau berbagi sedikit info yang Ummi dapatkan saat Ummi membaca beberapa link mengenai keutamaan mempelajari al-Quran. Sebetulnya, dalam mempelajari ilmu agama terlebih al-Quran kita tidak bisa otodidak atau berguru pada internet. Kita harus menjadi bagian dari majelis ilmu yang langsung dipimpin oleh seorang guru (Ustadz/Ustadzah). Nanti kalau Kakak dan adik-adik sudah menemukan seorang guru dan mempelajari banyak hal tentang Dinul Islam, share ilmunya ke Ummi yaa🙂

Baiklah, untuk sementara kita mencoba memetik ilmu dari beberapa keterangan yang sudah disarikan ini ya. Tentu kita mulai setiap ikhtiyar dengan basmalah dulu, Yuk!

Bismillahirrohmaanirrohiiim

Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Hajjaj bin Minhal dari Syu’bah dari Alqamah bin Martsad dari Sa’ad bin Ubaidah dari Abu Abdirrahman As-Sulami dari Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” [1]

Masih dalam hadits riwayat Al-Bukhari dari Utsman bin Affan, tetapi dalam redaksi yang agak berbeda, disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

            “Sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”  [2]

Dalam dua hadits di atas, terdapat dua amalan yang dapat membuat seorang muslim menjadi yang terbaik di antara saudara-saudaranya sesama muslim lainnya, yaitu belajar Al-Qur`an dan mengajarkan Al-Qur`an. Tentu, baik belajar ataupun mengajar yang dapat membuat seseorang menjadi yang terbaik di sini, tidak bisa lepas dari keutamaan Al-Qur`an itu sendiri.

Maksud dari belajar Al-Qur`an di sini, yaitu mempelajari cara membaca Al-Qur`an. Bukan mempelajari tafsir Al-Qur`an, asbabun nuzulnya, nasikh mansukhnya, balaghahnya, atau ilmu-ilmu lain dalam ulumul Qur`an. Meskipun ilmu-ilmu Al-Qur`an ini juga penting dipelajari, namun hadits ini menyebutkan bahwa mempelajari Al-Qur`an adalah lebih utama. Mempelajari Al-Qur`an adalah belajar membaca Al-Qur`an dengan disertai hukum tajwidnya, agar dapat membaca Al-Qur`an secara tartil dan benar seperti ketika Al-Qur`an diturunkan. Karena Allah dan Rasul-Nya sangat menyukai seorang muslim yang pandai membaca Al-Qur`an. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

 الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ . (متفق عليه)

            “Orang yang pandai membaca Al-Qur`an, dia bersama para malaikat yang mulia dan patuh. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur`an dengan terbata-bata dan berat melafalkannya, maka dia mendapat dua pahala.” (Muttafaq ‘Alaih) [3]

            Dan dalam Al-Qur`an disebutkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membaca Al-Qur`an dengan tartil,

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا . (المزمل : 4)

            “Dan bacalah Al-Qur`an dengan tartil.” (Al-Muzzammil: 4)

            Adapun maksud dari mengajarkan Al-Qur`an, yaitu mengajari orang lain cara membaca Al-Qur`an yang benar berdasarkan hukum tajwid. Sekiranya mengajarkan ilmu-ilmu lain secara umum atau menyampaikan sebagian ilmu yang dimiliki kepada orang lain adalah perbuatan mulia dan mendapatkan pahala dari Allah, tentu mengajarkan Al-Qur`an lebih utama.

***
[1] Shahih Al-Bukhari/Kitab Fadha`il Al-Qur`an/Bab Khairukum Man Ta’allama Al-Qur`an wa ‘Allamah/hadits nomor 5027.

[2] Ibid, 5028.

[3] Shahih Al-Bukhari/Kitab Tafsir Al-Qur`an/Bab ‘Abasa wa Tawalla/4556, dan Shahih Muslim/Kitab Al-Musafirin/Bab Fadhl Al-Mahir fi Al-Qur`an/1329, dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

Kak, Athifa, Haifa, salah satu kesempurnaan iman kita kepada al-Quran adalah senantiasa membacanya dengan sebenar-benar bacaan. Sebagaimana firman Alloh SWT dalam surat Al-Baqoroh ayat 121,

 الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

Oya, bagaimana ya membaca al-Quran secara tartil itu? Ini Ummi salin tulisan Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com).

Berikut beberapa keterangan sahabat tentang makna tartil,

Ali bin Abi Thalib menjelaskan makna tartil dalam ayat,

”Mentajwidkan huruf-hurufnya dengan mengetahui tempat-tempat berhentinya”. (Syarh Mandhumah Al-Jazariyah, hlm. 13)

Ibnu Abbas mengatakan,

بينه تبييناً

Dibaca dengan jelas setiap hurufnya.

Abu Ishaq mengatakan,

والتبيين لا يتم بأن يعجل في القرآة، وإنما يتم التبيين بأن يُبيِّن جميع الحروف ويوفيها حقها من الإشباع

Membaca dengan jelas tidak mungkin bisa dilakukan jika membacanya terburu-buru. Membaca dengan jelas hanya bisa dilakukan jika dia menyebut semua huruf, dan memenuhi cara pembacaan huruf dengan benar. (Lisan al-Arab, 11/265).

Inti tartil dalam membaca adalah membacanya pelan-pelan, jelas setiap hurufnya, tanpa berlebihan. (Kitab al-Adab, as-Syalhub, hlm. 12)

Cara Ibnu Mas’ud Membaca al-Quran

Abu Bakr dan Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah menyampaikan kabar gembira kepada Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضاًّ كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأَهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

Siapa yang ingin membaca al-Quran dengan pelan sebagaimana ketika dia diturunkan, hendaknya dia membacanya sebagaimana cara membacanya Ibnu Mas’ud. (HR. Ahmad 36, dan Ibnu Hibban 7066).

Hadis ini menunjukkan keistimewaan bacaan al-Quran Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Karena bacaannya sama dengan ketika al-Quran di turunkan. Beliau membacanya dengan cara ‘ghaddan’ artinya segar yang belum berubah. Maksudnya suaranya menyentuh (as-Shaut an-Nafidz) dan memenuhi semua hak hurufnya.

Untuk itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendengar bacaan Ibnu Mas’ud, dan bahkan hingga beliau menangis.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bercerita, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruhnya untuk membaca al-Quran,

“Bacakan al-Quran!” Pinta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Ya Rasulullah, apakah akan membacakan al-Quran di hadapan anda padahal al-Quran turun kepada anda?” tanya Ibnu Mas’ud.

“Ya, bacakan.”

Kemudian Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisa, hingga ketika sampai di ayat,

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا

Bagaimanakah jika Aku datangkan saksi untuk setiap umat, Aku datangkan kamu sebagai saksi bagi mereka semua.

Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam minta agar bacaan dihentikan.

Ibnu Mas’ud melihat ke arahnya, ternyata air mata beliau berlinangan. (HR. Bukhari 5050 & Muslim 1905).

Allahu a’lam.

***
Alhamdulillahirobbil’aalamiiin, ini barusan saat Ummi mencari penjelasan tentang bagaimana cara membaca al-Quran secara tartil, Ummi menemukan video “Metode Praktis Membaca al-Quran secara Tartil” yang dipaparkan oleh Ustadz Abu Rabbani. Dipelajari ya Kak, adek, setiap ilmu yang beliau sampaikan. Kakak dan adek juga bisa melihat video beliau yang lainnya, misalnya video “Quantum Reading Quran” atau video “Tahsin Tilawah”. Berikut Ummi salin link video penjelasan beliau mengenai metode praktis membaca al-Quran yang terbagi menjadi empat video.

1) https://www.youtube.com/watch?v=JYXtMX7NEU0

2) https://www.youtube.com/watch?v=4qP9JnvGUhw

3) https://www.youtube.com/watch?v=bvmet0rGEEM

4) https://www.youtube.com/watch?v=gZfMLgGILIk

Sampai sini dulu ya Kak, Adek. Nanti kita sambung lagi bincang-bincangnya seputar apa sih yang menjadi warisan Rosululloh SAW kepada kita semua sebagai umatnya? Juga nanti Ummi salin ayat al-Quran dan hadits yang menjelaskan keutamaan mempelajari dan mengajarkan al-Quran.

Semoga kita semua istiqomah dalam setiap ikhtiyar untuk lebih mengenal al-Quran sehingga terhujam kuat kecintaan kita pada ayat-ayatNya. Dan, semoga kita semua selalu berada dalam petunjukNya, aamiin.

Inarimae,
28 Ramadhan 1436 H

.::——————————–::.

Sumber tulisan,

1. http://minhajussholihin.blogspot.jp/2011/12/keutamaan-mempelajari-dan.html

2. http://www.konsultasisyariah.com/apa-makna-membaca-al-quran-dengan-tartil/

 

Belajar Mencintai Al-Quran (1)

Standard

Bismillaahirrohmaanirrohiiim,

Kak, subuh ini, yuk kita mulai bincang hangat yang semoga bisa memuat hikmah, penguat ikhtiyar kita untuk mendapatkan ridhoNya, aamiin. Ummi mulai dengan mengingat masa-masa pertama kali Kakak berkenalan dengan buku Iqro. Buku luar biasa karya K.H As’ad Humam yang telah digunakan banyak orang untuk mulai belajar membaca al-quran. MasyaAllah ya Kak, mengalir pahalaNya untuk beliau.

Februari 2013, saat kita pulang lebih dulu dari Gyeongsan, Kakak berusia empat tahun kurang tiga bulan. Di kampungnya Emak, Kakak pertama kali masuk madrasah. Di madrasah itu banyak sekali teman sebaya Kakak. Dan rata-rata teman Kakak itu sudah berhasil menamatkan iqro tiga. Sementara Kakak, baru saja Ummi belikan buku iqronya. Eh tapi bukan berarti Ummi belum mengenalkan huruf hijaiyah ke Kakak lho yaa, semasa di Gyeongsan kita kan sering ya belajar huruf hijaiyah dengan mendengarkan lagu-lagu hijaiyah di youtube🙂

Di madrasah itu, Kakak kelihatan senang sekali. Tentu saja karena madrasah buat Kakak adalah tempat bertemu dan bermain dengan teman-teman baru. Teman-teman Kakak ternyata bukan hanya mahir membaca iqro ya, rupanya mereka juga sudah pandai menulis dan berhitung. Bagaimana dengan Kakak? Kakak pandai sekali menggambar. Saat Ustadzahnya meminta semua murid menulis beberapa huruf iqro, Kakak malah asik menggambar sesukanya kemudian dengan semangatnya ikut mengantri menyerahkan hasil gambar Kakak untuk dinilai Ustadzah. Tau nggak Kak, Ustadzahnya sampai bingung mau nilai bagaimana😀

Waktu terus bergulir, kemampuan Kakak membaca buku Iqro baru sampai di beberapa halaman awal Iqro satu. Sampai itu saja, Ummi sudah senang Kak. Tiga bulan kemudian Kakak mendapat adik baru. Horee jadi bertambah ya teman mainnya selain Athifa. Kehadiran adik baru, Haifa, ternyata membuat Ummi agak kerepotan untuk tetap fokus membersamai Kakak ke madrasah sampai akhirnya Kakak libur sebulan. Maaf ya Kak, memang kondisinya lagi agak repot. Tiga bulan kemudian Abi pun pulang setelah menyelesaikan sekolahnya. Alhamdulillah kita berkumpul lagi ya🙂 Dan selanjutnya Alloh SWT tunjukkan tempat baru untuk kita. Namanya Tsukuba, salah satu kota di Provinsi Ibaraki, Jepang. Tempat kita merantau saat ini, Kak.

Di Ninomiya house -tempat kita berteduh selama beberapa bulan di awal kedatangan di Tsukuba- kita bisa akses internet sepuasnya. Sejak saat itulah (Oktober 2013) kita bisa belajar iqro lewat video-video di youtube. Dan sejak saat itu pula Kakak minta Ummi membersamai Kakak belajar iqro dengan media buku Iqro yang kita beli di Panumbangan. Awal-awal, Ummi hanya menemani Kakak belajar seluangnya. Susah ternyata yang namanya konsisten itu Kak. Belum lagi Ummi yang sering kehabisan stok sabar. Padahal keinginan menjadi guru utama dan pertama buat Kakak dan adek-adek begitu menggebu. Giliran dihadapkan pada satu prakteknya saja, Ummi sering merasa kesulitan. Tapi, justeru disitulah Ummi belajar salah satu hal penting, yaitu istiqomah dalam berikhtiyar. Ummi kemudian teringat dengan sebuah hadits,

عن عائشة بنت أبي بكر الصديق –رضي الله عنهما- قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَلَّ )) متفق عليه , و اللفظ لمسلم

Dari ‘Aisyah binti Abi Bakr Ash-shiddiq –radhiallahu anhuma- berkata : Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : “Amalan yang lebih dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim, dengan lafazh Muslim)

Yaa ini tentang konsistensi, soal istiqomah dalam beramal. Jadi, lebih baik sedikit-sedikit tapi rutin daripada banyak tapi tidak diteruskan atau hanya sesekali. Jadi kita sama-sama belajar mempraktekan kandungan hadits di atas ya Kak. Kita belajar membaca buku Iqro setiap hari. Baik itu sehalaman atau hanya satu baris, yang penting setiap hari sehingga menjadi kebiasaan dan kebutuhan. Dan alhamdulillah, hari ini Kakak sudah sampai di pertengahan Iqro lima. Barokallahu fiiki, zaadakillahu ‘ilman wa hirsho (semoga Alloh SWT menambahkan ilmu dan semangat untuk Kakak).

Oya Kak, maaf kalau Ummi tidak sama dengan kebanyakan ibu yang mengajarkan calistung lebih dulu ke anak-anaknya. Ada beberapa alasan kenapa Ummi lebih mengarahkan Kakak belajar membaca Al-quran terlebih dahulu. Ummi juga tidak fokus pada hafalan Al-quran dulu. Tidak fokus bukan berarti kita tidak belajar menghafal ya Kak. Hanya saja porsinya yang berbeda. Alasan utama dan pertama tentu karena Al-quran adalah petunjuk hidup untuk kita semua menuju surgaNya. Ummi dan Abi memang selalu berdoa dan berikhtiyar agar Kakak selesai Iqro enam dan bisa membaca Al-quran saat Kakak masuk Sekolah Dasar, nanti. Kami agak sedikit khawatir, pelajaran dan tugas-tugas dari sekolah akan menyita waktu Kakak sehingga belajar membaca Al-quran menjadi kegiatan yang membebani di waktu sisa. Terlebih saat ini kita sedang merantau di negri orang, dimana tidak ada pelajaran agama Islam di Sekolah atau tempat belajar lainnya selain di rumah. Eh tapi alhamdulillah ya Kak, enam bulan yang lalu, Om dan Tante yang sedang bersekolah di sini, berkenan meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk menghidupkan TPA Himawari, tempat kita belajar islam meskipun hanya sepekan sekali. Semoga kebaikan dan pahalaNya tercurah untuk beliau-beliau, aamiin.

Ketika Kakak sudah bisa membaca Al-quran maka akan senang sekali saat bisa membaca ayat-ayat yang sebelumnya Kakak hafal. Beberapa hari ini, Kakak girang sekali saat menemukan beberapa ayat di dalam lembaran iqro lima. Kakak bilang, “Eh, ini kan al-quran yang Kakak hafal ya. Kakak sudah bisa baca al-quran, Ummi..” Kebahagiaan itu semoga selalu membersamai Kakak di setiap waktu. Yaa, bahagia setiap berinteraksi dengan ayat-ayatNya. Hal ini pula Kak yang menjadi alasan kami mengarahkan Kakak belajar membaca al-quran. Harapan kami, Kakak bisa semakin bersemangat saat belajar bacaan sholat, belajar menghafal ayat-ayatNya. Jadi, tak hanya mengandalkan kemampuan pendengaran tapi sekaligus dengan metode visual, membacanya langsung. Semoga Alloh SWT ridhoi setiap ikhtiyar kita ya Kak. Aamiin. Oya Kak, semangatnya Kakak setiap hari belajar membaca iqro sudah menular ke Athifa dan Haifa. Sekarang Athifa sudah meminta Ummi menemaninya belajar Iqro satu, sementara Haifa dengan semangat memilih buku dan meminta Ummi membacakannya setelah Kakak dan Athifa selesai membaca Iqro. Alhamdulillahirobbil’aalamiiin.

Bincang-bincangnya sampai di sini dulu ya Kak. Nanti kita sambung lagi dengan beberapa ayat al-quran dan hadits yang menjelaskan keutamaan belajar dan mengajarkan Al-quran. Semoga dengannya, bertambah keimanan kita pada Al-quran dan selalu berada dalam petunjukNya, aamiin.

Melukis Kisah Kehadiran Haifa

Standard

Tidak seekspresif sebelumnya, mendapati dua buah garis dalam testpack kali ini membuat saya menghela napas panjang. Senyum tetap mengembang, tapi pikiran jauh melayang. Sepenuhnya sadar, perjuangan kembali dimulai. Ini bukan kehamilan pertama saya. Justeru ini kehamilan yang ketiga. Bahagia? Jelas, sangat bahagia. Namun, kehamilan ini menjadi tantangan tersendiri karena beberapa kondisi yang menuntut pembelajaran dan perjuangan lebih besar lagi.

Ya, ini berarti kehamilan kedua saya di perantauan. Saya pun kembali berusaha berdamai dengan keadaan. Menerima kenyataan bahwa tak ada ibu, bapak, saudara dan kerabat yang mendampingi. Tapi, tak lantas menjadikan hal tersebut sebagai alasan berkeluh kesah dan mengasihani diri sendiri. Pengalaman hamil dan melahirkan anak kedua sebelumnya, kami lewati di perantauan yang sama, juga tanpa keluarga yang datang menemani. Bersyukur, semuanya lancar dan dimudahkanNya. Terang saja, pengalaman tersebut memupuk semangat dan keyakinan bahwa kali ini pun saya bisa melewati semuanya dengan baik. Secercah harapan memang selalu menyertai setiap perjuangan. Read the rest of this entry

Kembali Merantau, Melukis Kisah di Negeri Sakura

Standard

Tsukuba, Jepang. Bumi perantauan kami yang ke dua setelah empat tahun di Gyeongsan, Korea Selatan. Selasa, 1 Oktober 2013, langkah kami pun pertama kali terukir di sini.

Dan, tiga bulan telah berlalu. Kejutan demi kejutan kami dapati. Tak jarang spontanitas hadir membandingkan dua tempat perantauan ini. Namun justeru dengannya, kami sedikit tahu bahwa benar adanya, setiap tempat selalu mencipta berbagai kisahnya sendiri.

Rumah
Tak pernah menduga sebelumnya, kami bisa merasakan tinggal di ruangan yang cukup luas di salah satu kamar Ninomiya House. Di tanah perantauan sebelumnya, alhamdulillah kami sangat menikmati tinggal di one room. Kamar yang multifungsi. Dan, masyaAllah, kini, Allah SWT mengijinkan kami tinggal beberapa waktu di kamar yang lebih luas dari two room. Fabiayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdziban. Read the rest of this entry